BPS ungkap dominasi industri pengolahan dalam ekonomi Kotim
Minggu, 23 Agustus 2026 22:09 WIB
Pendataan Sensus Ekonomi 2026 di kediaman Wakil Bupati Kotim Irawati beberapa waktu lalu. ANTARA/Devita Maulina.
Sampit (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai melihat pola struktur ekonomi daerah dari pendataan Sensus Ekonomi 2026, yang menunjukkan industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang mendominasi aktivitas perekonomian di wilayah setempat.
Saat ini memang belum dapat disimpulkan apa-apa karena pendataan belum selesai, Kepala BPS Kotim Eddy Surahman di Sampit, Minggu.
"Tetapi sejauh ini, gambaran distribusi sektor yang menopang PDRB di Kotim sudah mulai terlihat. Di mana industri pengolahan memang mendominasi," ucapnya.
Eddy menjelaskan, gambaran tersebut masih bersifat sementara karena petugas BPS masih menyelesaikan pendataan terhadap seluruh pelaku usaha hingga batas waktu yang ditetapkan pada 31 Agustus 2026.
Kendati begitu, menurutnya pola yang mulai terlihat dari hasil pendataan lapangan juga menunjukkan adanya kesesuaian dengan struktur nilai tambah yang selama ini tercatat dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kotim.
"Kesesuaian antara nilai tambah yang dikumpulkan dari seluruh usaha di Sensus Ekonomi ini dengan nilai tambah yang kita catat di PDRB, polanya sudah mulai terlihat," ujarnya.
Adapun industri pengolahan yang dimaksud mencakup berbagai kegiatan usaha yang mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah, termasuk industri kelapa sawit yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Kotim.
Eddy menyebutkan, sektor tersebut memiliki kontribusi penting karena aktivitas pengolahan hasil perkebunan, khususnya kelapa sawit, berkembang seiring besarnya potensi bahan baku yang tersedia di wilayah Kotim.
"Jadi industri pengolahan itu macam-macam, semua usaha yang bergerak di industri pengolahan, terutama kalau di kita penopangnya industri CPO," jelas Eddy.
Dia pun mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, yang membantu BPS dalam melakukan pendataan perusahaan berskala besar, mengingat kelompok usaha tersebut memiliki tantangan tersendiri dalam proses pengumpulan data.
Menurut Eddy, sebagian besar perusahaan besar yang menjadi sasaran pendataan kini sudah berhasil dijangkau petugas, meski masih terdapat beberapa perusahaan yang perlu dikunjungi kembali untuk memastikan seluruh informasi yang dibutuhkan telah diperoleh.
"Untuk perusahaan besar ini jadi tantangan tersendiri dalam pengumpulan data Sensus Ekonomi. Di Kotim alhamdulillah sudah hampir semuanya terdata, hanya masih ada beberapa yang perlu kami kunjungi," bebernya.
Data dari perusahaan besar tersebut dinilai penting karena nantinya akan diakumulasikan bersama nilai tambah yang dihasilkan berbagai kegiatan usaha lainnya, sehingga BPS dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai struktur ekonomi Kotim.
Eddy menilai dukungan pemerintah daerah sangat berarti karena perusahaan-perusahaan berskala besar memiliki posisi penting dalam menopang perekonomian daerah, baik dari sisi aktivitas produksi maupun nilai tambah yang dihasilkan.
"Perusahaan-perusahaan besar ini sangat menopang perekonomian kita. Datanya masuk, nanti gambarannya bisa kita lihat dan kita akumulasikan dengan seluruh nilai tambah yang dihasilkan usaha-usaha itu," kata dia.
Ia menambahkan, salah satu tahapan yang menjadi perhatian BPS adalah memastikan kesesuaian Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) pada setiap unit usaha yang didata.
Ketepatan klasifikasi akan menentukan kualitas gambaran struktur ekonomi yang dihasilkan dari Sensus Ekonomi 2026, terutama ketika data tersebut nantinya diolah menjadi informasi makro mengenai kondisi dunia usaha di Kotim.
"KBLI ini rigid sekali, detail. Bahkan satu jenis usaha kalau kita bedah, KBLI-nya bisa banyak kemungkinan. Jadi kita selesaikan dulu pendataannya, nanti kita bisa lihat usaha apa yang paling banya," ucapnya.
BPS Kotim sebelumnya menegaskan pendataan Sensus Ekonomi 2026 masih terus dikebut dengan menyisir responden yang belum terdata hingga 31 Agustus, termasuk menghadapi sejumlah kendala seperti sulit menemui pemilik usaha dan adanya responden yang masih menolak memberikan informasi.
Eddy berharap seluruh proses tersebut dapat diselesaikan, sehingga data yang dihasilkan mampu menggambarkan kondisi perekonomian Kotim secara lebih menyeluruh.
Hasil sensus nantinya akan menjadi bahan penting untuk melihat karakteristik dunia usaha, perubahan struktur ekonomi, serta perkembangan nilai tambah dari berbagai kegiatan ekonomi.
"Data ini nantinya akan berguna untuk kebijakan di masa yang akan datang. Karena itu, kualitas data sangat bergantung pada capaian kita di lapangan," demikian Eddy.
Baca juga: Kabut asap, pesawat batal mendarat di Sampit
Baca juga: PT Sukajadi Sawit Mekar gencar bantu pencegahan dan penanganan stunting di Kotim
Baca juga: Komisi III DPRD Kotim setujui tambahan Rp454 juta untuk BPBD
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.