Jakarta (ANTARA) - Mengatur keuangan rumah tangga dengan penghasilan Rp10 juta per bulan sebenarnya bukan perkara bisa atau tidak bisa. Tantangan utamanya adalah bagaimana membagi penghasilan tersebut sesuai kebutuhan, tanpa membuat pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.
Setiap keluarga tentu memiliki kondisi berbeda. Jumlah anggota keluarga, biaya tempat tinggal, transportasi, cicilan, hingga kebutuhan anak bisa membuat anggaran satu rumah tangga berbeda dengan rumah tangga lainnya.
Karena itu, tidak ada satu rumus yang wajib diterapkan semua keluarga. Namun, membuat anggaran sejak awal bulan bisa membantu mengetahui ke mana saja uang akan digunakan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya pencatatan penghasilan dan pengeluaran dalam pengelolaan keuangan keluarga. Dengan mencatat arus uang, keluarga dapat melihat kebutuhan yang harus diprioritaskan sekaligus mengetahui pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dikurangi.
1. Hitung penghasilan yang benar-benar diterima
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menggunakan angka penghasilan bersih atau uang yang benar-benar masuk ke rekening setiap bulan.
Jika gaji yang diterima Rp10 juta setelah pajak dan potongan lainnya, maka angka tersebut yang digunakan sebagai dasar membuat anggaran. Jangan menggunakan angka gaji sebelum potongan karena bisa membuat perhitungan kebutuhan menjadi terlalu longgar.
Setelah mengetahui jumlahnya, catat pula pemasukan lain jika memang ada, seperti pendapatan dari pekerjaan sampingan atau usaha.
2. Pisahkan kebutuhan dan keinginan
Salah satu kesalahan yang sering membuat gaji cepat habis adalah mencampurkan kebutuhan dengan keinginan.
Kebutuhan mencakup pengeluaran yang harus dibayar, seperti makanan, listrik, air, transportasi, tempat tinggal, biaya pendidikan, hingga cicilan. Sementara itu, keinginan bisa berupa makan di restoran, belanja barang yang belum diperlukan, hiburan, atau aktivitas rekreasi.
OJK juga membedakan kebutuhan dan keinginan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Kebutuhan berkaitan dengan hal-hal yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas, sedangkan keinginan lebih berkaitan dengan kesenangan atau selera.
Baca juga: Praktisi asuransi ungkap strategi atur keuangan jelang lebaran
3. Sisihkan tabungan di awal, bukan dari sisa
Menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan terdengar sederhana, tetapi sering kali justru tidak berhasil karena uang sudah terlanjur digunakan.
Sebagai gantinya, tabungan atau dana darurat dapat langsung dipisahkan ketika gaji diterima. OJK juga menganjurkan agar alokasi untuk tabungan atau investasi diperhatikan sejak awal dalam pengelolaan anggaran keluarga.
Misalnya, dari gaji Rp10 juta, langsung pisahkan Rp1 juta hingga Rp2 juta sesuai kemampuan. Setelah itu, gunakan uang yang tersisa untuk membiayai kebutuhan selama sebulan.
4. Buat batas belanja mingguan
Anggaran bulanan terkadang terasa terlalu besar sehingga uang lebih mudah terpakai di awal bulan. Salah satu cara sederhana mengatasinya adalah membagi anggaran kebutuhan sehari-hari menjadi batas mingguan.
Misalnya, setelah kebutuhan tetap seperti listrik, tempat tinggal dan cicilan dibayarkan, tentukan berapa dana yang boleh digunakan untuk belanja dapur, transportasi dan kebutuhan harian selama satu minggu.
Cara ini membuat pengeluaran lebih mudah dipantau. Jika pengeluaran pada satu minggu terlalu besar, masih ada kesempatan untuk melakukan penyesuaian pada minggu berikutnya.
Baca juga: Siasat atur pengeluaran semasa nilai tukar rupiah melemah
5. Siapkan dana untuk pengeluaran tidak rutin
Jangan hanya menghitung tagihan yang muncul setiap bulan. Ada pula pengeluaran yang datang secara berkala, seperti biaya sekolah, servis kendaraan, pembayaran tahunan, kebutuhan hari raya, atau keperluan keluarga lainnya.
Agar pengeluaran tersebut tidak mengacaukan anggaran bulanan, sisihkan sebagian uang setiap bulan untuk kebutuhan yang sudah bisa diperkirakan.
Dengan begitu, ketika tagihan atau kebutuhan tersebut muncul, keluarga tidak perlu mengambil uang dari anggaran makan atau kebutuhan pokok.
6. Evaluasi pengeluaran setiap akhir bulan
Setelah satu bulan berjalan, luangkan waktu untuk melihat kembali catatan pengeluaran. Periksa pos mana yang paling banyak menghabiskan uang dan apakah pengeluaran tersebut memang diperlukan.
OJK menyebut pencatatan sebagai bagian penting dari pengelolaan keuangan karena membantu keluarga mengetahui arus uang yang masuk dan keluar serta menentukan skala prioritas.
Jika ternyata pengeluaran untuk pesan makanan terlalu besar, misalnya, anggarannya bisa dikurangi pada bulan berikutnya. Begitu juga jika biaya transportasi atau kebutuhan lain ternyata lebih tinggi dari perkiraan.
Baca juga: Kiat atur alokasi dana dan kelola uang secara lebih terarah
Contoh pembagian gaji Rp10 juta
Salah satu acuan yang cukup populer dalam membuat anggaran adalah prinsip 50-30-20. Dalam aturan tersebut, sekitar 50 persen penghasilan dialokasikan untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau tujuan keuangan. Namun, aturan ini bukan angka mutlak dan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.
Jika diterapkan secara sederhana pada gaji Rp10 juta, gambarannya bisa seperti berikut:
- Rp5 juta untuk kebutuhan utama
- Rp2 juta untuk tabungan, dana darurat, atau pembayaran utang tambahan
- Rp2 juta untuk kebutuhan fleksibel dan keinginan
- Rp1 juta untuk kebutuhan keluarga yang sifatnya tidak rutin atau tujuan keuangan tertentu
Pembagian tersebut bukan berarti setiap keluarga harus mengikuti angka yang sama. Misalnya, keluarga yang masih memiliki cicilan rumah cukup besar mungkin perlu mengurangi anggaran hiburan dan mengalokasikan lebih banyak dana untuk kebutuhan wajib.
Pada akhirnya, gaji Rp10 juta bisa saja cukup untuk rumah tangga, tetapi sangat bergantung pada kondisi masing-masing keluarga. Jumlah tanggungan, tempat tinggal, cicilan dan gaya hidup akan menentukan seberapa besar ruang yang tersedia dalam anggaran.
Kuncinya bukan sekadar mencari cara agar uang cukup sampai akhir bulan, tetapi membuat setiap rupiah memiliki tujuan. Dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan, menyisihkan tabungan sejak awal, serta mengevaluasi anggaran secara rutin, pengelolaan gaji dapat menjadi lebih terarah.
Baca juga: Permendiktisaintek 52/2025 atur gaji dosen secara lebih berkeadilan
Baca juga: Gaji Rp3 juta, ini cara tepat atur keuangan keluarga
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.