Elephants

China ancam batalkan pertemuan Xi-Trump jika AS jual senjata ke Taiwan

September 12, 2026

China ancam batalkan pertemuan Xi-Trump jika AS jual senjata ke Taiwan

Sabtu, 12 September 2026 17:17 WIB

Image Print

Arsip - Presiden China Xi Jinping berbincang bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat melakukan pertemuan pribadi di Zhongnanhai, Beijing, ibu kota China, Jumat (15/5/2026). ANTARA/HO-Kementerian Luar Negeri China/aa.

Tokyo (ANTARA) - China telah memberitahu Amerika Serikat bahwa mereka berencana membatalkan pertemuan antara pemimpin kedua negara yang dijadwalkan akhir bulan ini jika Washington menyetujui penjualan senjata baru ke Taiwan sebelum pertemuan tersebut.

Sejumlah sumber yang mengetahui hubungan bilateral tersebut mengatakan pada Sabtu, bahwa China kembali menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan “garis merah” dalam hubungan bilateral.

Presiden AS Donald Trump, yang tampaknya ingin menunjukkan sejumlah pencapaian diplomatik menjelang pemilihan sela kongres pada November, sangat mementingkan terlaksananya pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping.

China mengklaim Taiwan sebagai pulau demokratis dengan pemerintahan sendiri dan merupakan bagian dari wilayahnya. China juga tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menyatukannya kembali.

Ketika Xi bertemu Trump di Beijing pada pertengahan Mei, dia mengatakan kepada presiden AS bahwa Taiwan merupakan “isu terpenting” dalam hubungan kedua negara. Xi juga memperingatkan potensi konflik jika isu tersebut tidak ditangani dengan baik.

Saat itu, Trump mengatakan dalam wawancara televisi bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat menjadi alat tawar-menawar yang sangat baik dalam hubungannya dengan China. Pernyataan tersebut menimbulkan keraguan mengenai komitmen keamanan jangka panjang Washington terhadap para sekutunya di Asia.

Pada Desember tahun lalu, pemerintahan Trump mengumumkan paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp193 triliun) kepada Taiwan, yang merupakan paket terbesar yang pernah ada. Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari China.

Trump mengatakan akan menjamu Xi dan istrinya di Gedung Putih pada 24 September serta mengadakan jamuan kenegaraan untuk mereka. Namun, pemerintah China belum mengumumkan secara resmi rencana kunjungan Xi ke Amerika Serikat.

Perang AS terhadap Iran juga kemungkinan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut, mengingat China merupakan mitra ekonomi utama Teheran.

Ketika perang yang dimulai Trump bersama Israel pada akhir Februari terus berlanjut tanpa tanda-tanda segera berakhir, pemerintahannya telah mendesak China untuk tidak melakukan kegiatan bisnis dengan Iran.

Namun, salah satu sumber mengatakan, "China telah menunjukkan sikap kooperatif dan tidak menghambat dialog dengan Amerika Serikat."

Adapun Departemen Keuangan dan Departemen Perdagangan AS memimpin negosiasi Washington dengan Beijing. Sejumlah isu ekonomi utama diperkirakan akan dibahas oleh kedua presiden, termasuk kesepakatan yang diharapkan dapat menurunkan tarif terhadap barang senilai 30 miliar dolar AS (Rp528 triliun) dari masing-masing pihak.

Kerangka dialog mengenai keamanan kecerdasan buatan (AI) juga kemungkinan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut, menurut sumber-sumber tersebut.

Sumber: Kyodo

Pewarta : Kuntum Khaira Riswan
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026