Bagikan:
JAKARTA - Layar ponsel pintar itu akhirnya diredupkan. Di sebuah koridor sekolah, tak ada lagi pemandangan deretan murid yang duduk berdampingan namun saling acuh, sibuk menunduk menatap layar ponsel masing-masing. Sebagai gantinya, riuh rendah sapaan, gelak tawa saat bermain bersama, serta diskusi hangat kembali mewarnai halaman sekolah.
Pemandangan inilah yang ingin dihidupkan kembali oleh pemerintah melalui Surat Edaran (SE) Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Bagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, kebijakan pembatasan gawai untuk anak di bawah usia 16 tahun ini bukan sekadar aturan kaku, melainkan sebuah ikhtiar mendalam untuk memulihkan ruang tumbuh yang aman dan nyaman bagi anak-anak.
"Ini komitmen kita bersama untuk membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman sebagai bagian dari dukungan secara psikologis, mental, dan spiritual agar anak-anak dapat belajar dengan sebaik-baiknya," ujar Mu'ti di Jakarta, Selasa.
BACA JUGA:
Di balik lembaran surat edaran tersebut, ada niat tulus untuk merawat jiwa para siswa. Melalui pendekatan yang humanis, inklusif, dan partisipatif, sekolah diajak untuk tidak mengedepankan hukuman, melainkan prinsip-prinsip edukatif dan pedagogis. Anak-anak dibantu untuk tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga terlindungi secara digital, sosial, hingga kesehatan mentalnya.
Kebijakan ini juga menjadi bagian dari napas baru untuk mewujudkan budaya sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)—sebuah lingkungan di mana anak bebas berekspresi, mengasah kreativitas, serta menjalin interaksi sosial yang nyata tanpa terdistraksi riuhnya dunia maya.
Langkah ini mendapat sambutan hangat dari Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Menurutnya, pembatasan gawai di sekolah adalah benteng penting dalam perlindungan anak di ruang digital, sejalan dengan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).
"Aturan ini semakin melengkapi komitmen pemerintah untuk melindungi anak-anak dari ancaman negatif di ruang digital, terutama konten-konten berbahaya," tegas Meutya.
Pada akhirnya, menepikan sejenak gawai di sekolah bukan berarti memusuhi teknologi. Ini adalah langkah lembut untuk memberikan ruang bagi anak-anak agar bisa kembali menikmati indahnya masa sekolah—bermain, berinteraksi, dan tumbuh dengan jiwa yang sehat di dunia nyata.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+