7 Kesalahan MPASI Ini Acap Dilakukan Orang Tua, Banyak Kegocek Medsos
CNN Indonesia
Minggu, 09 Agu 2026 06:15 WIB
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --
Memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) merupakan salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang bayi. Pada fase ini, masih banyak kesalahan MPASI yang sering dilakukan orang tua tanpa disadari karena terlalu mengikuti tren di media sosial.
Setiap bayi memiliki kesiapan, kemampuan, dan ritme makan yang berbeda. Saat mulai mengenalkan MPASI pada anak, sebaiknya bangun pendekatan yang mendorong pengalaman makan positif, aman, serta sesuai dengan tahap perkembangan Si Kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari berbagai sumber, berikut beberapa kesalahan MPASI yang sering dilakukan orang tua yang sebaiknya dihindari.
1. Menyamakan pola makan bayi dengan orang dewasa
Tidak sedikit orang tua yang menganggap bayi dapat mengikuti pola makan keluarga, baik dari segi jadwal, jenis makanan, maupun porsinya. Padahal, kebutuhan gizi dan kemampuan makan bayi sangat berbeda dengan orang dewasa.
Frekuensi makan, tekstur makanan, hingga porsi MPASI harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan bayi. Mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan jauh lebih tepat dibanding meniru kebiasaan makan orang dewasa.
Pilihan Redaksi
- Ibu-ibu Terinspirasi MPASI dari Menu Haaland, Ini Wanti-wanti Dokter
- 6 Manfaat ASI untuk Bayi yang Tak Bisa Digantikan Susu Formula
- 7 Kesalahan Menyimpan ASI Perah yang Perlu Dihindari
2. Terlalu fokus pada tampilan makanan
Media sosial sering menampilkan menu MPASI dengan penyajian sangat menarik. Meskipun tidak ada salahnya membuat makanan terlihat menggugah selera, tampilan bukanlah faktor utama pada awal MPASI.
Hal terpenting, yakni memperkenalkan berbagai rasa, tekstur, dan bahan makanan secara bertahap. Terlalu mengejar tampilan sempurna justru dapat menambah beban dan membuat orang tua merasa harus selalu menyajikan menu rumit.
3. Waktu makan selalu disertai hiburan
Sebagian orang tua membiasakan bayi makan sambil menonton video, mendengarkan lagu, atau terus-menerus diajak bermain agar makanan cepat habis.
Padahal, kebiasaan tersebut dapat membuat bayi bergantung pada rangsangan dari luar saat makan. Idealnya, waktu makan menjadi kesempatan bagi bayi untuk mengenal makanan, belajar mengunyah, serta memahami rasa lapar dan kenyang tanpa gangguan berlebihan.
4. Terlalu sering mengubah cara pemberian MPASI
Mudahnya memperoleh informasi di internet membuat sebagian orang tua terus mencoba metode baru setiap kali menemukan tips terkini. Akibatnya, pola pemberian MPASI menjadi tidak konsisten.
Padahal, bayi membutuhkan rutinitas yang stabil agar lebih mudah beradaptasi. Konsistensi dalam memberikan makanan sesuai kebutuhan bayi jauh lebih penting dibanding terus mengejar tren yang belum tentu sesuai.
5. Terlalu fokus pada jumlah makanan yang dihabiskan
Banyak orang tua mengukur keberhasilan MPASI dari seberapa banyak makanan yang berhasil dihabiskan bayi. Bahkan, tidak jarang muncul kekhawatiran jika bayi makan lebih sedikit dibanding anak seusianya.
Padahal tujuan utama fase awal MPASI, yaitu mengenalkan makanan dan membangun pengalaman makan yang positif. Orang tua sebaiknya memperhatikan proses belajar makan, bukan hanya mengejar porsi yang habis.
6. Mengabaikan sinyal dari bayi
Bayi sebenarnya mampu berkomunikasi melalui bahasa tubuh, seperti menoleh, menutup mulut, memperlambat ritme makan, atau menunjukkan ketertarikan terhadap makanan tertentu.
Mengabaikan sinyal tersebut dan tetap memaksa bayi makan dapat membuat waktu makan menjadi pengalaman kurang menyenangkan. Sebaliknya, merespons isyarat bayi akan membantu membangun hubungan makan yang sehat sejak dini.
7. Berusaha membuat MPASI selalu sempurna
Keinginan agar semua berjalan sempurna sering menjadi sumber stres bagi orang tua. Mulai dari jadwal makan, menu, hingga jumlah makanan yang dikonsumsi bayi, semuanya ingin sesuai rencana.
Padahal, proses MPASI merupakan perjalanan belajar yang penuh percobaan. Ada kalanya bayi menolak makanan, mengotori meja makan, atau hanya mencicipi sedikit.
Semua itu merupakan bagian normal dari proses mengenal makanan. Dalam pengasuhan, sikap yang fleksibel dan realistis jauh lebih bermanfaat dibanding mengejar kesempurnaan.
Pada akhirnya, kesalahan MPASI yang sering dilakukan orang tua umumnya bukan disebabkan kurangnya kasih sayang, melainkan karena harapan yang terlalu tinggi, tekanan dari lingkungan, atau informasi yang kurang tepat.
(gas/rti)