Bertanding di Olympic Sports Center Gymnasium, Changzhou, China, Kamis (23/7) setempat, duet ganda putra unggulan kedua China Terbuka, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, tampil impresif menumbangkan wakil Jepang, Takumi Nomura/Yuichi Shimogami, lewat skor straight set 21-19 dan 21-11.
Fajar mengungkapkan bahwa kunci kebangkitan mereka terletak pada kejelian mengubah taktik di gim kedua saat berpindah posisi arena yang diterpa angin cukup kencang.
"Kalau tentang pertandingan tadi, kondisi lapangan satu sangat berbeda dengan lapangan dua kemarin. Arah angin di sini benar-benar kencang," kata Fajar usai laga.
"Di gim pertama kami menang angin, strateginya bagaimana kami harus menurunkan bola tapi banyak terlalu hati-hati jadi cukup sulit juga untuk mengambil keunggulan.
"Gim kedua kami kalah angin, kami mencoba mengubah pola dengan bermain panjang-panjang dan ternyata bisa nyaman mengontrol permainan."
Sementara itu, Fikri menyoroti momen krusial saat mereka mengunci gim pertama lewat pertarungan reli panjang dengan coba membaca pergerakan lawan dan arah bola.
"Di poin terakhir gim pertama itu saya coba fokus saja ketika reli panjang, membaca pergerakan dan membaca arah bola sehingga bisa mengeksekusi sentuhan dengan baik," sahut Fikri.
Di babak perempat final esok hari, Fajar/Fikri tinggal menunggu pemenang antara Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang) atau Kang Min-hyuk/Ki Dong-ju (Korea).
"Kedua pasangan ini punya permainan yang sangat bagus, tapi siapa pun lawannya kami mau fokus mempersiapkan diri terutama dari kondisi fokusnya yang saya merasa belum terlalu in. Semoga besok semakin membaik," harap Fajar.
Sayangnya, sukses tersebut gagal diikuti oleh pasangan profesional Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani serta ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja.
Menempati posisi unggulan keenam, Sabar/Reza dipaksa bertekuk lutut di hadapan ganda putra Inggris, Ben Lane/Sean Vendy, dua gim langsung dengan skor 18-21 dan 12-21.
Pasangan ganda putra bulutangkis Indonesia, Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani, saat menghadapi wakil Inggris, Ben Lane/Sean Vendy, di babak 16 besar China Terbuka 2026 di Changzhou, China, Kamis (23/7/2026). PBSI.
Kekalahan ini kian memperpanjang rekor buruk Sabar/Reza yang belum pernah sekalipun menang dalam lima pertemuan terakhir kontra Lane/Vendy.
Sabar mengakui sang lawan tampil jauh lebih rapi dan dominan mengendalikan tempo permainan.
"Hari ini mereka jauh lebih safe mainnya, jauh lebih memegang kendali pertandingan. Mereka juga tadi depannya lebih cepat menurunkan bola daripada kami," kata Sabar.
"Dengan kondisi lapangan yang berangin, mereka bagus dalam mengontrol laju shuttlecock saat menang angin atau kalah angin. Sangat penasaran karena belum bisa menang dari mereka di lima pertemuan ini. Kami akan coba lagi ke depannya."
Sementara Reza juga turut mengamini pernyataan sang partner. Ia mengaku belum menemukan pola main yang cocok untuk melawan pasangan asal Inggris tersebut.
"Mereka itu mainnya safe dan saya merasa berbeda dari pemain-pemain yang lainnya. Tapi kami nanti akan coba terus," timpal Reza.
Hasil pahit juga menimpa sektor ganda campuran. Pasangan Rehan/Gloria harus mengakui keunggulan ganda campuran unggulan ketiga asal Denmark, Mathias Christiansen/Alexandra Boje, usai takluk dua gim langsung dengan skor 8-21 dan 14-21.
Pasangan ganda campuran bulutangkis Indonesia, Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja, saat menghadapi wakil Denmark, Mathias Christiansen/Alexandra Boje, di babak 16 besar China Terbuka 2026 di Changzhou, China, Kamis (23/7/2026). PBSI.
Rehan mengakui ketangguhan lawan yang sedang berada di puncak performa, sementara ia dan Gloria justru kerap terburu-buru dan melakukan kesalahan sendiri di momen krusial.
"Lawan sedang dalam performa yang sangat baik akhir-akhir ini, terasa sangat percaya diri dengan semua pola yang mereka mainkan. Sementara kami kurang tenang, grasa-grusu," kata Rehan.
"Pertengahan gim kedua kami coba mengubah strategi, kami tahu kami punya kelebihan dari servis jadi itu yang dimanfaatkan. Tapi setelah berhasil beberapa poin kembali kehilangan momentum karena beberapa bola enak malah mati sendiri, bola tanggung malah out sendiri."
Sementara itu, Gloria menyoroti kendala non-teknis berupa adaptasi laju angin yang gagal mereka antisipasi sejak awal laga.
"Hari ini apa yang kami pikirkan dan ekspektasikan malah berbeda kenyataannya di lapangan terutama mengenai kondisi angin di lapangan. Faktor non-teknis ini yang harus diperbaiki di Taipei Open minggu depan," kata Gloria mengevaluasi.