Selasa, 13 Oktober 2026 - 19:03 WIB
Jakarta, VIVA – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menguji pola penyaluran Makanan Bergizi Gratis (MBG) secara prasmanan di sejumlah daerah. Skema ini dievaluasi untuk melihat efektivitas pelayanan sekaligus dampaknya terhadap kebiasaan siswa saat mengambil dan mengonsumsi makanan.
Baca Juga
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, sebanyak 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia telah menjalankan uji coba pelayanan MBG secara prasmanan sejak dua minggu terakhir.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Jika hasil evaluasi menunjukkan dampak positif, jumlah SPPG yang menerapkan skema tersebut akan diperluas hingga ribuan unit. "Saat ini, kami sedang melihat bagaimana efektivitas pelaksanaan Program MBG secara prasmanan, apa dampak positif dan negatifnya," ujarnya di Aceh pada Selasa (13/10/2026).
Baca Juga
Ia menjelaskan, saat ini sudah ada 62 SPPG sedang melaksanakan Program MBG secara prasmanan sejak dua minggu terakhir.
Ia menyatakan, BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG dapat melaksanakan program MBG dengan sistem prasmanan pada akhir 2026.
Baca Juga
Menurut dia, perluasan program akan bergantung pada hasil uji coba yang sedang berjalan. Jika penerapannya dinilai positif, BGN menargetkan sekitar 1.000 hingga 5.000 SPPG atau dapur MBG dapat melayani siswa dengan sistem tersebut.
"Untuk Aceh sendiri sangat memungkinkan pelaksanaan Program MBG secara prasmanan. Kita jangan melihat pelaksanaannya, tetapi ada edukasi yang membangun kemandirian pelajar dalam penyaluran MBG secara prasmanan," katanya.
Sudaryono menjelaskan, penyajian makanan secara prasmanan memungkinkan siswa mendapatkan makanan dalam kondisi lebih hangat dan segar saat dikonsumsi. Sistem ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil tambahan makanan jika masih menginginkannya.
Selain aspek penyajian, pola prasmanan dinilai dapat menjadi sarana edukasi bagi siswa. Melalui sistem tersebut, pelajar dapat belajar mengantre, melatih kesabaran, dan membangun kebiasaan saling membantu.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski demikian, penerapan sistem prasmanan tidak dilakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan. BGN akan melihat kesiapan masing-masing SPPG dan sekolah, termasuk partisipasi siswa dalam pelaksanaannya.
"Penerapan sistem prasmanan ini juga dilihat dari kemampuan SPPG dan sekolah, serta partisipasi siswa. Kalau semuanya siap, tentu pelayanan MBG secara prasmanan siap dilaksanakan," kata dia.
Halaman Selanjutnya
Dengan masih berlangsungnya uji coba, BGN akan menggunakan hasil evaluasi sebagai dasar untuk menentukan perluasan pelayanan MBG secara prasmanan. Target akhir 2026 menjadi acuan bagi lembaga tersebut dalam memperluas penerapan sistem dari puluhan SPPG saat ini menjadi hingga 5.000 unit. (Ant)