Sangatta (ANTARA) - Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengingatkan para penggerak ekonomi kreatif (ekraf) agar tidak kalah dengan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Kemajuan AI harus dimanfaatkan sebagai teknologi pendukung, bukan justru membuat pelaku ekonomi kreatif kehilangan kemampuan dan karakter dalam menghasilkan karya,” ucapnya, di Sangatta, Senin (5/10).
Ardiansyah menilai perkembangan teknologi tidak seharusnya membuat kreativitas manusia tergantikan. Para penggerak ekraf justru dituntut mampu mempertahankan keunikan dan orisinalitas karya di tengah kemudahan yang ditawarkan AI.
Ia menyoroti semakin luasnya penggunaan AI dalam menghasilkan berbagai karya, mulai dari tulisan, musik, hingga suara.
“Harus suara khas, suara asli. Kasihan nanti yang suara asli sudah capek-capek rekaman dirubah. Karena suara khas AI itu nggak pernah ada yang salah,” ujar Ardiansyah.
Ia menegaskan perkembangan teknologi yang semakin cepat tidak bisa di tolak secara langsung. Namun, berbagai macam perkembangan itu dapat dimanfaatkan untuk membantu proses produksi, promosi, maupun pengembangan karya kreatif.
Menurutnya, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu. Ide, pengalaman, karakter, serta sentuhan manusia menjadi bagian penting yang membedakan karya kreatif dengan produk yang sepenuhnya dihasilkan mesin.
“Jangan sampai para penggerak ekonomi kreatif di Kutai Timur kalah dengan teknologi. Jadi harus terus meningkatkan kemampuan,” katanya.
Bagi pelaku ekonomi kreatif, perkembangan AI sekaligus menjadi tantangan untuk beradaptasi. Teknologi dapat digunakan untuk mempercepat proses kerja, tetapi kreativitas dan identitas manusia tetap menjadi pembeda dalam menghasilkan karya.
Pewarta: Nyaman Bagus Purwaniawan
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.