CEO DBS Tan Su Shan menyoroti kekhawatiran soal dampak akal imitasi (AI) terhadap ketimpangan ekonomi. Ia menyampaikan, perkembangan AI berpotensi memperlebar kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin jika tidak diimbangi dengan upaya membantu masyarakat memanfaatkan teknologi tersebut.
Su Shan mengatakan, kemajuan AI telah membuka akses pengetahuan yang semakin luas bagi masyarakat. Namun, kemudahan akses ini juga membawa risiko ketimpangan baru, terutama antara mereka yang mampu menggunakan AI secara optimal dan yang tertinggal.
"Pengetahuan berbentuk huruf 'K'. Ini juga membawa ketimpangan yang semakin lebar dengan pola serupa," kata Su Shan di DBS Asia Future Forward Conference di Singapura, Senin (12/10).
Kemudian muncul kekhawatiran bahwa AI mengubah lanskap pekerjaan. "Dunia akan mengalami kondisi di mana yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin. Mereka yang mampu memanfaatkan AI dengan baik akan meraih kesuksesan," Su Shan menambahkan.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu paradoks perkembangan AI. Di satu sisi, teknologi ini memungkinkan lebih banyak orang mengakses pengetahuan. Di sisi lain, manfaatnya berpotensi terkonsentrasi pada kelompok yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Oleh karena itu, Su Shan menilai bahwa salah satu tantangan penting dalam perkembangan AI yakni memastikan masyarakat yang tertinggal tetap memiliki kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup.
Ia mempertanyakan bagaimana masyarakat yang belum mampu memanfaatkan AI dapat dibantu menggunakan perangkat untuk keluar dari kemiskinan dan naik ke kelas menengah.
Menurut dia, upaya tersebut menjadi penting agar manfaat perkembangan AI tidak hanya dinikmati oleh kelompok yang sudah memiliki kemampuan dan akses untuk menggunakannya.
Di sisi lain, Su Shan juga menyoroti percepatan perkembangan teknologi yang membuat perusahaan dan masyarakat harus terus beradaptasi. Ia mengatakan, peluncuran model AI baru kini semakin sering terjadi sehingga organisasi perlu menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko siber dan kebutuhan untuk mempelajari teknologi baru.
Dalam paparannya, ia juga menekankan bahwa perusahaan tidak cukup hanya menambahkan AI ke dalam proses bisnis. Perusahaan perlu memikirkan ulang alur kerja dan proses operasional agar teknologi tersebut dapat menghasilkan manfaat yang lebih besar.
"Sekadar menerapkan AI saja tidak cukup. Kami menyebutnya AI lipstick. Pendekatan seperti ini tidak akan berhasil," kata Su Shan.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan melalui tata kelola AI, kebijakan, prosedur, dan pengawasan yang memadai. Menurut dia, agen AI perlu beroperasi dengan kendali dan tata kelola yang jelas agar tidak bertindak tanpa batasan.
Su Shan menegaskan, kerja sama lintas industri serta penguatan tata kelola dan regulasi diperlukan untuk memastikan AI digunakan dengan cara yang tepat.
Dengan demikian, tantangan perkembangan AI bukan hanya mengenai seberapa cepat teknologi tersebut berkembang, melainkan juga bagaimana manusia memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas tanpa memperburuk ketimpangan sosial.
Pendiri Microsoft Bill Gates dan yayasannya Gates Foundation pun berencana menghabiskan setidaknya US$ 1 miliar dalam dua tahun ke depan untuk memperluas akses terhadap AI.
Dana tersebut merupakan bagian dari rencana pengeluaran yayasan sebesar US$ 9 miliar per tahun. Dana US$ 1 miliar itu akan diberikan kepada mitra yang bekerja di bidang pendidikan, perawatan kesehatan, dan pertanian.
Yayasan Gates juga bertujuan membantu dalam membangun fondasi data yang menjadi dasar AI. Salah satunya dengan memastikan model bahasa besar dapat berfungsi dalam setiap bahasa yang digunakan masyarakat
Bill Gates berharap, dengan begitu, AI dapat membantu dalam mempersempit kesenjangan antara kelompok terkaya dan termiskin, bukan justru memperlebar kesenjangan tersebut.
Salah satu orang terkaya di dunia itu menilai, manfaat tersebut bergantung pada bagaimana teknologi AI dikelola dan seberapa merata akses terhadapnya. Rencana pengeluaran US$ 1 miliar ini menjadi bagian dari upaya yayasan untuk memastikan AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
DBS Kumpulkan Bos Intel hingga Broadcom, Bahas Peluang Bisnis AI
DBS Bank mempertemukan sejumlah pemimpin global di bidang teknologi, bisnis, dan investasi dalam konferensi perdana DBS Asia Future Forward Conference di Singapura pada hari ini (12/10). Forum ini membahas peluang ekonomi akal imitasi, mulai dari pengembangan infrastruktur, perubahan model bisnis, hingga arah investasi di era AI.
Konferensi yang diperkirakan dihadiri sekitar 700 nasabah korporasi dan wealth management, termasuk pemimpin bisnis, pengusaha, dan investor itu, menjadikan AI sebagai fokus utama pembahasan. Teknologi ini dinilai tengah mengubah industri, model bisnis, dunia kerja, serta pola penciptaan nilai dan arus modal.
Salah satu agenda utama yakni diskusi mengenai sumber pertumbuhan nilai ekonomi AI berikutnya. CEO Intel Lip-Bu Tan dan Presiden sekaligus CEO Broadcom Hock Tan akan membahas peluang penciptaan nilai AI bersama CEO DBS Tan Su Shan.
Diskusi itu akan mengangkat pertanyaan mengenai dari mana triliunan dolar nilai ekonomi AI berikutnya akan berasal. Agenda ini menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai berbagai lapisan ekonomi AI, mulai dari platform, semikonduktor, dan infrastruktur fisik hingga penerapan teknologi di perusahaan serta sumber pendanaan untuk pengembangannya.
Selain sektor teknologi, konferensi itu akan membahas perubahan arus modal pada era AI. Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Patria Sjahrir dijadwalkan bergabung dengan CEO Franklin Templeton Jenny Johnson, Senior Managing Partner Granite Asia Jenny Lee, serta Presiden dan CEO Institute of International Finance Timothy Adams.
Diskusi itu akan membahas bagaimana arus modal berubah seiring perkembangan AI. Sesi ini dimoderatori oleh Han Kwee Juan, Group Head of Institutional Banking DBS.
Forum itu juga akan membahas penerapan AI di perusahaan dan dampaknya terhadap dunia kerja. CEO TikTok Shou Chew dijadwalkan berdiskusi dengan Shee Tse Koon, Group Head of Consumer Banking and Wealth Management DBS, mengenai cara membuka potensi manusia di era AI.
Sementara itu, CEO sekaligus pendiri TNE.ai Richard Tong; CEO dan co-founder Adaption Sara Hooker; serta President of Global Business MiniMax Linda Sheng akan membahas faktor yang menentukan kepemimpinan AI. Sesi ini akan dimoderatori oleh Derrick Goh, Group Chief Operating Officer DBS.
Agenda lain menyoroti perkembangan AI yang terintegrasi dengan perangkat fisik. Salah satu pendiri Sharpa, Yifan David Li dijadwalkan mendemonstrasikan potensi AI yang bergerak melampaui perangkat lunak melalui robotika dan mesin cerdas. Selain itu, Chairman OpenExO Salim Ismail akan membahas bagaimana AI dapat mengubah struktur dan cara kerja perusahaan.