Karyawan mengakses aplikasi BYOND BSI saat paparan laporan kinerja PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Triwulan I Tahun 2026, BSI mencetak laba bersih Rp2,2 triliun, naik 17,1 persen (YOY) didorong peningkatan tabungan yang tumbuh 20,18 persen (YOY) tertinggi di industri. Hal itu didrive oleh melonjaknya minat generasi muda untuk berhaji dan menggunakan produk BSI.
REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA -- PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menyiapkan rights issue tahap II untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan yang mencapai 16 persen. Perseroan membutuhkan tambahan modal agar ekspansi pembiayaan tetap berjalan dengan dukungan pendanaan yang sehat.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pertumbuhan pembiayaan yang tinggi perlu diimbangi dengan penguatan sumber pendanaan. Meski dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 15 persen, perseroan tetap membutuhkan pendanaan yang memadai untuk mempertahankan pertumbuhan bisnis.
“Kalau kami mau maintain loan growth 16 persen terus, kami butuh funding yang sehat. Sehingga dana ini tentunya nanti kami pakai juga untuk bisa supaya funding sehat,” ujar Anggoro saat ditemui usai taklimat media BSI International Expo Kedua Buy local go global di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Selain memperkuat pendanaan, rights issue tersebut ditujukan untuk memenuhi ketentuan minimum saham beredar di publik atau free float sebesar 15 persen. Saat ini, porsi free float saham BSI tercatat 9,91 persen.
Anggoro berharap peningkatan porsi saham yang beredar di publik dapat membuka peluang bagi BSI untuk masuk ke indeks saham unggulan, LQ45.
“Harapannya nanti kami bisa sesuai dengan free float-nya, juga kami masuk ke, sejajar dengan LQ45 nanti,” kata dia.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), BSI berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham Seri B dengan nilai nominal Rp 500 per saham melalui penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) II.
Dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut, setelah dikurangi biaya emisi, akan digunakan seluruhnya untuk penyaluran pembiayaan guna mendukung pertumbuhan usaha perseroan. Rincian penggunaan dana akan disampaikan dalam prospektus pelaksanaan rights issue.
Dari sisi permodalan, kapasitas permodalan untuk mendukung bisnis BSI diproyeksikan meningkat dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027.