Elephants

BPS: Sawit hingga Kopi Jadi Andalan Ekspor RI ke Arab Saudi

August 6, 2026

Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap minyak sawit, kopi, hingga produk kayu menjadi komoditas unggulan Indonesia yang memiliki pangsa pasar kuat di Arab Saudi.

Meski demikian, BPS menilai peluang ekspor masih sangat terbuka karena Indonesia baru menempati peringkat ke-18 sebagai pemasok terbesar ke Negara Minyak itu.

"Untuk minyak sawit atau minyak nabati, Indonesia menguasai pangsa pasar sekitar 38 persen yang jauh di atas Malaysia, Ukraina maupun Oman. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama untuk komoditas ini," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain minyak sawit, wanita yang akrab disapa Winny itu mengatakan Indonesia juga telah memiliki pangsa pasar yang cukup kuat untuk sejumlah komoditas lain di Arab Saudi, seperti kayu dan barang dari kayu, kopi, teh dan rempah-rempah, kertas dan produk turunannya, olahan daging dan ikan, biji dan buah mengandung minyak, hingga alas kaki.

Namun, menurut Amalia, potensi ekspor berbagai produk tersebut masih dapat terus ditingkatkan.

"Untuk komoditas seperti kayu, kopi, kertas, olahan pangan, biji mengandung minyak, dan alas kaki, Indonesia memang telah memiliki pangsa pasar yang baik, tetapi masih banyak potensi pasar yang harus dikembangkan. Dengan mengetahui peta kompetitor seperti ini, kita bisa menyusun strategi penetrasi pasar yang lebih tepat," ujarnya.

Data BPS menunjukkan minyak sawit menjadi komoditas Indonesia dengan posisi terkuat di pasar Arab Saudi. Nilai impornya mencapai US$706,47 juta dengan pangsa pasar 38,29 persen, sehingga lebih dari sepertiga kebutuhan impor sawit Arab Saudi dipasok dari Indonesia.

Pangsa tersebut jauh lebih besar dibandingkan Malaysia yang menguasai 12,74 persen pasar, Ukraina 7,69 persen, dan Oman 5,98 persen.

Komoditas unggulan lainnya meliputi kayu dan barang dari kayu dengan nilai ekspor US$146,86 juta dan pangsa pasar 8,08 persen, kopi, teh, dan rempah-rempah senilai US$122,13 juta dengan pangsa 6,61 persen, serta kertas dan produk turunannya sebesar US$103,61 juta dengan pangsa 5,92 persen.

Sementara itu, olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska mencatat nilai ekspor US$78,35 juta dengan pangsa pasar 19,60 persen, diikuti biji dan buah mengandung minyak senilai US$66,88 juta dengan pangsa 7,27 persen, serta alas kaki sebesar US$59,28 juta dengan pangsa pasar 5,30 persen.

Di sisi lain, BPS mencatat posisi Indonesia sebagai pemasok barang ke Arab Saudi terus membaik dalam dua dekade terakhir. Pada 2005, Indonesia berada di peringkat ke-24 negara asal impor Arab Saudi dengan nilai ekspor US$517,61 juta atau pangsa pasar 0,90 persen.

Pada 2025, Indonesia telah naik ke posisi ke-18 dengan nilai ekspor mencapai US$3,43 miliar, atau meningkat sekitar enam kali lipat dibandingkan 20 tahun lalu.

"Dalam 20 tahun peringkat ini bisa kita naikkan. Pada tahun 2005 Indonesia berada di peringkat ke-24, sedangkan pada tahun 2025 posisi Indonesia sudah meningkat menjadi pemasok terbesar ke-18 untuk pasar Arab Saudi. Tapi belum menjadi 10 besar. Mudah-mudahan ke depan peringkat Indonesia bisa terus naik secara bertahap sampai masuk 10 besar," ujar Winny.

Menurutnya, pengalaman negara-negara seperti China dan India dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam memanfaatkan besarnya pasar Arab Saudi, khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan haji dan umrah.

Saat ini, China menjadi pemasok terbesar bagi Arab Saudi, disusul Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab (UEA), dan India. Padahal, dua dekade lalu pasar Arab Saudi masih didominasi negara-negara maju seperti AS, Jepang, dan Jerman.

"Pengalaman China dan India ini bisa menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia. Potensi pasar haji dan umrah sangat besar dan peluang ini bisa kita raih ke depan," ujar Winny.

[Gambas:Youtube]

BPS juga memetakan negara-negara yang menjadi pesaing utama Indonesia pada setiap komoditas. Untuk produk kayu, Indonesia bersaing dengan China, Thailand, dan Finlandia. Pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah, pesaing utamanya adalah Etiopia, India, dan Guatemala.

Sementara pada alas kaki, pangsa pasar Indonesia masih jauh di bawah China yang menguasai 52,33 persen impor Arab Saudi, Vietnam 15,93 persen, dan Italia 11,56 persen. Pangsa pasar Indonesia untuk komoditas tersebut baru mencapai 5,30 persen.

Selain itu, pada komoditas olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, Indonesia menguasai pangsa pasar 19,60 persen, namun masih berada di bawah Thailand yang menguasai 27,79 persen. Malaysia berada di bawah Indonesia dengan pangsa pasar 9,74 persen.

BPS menilai pemetaan produk unggulan dan posisi kompetitor tersebut dapat menjadi dasar penyusunan strategi untuk memperluas penetrasi ekspor Indonesia di Arab Saudi.

Selain komoditas pangan seperti minyak sawit, kopi, rempah-rempah, dan makanan olahan, peluang juga terbuka untuk produk perlengkapan ibadah, pakaian, alas kaki, hingga produk oleh-oleh yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji dan umrah.

(del/sfr)