Elephants

BPBD Palangka Raya bangun sumur bor di lokasi perkuat pemadaman lahan

August 11, 2026

BPBD Palangka Raya bangun sumur bor di lokasi perkuat pemadaman lahan

Selasa, 11 Agustus 2026 16:13 WIB

Image Print

BPBD Palangka Raya bersama tim gabungan membangun sumur bor di lokasi perkuat pemadaman lahan. ANTARA/BPBD Kota Palangka Raya

Palangka Raya (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah bersama tim gabungan membangun sejumlah titik sumur bor di sekitar lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna memperkuat ketersediaan sumber air dan mempercepat proses pemadaman.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satriya Budi di Palangka Raya, Selasa, mengatakan pembangunan sumur bor dilakukan karena keterbatasan sumber air menjadi salah satu kendala dalam penanganan karhutla, terutama saat musim kemarau.

"Pembuatan sumur bor ini kami lakukan untuk mendukung proses pemadaman karena persoalan yang kami hadapi adalah keterbatasan sumber air. Ketika lahan gambut masih berasap, titik tersebut berpotensi kembali menyala," katanya.

BPBD Kota Palangka Raya dalam pembangunan sumur bor tersebut bekerja sama dengan Manggala Agni Daops Palangka Raya dan Universitas Palangka Raya. Sumber air yang berada lebih dekat dengan lokasi kebakaran diharapkan dapat memudahkan tim gabungan melakukan pemadaman sekaligus pembasahan lahan secara menyeluruh.

Menurut Hendrikus, penggunaan sumur bor dinilai lebih efektif dibandingkan mengandalkan pasokan air dari mobil tangki yang harus mengambil air dari embung atau sumber air lainnya yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran.

"Saat ini kami bekerja sama dengan Manggala Agni dan Universitas Palangka Raya untuk membuat beberapa titik sumur bor. Kami menilai cara ini lebih efektif daripada sistem transfer air menggunakan mobil tangki dari sumber air atau embung," ujarnya.

Ketersediaan sumber air yang dekat dengan lokasi karhutla juga menjadi penting karena karakteristik lahan gambut memungkinkan api menjalar hingga lapisan bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat titik kebakaran berpotensi kembali menyala meskipun api di permukaan telah berhasil dipadamkan.

Karena itu, proses pemadaman tidak hanya dilakukan terhadap api yang terlihat di permukaan, tetapi juga dilanjutkan dengan pembasahan untuk memastikan bara dan titik panas di dalam lapisan gambut benar-benar padam.

BPBD bersama tim gabungan Satgas Karhutla terus melakukan pemantauan dan pemadaman di sejumlah wilayah yang masih terdapat titik kebakaran. Pembangunan sumur bor diharapkan dapat mendukung efektivitas petugas, terutama pada lokasi yang sulit memperoleh pasokan air.

Sementara itu, BPBD Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 195 kejadian karhutla selama periode 1 Juni hingga 10 Agustus 2026 dengan total luas lahan terbakar mencapai 174,24 hektare.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya Heri Fauzi mengatakan kejadian karhutla tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, dengan kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Jekan Raya.

"Selama periode 1 Juni sampai 10 Agustus 2026, kami mencatat terjadi 195 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 174,24 hektare. Kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya, diikuti wilayah Kecamatan Sebangau," katanya.

Berdasarkan data BPBD, Kecamatan Jekan Raya mencatat 123 kejadian karhutla, Sebangau 48 kejadian, Pahandut 18 kejadian, Bukit Batu enam kejadian, sedangkan Kecamatan Rakumpit nihil kejadian.

BPBD mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin dan mencegah kebakaran meluas.

Pewarta : Rendhik Andika
Uploader: Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.