Tokyo (ANTARA) - Rusia dan China secara resmi menolak permintaan Amerika Serikat untuk menjatuhkan sanksi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) terhadap tujuh kapal yang dituduh mengekspor bijih mineral dari Korea Utara, sehingga secara efektif menggagalkan upaya tersebut.
Seorang sumber DK PBB, sebagaimana dilaporkan Kyodo pada Sabtu, mengatakan bahwa DK PBB telah melarang ekspor batu bara dan bijih besi dari Korea Utara sebagai bagian dari resolusi yang dijatuhkan terhadap Pyongyang terkait program pengembangan senjata nuklir dan rudal balistik.
Komite DK PBB bertugas memantau sanksi terhadap Korea Utara bekerja berdasarkan konsensus, tetapi jika ada keberatan dari satu negara saja di antara 15 anggota DK PBB dapat mencegah pembaruan daftar pihak yang melanggar sanksi.
China dan Rusia, yang merupakan anggota tetap DK PBB, secara tegas menentang penerapan sanksi baru terhadap Pyongyang dan lebih mendukung pendekatan dialog melalui pelonggaran langkah-langkah internasional. Pada 2022, usulan AS untuk memperketat sanksi terhadap Korea Utara diveto oleh kedua negara tersebut.
Washington menuduh kapal-kapal yang terdaftar di negara ketiga itu terlibat dalam ekspor batu bara dan bijih besi Korea Utara ke China.
Seorang juru bicara AS mengatakan sebelum pengajuan usulan bahwa penjualan tersebut membiayai program senjata pemusnah massal Pyongyang hingga mencapai ratusan juta dolar AS.
Amerika Serikat pertama kali mengusulkan penambahan tujuh kapal tersebut ke dalam daftar hitam kapal pada Desember 2025. Jika disetujui, kapal-kapal tersebut akan dicabut dari daftar registrasi dan dilarang memasuki pelabuhan di seluruh dunia.
Namun, menurut sumber DK PBB tersebut, China dan Rusia saat itu menangguhkan permintaan tersebut dan secara resmi menyatakan keberatan pada Jumat, ketika usulan itu menghadapi batas waktu untuk dipertimbangkan.
Sementara itu, usulan lain yang diajukan pada Juli 2026 untuk memasukkan tujuh kapal berbeda ke daftar hitam karena dituduh mengangkut batu bara dan bijih besi dari Korea Utara masih dalam pembahasan DK PBB.
Namun, China dan Rusia juga menangguhkan usulan tersebut secara terpisah, sehingga pengesahannya masih belum dapat dipastikan, menurut sumber tersebut.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Korea Selatan soroti Korea Utara perkuat perbatasan, harap perundingan
Baca juga: Korut kecam latihan Jepang-AS-Korsel, ancam tindakan balasan
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.