Padang (ANTARA) - Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi meluncurkan buku Transparansi Tiga Arah karya Musfi Yendra pada Festival Literasi Sumbar 2026 yang di gelar di Padang, Selasa.
Buku setebal 430 halaman ini merupakan refleksi, evaluasi, pemikiran dan gagasan mengenai pentingnya transparansi sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan dan kehidupan demokrasi.
Melalui siaran pers yang diterima di Padang Musfi mengatakan transparansi tidak semata-mata dipahami sebagai kewajiban badan publik untuk membuka informasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan, memperkuat partisipasi masyarakat, serta mendorong penyelenggaraan pemerintahan yang akuntabel.
Melalui buku ini, Musfi mencoba mengajak pembaca melihat transparansi dari perspektif yang lebih luas. Keterbukaan informasi ditempatkan bukan sekadar persoalan administratif, melainkan sebagai jembatan antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai kekuatan sosial dalam membangun tata kelola yang lebih terbuka dan bertanggung jawab.
Peluncuran buku dalam Festival Literasi Sumbar 2026 juga memiliki makna penting karena literasi pada hakikatnya tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi berkembang menjadi kemampuan masyarakat untuk memahami informasi, mengkritisi kebijakan, menyampaikan gagasan, serta mengambil bagian dalam kehidupan publik.
Menurutnya buku ini ditujukan bukan hanya untuk para pemangku kebijakan atau aktivis keterbukaan, tetapi juga untuk siapa pun yang percaya bahwa informasi bukan milik elit, melainkan milik rakyat.
“Transparansi bukan sekadar membuka informasi. Transparansi adalah membuka ruang kepercayaan, membuka ruang partisipasi, dan membuka jalan bagi masyarakat untuk ikut mengawal kehidupan publik," kata dia.
Buku Transparansi Tiga Arah, ditulis oleh Musfi selama dua tahun menjabat Ketua Komisi Informasi periode 2024-2026, diterbitkan oleh Rumahkayu Pustaka.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi dalam pengantar buku tersebut mengatakan sejalan dengan semangat yang digagas dalam buku ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di bawah kepemimpinannya telah mengambil langkah nyata untuk menerapkan keterbukaan informasi publik secara sungguh-sungguh.
"Komitmen tersebut terejawantahkan melalui berbagai inovasi sistem dan praktik keterbukaan, khususnya dalam pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang meliputi seluruh siklus: perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, hingga pelaporan kepada publik. Salah satu bukti konkret adalah hadirnya Dasbor Pembangunan Terbuka (Open Dashboard) yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat," ungkapnya.
Mahyeldi berharap buku “Transparansi Tiga Arah” ini tidak hanya menjadi bacaan, tetapi menjadi referensi yang menginspirasi praktik baik keterbukaan informasi di seluruh tingkatan pemerintahan dan masyarakat.
Karena itu, kehadiran Transparansi Tiga Arah diharapkan dapat memperkaya khazanah literasi masyarakat Sumatera Barat, khususnya dalam memahami isu keterbukaan informasi publik, transparansi pemerintahan, dan partisipasi masyarakat.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpusatakaan Provinsi Sumatera Barat Jumaidi mengatakan mengatakan Festival Literasi Daerah menjadi upaya memperkuat ekosistem literasi melalui edukasi, kompetisi, apresiasi, kreativitas, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
"Peluncuran buku karya Musfi Yendra ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjadi awal dari percakapan yang lebih luas tentang masa depan keterbukaan, literasi, dan tata kelola pemerintahan di Sumatera Barat," katanya.