Elephants

Bupati: El Nino tak pengaruhi produksi beras di Sidrap

August 30, 2026

Makassar (ANTARA) - Bupati Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif mengemukakan dampak dari fenomena El-Nino di musim kemarau yang melanda pada sejumlah daerah, tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi beras di Sidrap.

"Dampak El Nino memang ada, tetapi tidak berpengaruh besar pada hasil panen di Sidrap. Kami berupaya membantu petani mendapatkan air untuk sawah mereka dengan bantuan sarana dan prasarana," tuturnya saat bincang lepas bersama wartawan di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu.

Mantan Wakil Ketua DPRD Sulsel ini menuturkan, masyarakat di perkotaan seperti Kota Makassar tidak merasakan dampaknya secara langsung karena distribusi pangan berjalan terus dari pasokan di daerah produksi pangan.

"Mungkin, yang tinggal di Ibu Kota seperti di Makassar itu tidak begitu merasakan. Tapi, kalau punya keluarga di daerah, coba ditanyakan sendiri bagaimana kerja keras mengatasi dampak kekeringan ini," ucapnya.

Demi mengatasi kekeringan, menurut dia, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) telah menyalurkan bantuan pompanisasi dan program listrik masuk sawah sehingga ketersediaan air bagi sawah masih bisa dicukupi.

'Kita sudah menyerahkan bantuan pompa dan BBM Pertalite, tabung gas LPG, serta token listrik. Ini dilakukan agar petani kita bisa merawat padi sampai panen dengan hasil maksimal," kata Kepala DTPHPKP Sidrap Ibrahim.

Baca juga: Kementan: Panen padi program PM-AAS di Sidrap tembus 11,2 ton/hektare

Baca juga: BWS Saddang rehabilitasi irigasi persawahan 8.945 hektare di Sidrap

Dia menjelaskan, dengan berbagai intervensi dan kerja keras penyuluh pertanian akhirnya lahan tetap produktif meski di musim kemarau.

"Program ini sudah menjangkau 2.193 titik bor di titik sasar, untuk melayani 10.965 hektare persawahan terdampak kekeringan," katanya.

Diketahui luas wilayah di Kabupaten Sidrap 188.325 hektare dengan luasan baku lahan persawahan mencapai 52.227 hektare. Daerah ini menjadi salah satu penghasil beras. Tercatat ada 34 ribuan hektare sawah irigasi dan 22 ribuan hektare sawah tadah hujan.

Dari luasan areal persawahan itu, produksi gabah kering panen (GPK) di Sidrap rata-rata 434.000 ton-663.000 ton per tahun, dengan hasil produksi gabah per hektarenya antara 10-12 ton di masa panen.

Walaupun di masa kekeringan, saat ini produksi padi di wilayah yang dijuluki 'Bumi Nene Mallomo' ini tidak terhambat dan masih mampu menghasilkan 10 ton per hektare dengan sistem irigasi terpadu.

Dari data Pemkab Sidrap, di Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae tercatat memiliki luas lahan 300 hektare, ada 52 hektare sawah yang menerapkan IP300 atau memanen gabah tiga kali setahun.

Daerah ini masih menghasilkan antara 10 ton - 12,3 ton gabah per hektare di tengah kondisi kekeringan ekstrie.

Begitu pun di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa, Sidrap. Lahan milik petani Idris Lakna telah memanen 10 ton gabah per hektarenya, dengan hasil Rp83 juta sekali panen.

Kondisi serupa di Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue dengan luas baku lahan persawahan sekitar 481,00 hektare turut mendapatkan hasil panen rerata 10 ton per hektare.

Baca juga: Pemkab Sidrap modernisasi pertanian dengan demplot mesin

Baca juga: Mentan serahkan bantuan pertanian Rp26 miliar ke Sidrap

Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.