Elephants

CORE Soroti Tantangan Proyek Metanol BEC, Ada Apa?

July 31, 2026

AKURAT.CO Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak menilai proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol yang dikembangkan PT Bumi Etam Chemical (BEC) berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan impor metanol nasional.

Namun, keberhasilan proyek tersebut tetap bergantung pada kepastian pembiayaan dan keekonomian investasi.

Ishak mengatakan pemerintah perlu mengambil pelajaran dari proyek hilirisasi batu bara sebelumnya, yakni proyek dimethyl ether (DME) Tanjung Enim milik PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), yang sempat mengalami penundaan setelah ditinggalkan mitra strategisnya.

Baca Juga: Purbaya: Coretax Buat Pengawasan Pajak Lebih Terintegrasi

"Sehingga pemerintah harus mencari mitra China pengganti selama bertahun-tahun sebelum akhirnya groundbreaking ulang dilakukan lagi pada April 2026.," kata Ishak kepada Akurat.co, Jumat (31/7/2026).

Ishak menjelaskan, tantangan utama proyek gasifikasi batu bara bukan hanya aspek teknologi, melainkan juga kepastian akses pembiayaan jangka panjang dan daya saing produk hilir yang dihasilkan.

Dirinya melanjut, harga produk hilir masih harus mampu bersaing dengan komoditas substitusinya sehingga analisis keekonomian menjadi faktor yang sangat menentukan sebelum proyek masuk tahap investasi penuh.

"Paling menentukan adalah akses pembiayaan/investor jangka panjang, nilai keekonomian produk hilir yg masih sulit bersaing dgn harga LPG saat ini, sehingga aspek keekonomian masih perlu kajian mendalam meski potensi investasinya besar," ujarnya.

Meski demikian, Ishak menilai proyek metanol yang dikembangkan BEC memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan proyek DME. Salah satunya adalah kepastian pasar karena produk metanol memiliki permintaan domestik yang jelas, terutama untuk mendukung implementasi mandatori biodiesel B50.

Dengan adanya kebutuhan metanol yang meningkat seiring penerapan B50, risiko pemasaran (offtake) dinilai lebih rendah dibandingkan proyek DME yang harus bersaing langsung dengan LPG bersubsidi.

"Salah satunya pasarnya sudah pasti dan terukur karena langsung terkait kebutuhan mandatori B50 sehingga risiko offtake lebih rendah dibanding DME yang harus bersaing head to head dengan harga LPG bersubsidi.," tutur Ishak.

Baca Juga: B50 Berlaku Bertahap, Industri Diberi Waktu Habiskan Stok B40

Selain itu, BEC juga telah memiliki mitra teknologi yang definitif, berbeda dengan proyek DME yang hingga kini masih mencari mitra teknologi baru setelah hengkangnya Air Products.

Meski begitu, Ishak menegaskan kedua proyek tetap menghadapi tantangan serupa, yakni kebutuhan investasi bernilai besar yang mensyaratkan keputusan investasi final (final investment decision/FID) serta skema pendanaan yang matang.

"Namun keduanya sama-sama menghadapi tantangan yg krusial yaitu investasi jumbo yang membutuhkan keputusan investasi final dan skema pendanaan matang sebelum bisa dianggap benar-benar solid. Juga memastikan investor bisa komitmen hingga berproduksi,” pungkasnya.