Elephants

Foto-foto nominasi ajang Wildlife Photographer of the Year 2026 - BBC News Indonesia

August 30, 2026

Beruang kutub mengintip dan katak berburu – Foto-foto nominasi Wildlife Photographer of the Year 2026

Beruang kutub

Sumber gambar, Audun Rikardsen

Keterangan gambar, Foto berjudul Icy Window ini meraih penghargaan khusus (highly commended) dalam kategori "potret satwa".

Foto beruang kutub karya Audun Rikardsen ini termasuk di antara karya yang memperoleh predikat highly commended (sangat diapresiasi) dalam ajang Wildlife Photographer of the Year 2026.

Bagaimana rasanya jika Anda berhadapan langsung dengan salah satu predator paling tangguh di Kutub Utara?

Foto menakjubkan ini menangkap kehidupan dari sudut pandang seekor anjing laut.

Karya fotografer satwa liar asal Norwegia, Audun Rikardsen, ini termasuk dalam daftar foto yang mendapat predikat sangat diapresiasi (Highly Commended) dalam ajang Wildlife Photographer of the Year.

Saat bekerja sebagai pemandu untuk Arctic Wildlife Tours, Rikardsen memasang kamera bawah air yang dilengkapi sensor gerak di bawah lubang pernapasan anjing laut, lalu menunggu.

Pada pukul 04.00 pagi, seekor beruang kutub betina mendekat dan mengintip ke bawah.

Rikardsen kemudian harus menunggu selama delapan jam sampai beruang itu menjauh sebelum dapat mengambil kembali kameranya dan meninjau hasil gambar yang terekam.

Saat melihat hasil jepretannya, Rikardsen mengatakan: "Saya sangat, sangat bahagia. Saya berteriak kegirangan, jadi mungkin saya membangunkan semua beruang kutub dalam radius bermil-mil."

Pemenang utama kompetisi tahun ini akan diumumkan pada Selasa, 13 Oktober 2026, yang kemudian akan diikuti dengan pameran di Natural History Museum, London, mulai Jumat, 16 Oktober 2026.

Gulir ke bawah untuk melihat karya-karya lain yang juga mendapat predikat highly commended atau sangat diapresiasi dalam kompetisi tersebut.

Foto burung walet terbang bersamaan dengan pesawat

Sumber gambar, Jack Crockford

Judul: The Art of Flying

Fotografer: Jack Crockford (UK)

Kategori: Sangat Diapresiasi, 15-17 Tahun

Lokasi: Bushy Park, London

Crockford menyaksikan kawanan burung walet kembali ke London setelah migrasi tahunandari Afrika, memenuhi udara dengan kicauan nyaring.

Sebagian besar burung terbang terlalu tinggi untuk dipotret, tetapi beberapa yang melintas lebih rendah memberi Crockford kesempatan untuk mendapatkan gambar yang diinginkannya.

Burung walet menghabiskan hampir seluruh hidupnya di udara dan biasanya hanya mendarat untuk bersarang.

Seekor kodok Jepang Timur kecil bertengger di atas selokan badai berbahan logam yang basah di tengah jalan kota pada malam hari. Tubuhnya tampak tajam dan jelas di latar depan, sementara siluet seseorang berjalan menjauh di latar belakang. Cahaya warna-warni dari lampu jalan dan gedung-gedung memancarkan pantulan lembut di permukaan trotoar yang basah.

Sumber gambar, Sora Miyazawa

Judul: Urban Wanderer

Fotografer: Sora Miyazawa (Jepang)

Kategori: Sangat Diapresiasi, 11-14 Tahun

Lokasi: Tokyo, Jepang

Setelah hujan turun, Miyazawa menemukan seekor kodok Jepang timur (Eastern Japanese toad) yang sedang melintasi sebuah jalan di kota. Dia menggunakan kecepatan rana lambat (slow shutter speed) untuk memotretnya sebelum hewan itu kembali melompat ke semak-semak.

Kodok Jepang timur umumnya ditemukan di hutan, padang rumput, dan berbagai habitat daratan lainnya di wilayah timur Jepang. Namun, spesies ini juga terbukti sangat mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan.

Dua orca dewasa berenang tepat di bawah permukaan air biru tua, terlihat dari sudut pandang atas. Salah satunya membawa tubuh anak orca yang telah mati di ujung moncongnya. Di bagian kanan atas gambar, ujung ekor dua orca lainnya terlihat saat mereka berenang lebih dalam ke dalam air. Riak-riak tampak menyebar di permukaan air di sekitarnya.

Sumber gambar, Vegard Byrkjeland Aasen

Judul: Lifted to the Surface

Fotografer: Vegard Byrkjeland Aasen (Norwegia)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku: Mamalia

Lokasi: Kvænangen, Kabupaten Troms, Norwegia

Aasen sedang menerbangkan drone untuk proyek Norwegian Orca Survey ketika ia melihat seekor paus orca dewasa membawa tubuh anaknya yang telah mati melintasi sebuah fjord di Norwegia.

Orca tersebut berulang kali membiarkan anaknya tenggelam sebelum kembali mengangkatnya ke permukaan. Bagi Aasen, pemandangan itu sulit untuk disaksikan, tetapi ia merasa momen tersebut penting untuk didokumentasikan.

Sebuah studi yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa perilaku semacam ini kemungkinan jauh lebih umum terjadi di kalangan spesies orca daripada yang sebelumnya diperkirakan para peneliti.

Foto close-up seekor ular viper fer-de-lance yang menghadap langsung ke arah kamera. Kepalanya yang lebar, tanda-tanda wajah berwarna cokelat pucat, dan sisiknya yang bertekstur terlihat jelas, dengan seekor nyamuk kecil bertengger di atas kepalanya. Tubuh ular yang bermotif memenuhi bagian bawah gambar, sementara latar belakang bernuansa tanah tampak lembut dan sedikit buram (out of focus).

Sumber gambar, Andrea & Maceo Grammatico

Judul: Biting Back

Fotografer: Andrea & Maceo Grammatico (Prancis)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Potret Satwa

Lokasi: Sierpe, Puntarenas Selatan, Kosta Rika

Andrea dan Maceo Grammatico baru menyadari keunikan foto yang mereka ambil setelah meninjau kembali hasil jepretan mereka.

Dalam gambar tersebut, seekor nyamuk tampak hinggap di kepala ular fer-de-lance, salah satu ular paling berbisa di Amerika Tengah. Keduanya menggambarkan foto itu sebagai "salah satu tumpukan fokus paling menantang yang pernah kami buat".

Fer-de-lance merupakan ular dengan bisa yang sangat mematikan dan bertanggung jawab atas lebih banyak kasus gigitan ular yang berujung kematian di Amerika Tengah dibandingkan spesies lainnya.

Ular ini juga memiliki kamuflase yang sangat baik, sehingga mampu menyatu dengan lingkungan perkebunan dan kerap luput dari perhatian para pekerja.

Seekor burung nasar hitam (black vulture) berdiri di air dangkal dengan kedua sayapnya terbentang penuh di atas bangkai kaiman yacaré. Sebagian tubuh kaiman tampak muncul dari kegelapan di sekitarnya, sementara latar belakang yang nyaris hitam memperkuat suasana dramatis pada gambar tersebut.

Sumber gambar, Andrew Parkinson

Judul: Wings of Darkness

Fotografer: Andy Parkinson (UK)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Potret Satwa

Lokasi: Taman Negara Bagian Meeting of the Waters, Pantanal Utara, Brasil

Parkinson memotret seekor burung nasar hitam yang bertengger di atas bangkai seekor kaiman yacaré di lahan basah Pantanal, Brasil. Untuk mengambil gambar ini, ia menjaga jarak perahunya dan menggunakan lensa telefoto jarak jauh.

Seekor jaguar yang menunggu di luar bingkai foto kemudian muncul setelah burung nasar itu terbang pergi untuk menguasai bangkai tersebut.

Baru setelah itu Parkinson menyadari adanya luka yang tampak mencurigakan di bagian belakang kepala kaiman tersebut. Luka itu terlihat sangat bersih dan lurus, yang menurut dugaannya mungkin disebabkan oleh benturan dari perahu yang melaju kencang.

Seekor bunglon Namaqua muncul dari awan pasir yang tertiup angin, dengan kepala dan bagian atas tubuhnya menjulang di atas permukaan gurun yang beriak. Kulitnya yang kasar dan bertekstur, serta deretan sisik kecil yang menonjol di sepanjang punggungnya, terlihat jelas. Sementara itu, pasir yang berputar-putar menciptakan suasana gurun yang berkabut dan monokromatik.

Sumber gambar, Dewald Tromp

Judul: Eye of the Storm

Fotografer: Dewald Tromp (Afrika Selatan)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Satwa di Habitatnya

Lokasi: Gurun Namib, dekat Swakopmund, Namibia

Tromp sedang memotret seekor bunglon Namaqua di Gurun Namib ketika angin tiba-tiba bertiup semakin kencang, memicu badai pasir yang dengan cepat mengurangi jarak pandang dan menyulitkan pernapasan.

Bunglon Namaqua merupakan spesialis penghuni gurun yang mampu memperoleh kelembapan langsung dari udara. Embun yang mengendap di kulitnya akan dialirkan menuju mulut melalui alur-alur mikroskopis, sementara lidahnya juga dapat mengumpulkan air dari kabut yang mengembun di permukaan tumbuhan, pasir, dan bebatuan.

Foto ini menangkap sang bunglon di tengah terpaan badai pasir, memperlihatkan kemampuannya bertahan hidup dalam salah satu lingkungan paling keras di dunia.

Kawanan burung yang sangat besar memenuhi angkasa, dengan siluet-siluet gelapnya berputar dan membentuk pola dinamis di langit bernuansa cokelat keemasan yang hangat. Melalui atmosfer berkabut di bagian bawah gambar, tampak siluet hewan-hewan menyerupai rusa yang samar-samar terlihat.

Sumber gambar, Bence Máté

Judul: Flock of Gold

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku Burung

Lokasi: Ashnil Aruba Lodge, Taman Nasional Tsavo East, Kenya

Máté sedang mengamati burung-burung yang berkumpul di sebuah kolam kecil ketika puluhan ribu burung red-billed quelea tiba untuk minum dalam cahaya keemasan menjelang senja.

Pergerakan ribuan kepakan sayap tersebut menciptakan hembusan udara yang, menurut Máté, dapat dirasakan dari jarak sekitar 30 meter.

Burung red-billed quelea dapat berkumpul dalam kawanan yang berjumlah hingga dua juta ekor. Spesies ini juga dianggap sebagai burung liar paling melimpah di dunia, dengan perkiraan sekitar 1,5 miliar individu dewasa yang berkembang biak.

Foto close-up kepala seekor badak, menampilkan kulit abu-abu yang berkerut, mata, dan cula besarnya. Seekor jalak badak (oxpecker) kecil berwarna gelap dengan paruh merah-oranye cerah bertengger di kepala badak dekat pangkal culanya. Latar belakang tampak lembut dan sedikit buram, dengan nuansa cokelat pasir yang hangat.

Sumber gambar, Ernest Porter

Judul: Mutual Friends

Fotografer: Ernest Porter (Afrika Selatan)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku Burung

Lokasi: Cagar Alam Manyeleti, Mpumalanga, Afrika Selatan

Saat mencari satwa liar di kawasan cagar alam tersebut, Porter memotret seekor jalak badak paruh merah (red-billed oxpecker) yang menggosokkan paruhnya ke kulit seekor badak putih di bawah cahaya sore hari.

Burung ini memakan serangga yang hidup di tubuh badak dan juga dapat berperan sebagai penjaga. Mereka akan mengeluarkan suara peringatan untuk memberi tahu "tuan rumahnya" ketika bahaya mendekat.

Dalam bahasa Swahili, jalak badak paruh merah dikenal sebagai askari wa kifaru, yang berarti "penjaga badak".

Sebuah foto hitam-putih menampilkan batang pohon yang tinggi dengan alur-alur vertikal di tengah latar belakang putih terang. Kedua kaki depan seekor macan tutul muda terlihat mencengkeram batang pohon tersebut, bersama sebagian kecil bagian atas kepalanya. Sisa tubuhnya tersembunyi di balik batang pohon. Di dekat puncak batang, seekor tupai terlihat utuh sedang menghadap ke bawah.

Sumber gambar, Allegra Hutton

Judul: Up a Tree without a Squirrel

Fotografer: Allegra Hutton (Amerika Serikat)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku Mamalia

Lokasi: Delta Okavango, Botswana

Hutton menyaksikan seekor macan tutul muda mengejar seekor tupai hingga naik ke atas pohon. Sebelumnya, ia juga melihat kucing besar itu gagal memburu seekor kelinci.

Tupai tersebut berhasil lolos dengan memanjat lebih tinggi, meninggalkan sang macan tutul bergelantungan di batang pohon sebelum akhirnya mundur dengan canggung.

Bagi macan tutul muda, peluang bertahan hidup tidak selalu besar. Kurang dari separuhnya berhasil mencapai usia mandiri. Ancaman yang mereka hadapi antara lain macan tutul jantan dewasa, singa, serta predator lainnya.

Seekor katak banteng (bullfrog) bercorak hijau dan cokelat berbintik-bintik merunduk rendah di atas tanah berlumpur dengan mulut terbuka dan lidah merah muda yang panjang menjulur ke arah seekor kupu-kupu kecil yang terbang tepat di atasnya. Kulit katak yang bertekstur dan matanya yang cerah tampak sangat tajam dan jelas, kontras dengan latar belakang bernuansa tanah yang lembut dan sedikit buram.

Sumber gambar, Jens Cullmann

Judul: Split-Second Escape

Fotografer: Jens Cullmann (Jerman)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku Amfibi dan Reptil

Lokasi: Cagar Alam Central Kalahari, Botswana

Seekor katak banteng Afrika menerjang untuk menangkap seekor kupu-kupu babul, tetapi meleset.

Cullmann sebelumnya melihat berudu di kawasan tersebut setelah hujan lebat, lalu kembali sebulan kemudian dan mendapati kolam-kolam serta genangan air dipenuhi katak banteng muda. Ia menghabiskan lebih dari dua minggu mengamati katak-katak muda itu yang, menurutnya, "memakan apa saja yang bergerak".

Saat dewasa, katak banteng Afrika dapat tumbuh hingga mencapai panjang sekitar 12 cm. Hewan ini menghabiskan sekitar 10 bulan dalam setahun berdiam diri di bawah tanah, lalu muncul kembali setelah musim hujan untuk berkembang biak dan mencari makan dalam jumlah besar.

Copilot said:
Seekor katydid naga lumut (lichen dragon katydid) berwarna hijau pucat hampir sepenuhnya tersamarkan (berkamuflase) di antara dedaunan hijau pucat yang halus dan bercabang-cabang. Tubuh serta kaki-kakinya yang panjang dan ramping menyatu dengan sangat baik dengan batang-batang tipis di sekitarnya, namun latar belakang yang gelap membuat serangga tersebut tetap menonjol.

Sumber gambar, Gil Wizen

Judul: Hidden Dragon

Kategori: Sangat Diapresiasi, Perilaku Invertebrata

Lokasi: Stasiun Biologi Wildsumaco, Provinsi Napo, Ekuador

Wizen sedang memotret seekor belalang daun naga lumut (lichen dragon katydid) yang panjang tubuhnya hanya sekitar 15 milimeter, sehingga sangat sulit dibedakan dari lumut kerak di sekitarnya. Ia baru menyadari keberadaan serangga itu ketika hewan tersebut bergerak. Namun bahkan setelah menemukannya, Wizen masih kesulitan memisahkannya dari latar belakang melalui jendela bidik kameranya.

Spesies ini hanya ditemukan di wilayah Pegunungan Andes di Ekuador. Lapisan pelindung tubuhnya yang dipenuhi tonjolan menyerupai duri membantu menyamarkannya dari pemangsa yang memiliki penglihatan tajam dan mampu menembus kamuflasenya.

Sebuah foto laut yang dramatis dengan perspektif split-level menampilkan sekawanan besar ikan yang berenang bergerombol di perairan biru tua di bawah garis pantai yang tampak sebagai siluet gelap, dengan latar awan oranye bercahaya. Di kejauhan, pelangi samar terlihat membentang, menambah kesan indah dan atmosferik pada pemandangan tersebut.

Sumber gambar, Shane Gross

Judul: Calm Amid the Storm

Kategori: Sangat Diapresiasi, Laut

Lokasi: D'Arros Island, Seychelles

Gross sedang memotret sekawanan ikan kuwe mata besar (bigeye trevally) di dekat pantai saat matahari terbit ketika badai mulai mendekat. Untuk menciptakan foto split-level (yang menampilkan pemandangan di atas dan di bawah permukaan air secara bersamaan), ia membalik kameranya sehingga menghadap terbalik untuk membantu distribusi daya apung, lalu perlahan bergerak mendekati ikan-ikan yang penasaran tersebut.

Ikan kuwe mata besar ditangkap untuk perikanan di banyak wilayah dunia, namun di lokasi ini mereka relatif aman. Pada 2023, perairan di sekitar Pulau D'Arros ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut (Marine Protected Area/MPA) dan dinyatakan sebagai zona larang tangkap.

Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif global yang mendorong pemerintah di seluruh dunia untuk melindungi 30% daratan dan lautan pada 2030.

Seekor beruang cokelat duduk di bagian dangkal sebuah kolam renang, bersandar pada tepi kolam yang berlapis ubin dengan salah satu kaki belakangnya terangkat, seolah sedang menggaruk wajahnya. Di dekatnya, bola-bola putih dan pelampung berbentuk donat berwarna merah muda mengapung di permukaan air. Kolam tersebut dikelilingi oleh teras berlapis paving, rumput sintetis, kursi santai berwarna putih, serta sebuah papan bertuliskan “California” berwarna merah yang tergantung pada pagar bata putih.

Sumber gambar, Loren Elliott

Judul: Pooltime Pastime

Fotografer: Loren Elliott (Amerika Serikat)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Satwa Liar Perkotaan

Lokasi: Monrovia, California, Amerika Serikat

Elliott menghabiskan waktu berjam-jam mengamati dari jendela dapur rumah seorang warga setempat, berharap dapat memotret beruang hitam yang kerap melintasi halaman belakang kawasan tersebut.

Ia kemudian menyaksikan salah satu beruang itu berhenti untuk berendam di kolam renang taman rumah, menghasilkan momen yang menyoroti semakin seringnya interaksi antara satwa liar dan kehidupan permukiman manusia di Los Angeles County.

Fenomena ini kian umum terjadi karena pembangunan kawasan perumahan terus meluas hingga memasuki habitat alami beruang, sehingga jarak antara manusia dan satwa liar semakin menyempit.

Seekor kelinci laut (sea hare) berbintik-bintik berwarna cokelat kemerahan beristirahat di dasar laut berpasir, dikelilingi oleh helaian rumput laut hijau yang panjang.

Sumber gambar, Ralph Pace

Judul: Ocean Protector

Fotografer: Ralph Pace (Amerika Serikat), pemenang kategori Underwater 2025

Kategori: Sangat Diapresiasi, Lahan Basah

Lokasi: Teluk Monterey, California, Amerika Serikat

Seekor kelinci laut (sea hare) meluncur di antara hamparan lamun (eelgrass) di perairan dangkal Teluk Monterey, saat Pace memotret kawasan tersebut pada cahaya senja. Ia memandang momen itu sebagai gambaran yang penuh harapan tentang "raksasa lembut yang menjaga padang rumput hijau terakhir di laut".

Dengan memakan alga merah yang dapat menghalangi sinar matahari mencapai hamparan lamun, kelinci laut berperan dalam membantu pemulihan ekosistem lamun.

Tumbuhan bawah laut ini sangat penting bagi ekosistem pesisir karena menjadi habitat bagi berbagai spesies serta berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang penting.

Copilot said:
Sebuah pertunjukan panggung yang menampilkan seekor beruang cokelat besar mengendarai sepeda motor roda tiga berukuran kecil, dengan dua properti boneka matryoshka (boneka susun Rusia) berwarna-warni terpasang di bagian belakangnya. Sementara itu, seorang penampil berkostum biru dan putih memberikan isyarat ke arah beruang tersebut. Di layar-layar belakang panggung, diproyeksikan pemandangan hutan musim dingin sebagai latar suasana.

Sumber gambar, Pietro Rojas

Judul: The Show Goes On

Fotografer: Pietro Rojas (Guatemala)

Kategori: Sangat Diapresiasi, Fotojurnalistik

Lokasi: Doha, Qatar

Setelah mengetahui ada sebuah sirkus yang menampilkan atraksi satwa di kotanya, Rojas datang untuk mendokumentasikan pertunjukan tersebut. Di sana, ia menyaksikan seekor beruang cokelat mengendarai sepeda motor kecil dalam kondisi mengenakan moncong dan terikat pada kendaraan itu.

Bagi Rojas, pemandangan tersebut menyoroti kontras yang mencolok antara sifat liar sang beruang dan lingkungan buatan manusia yang dipaksakan kepadanya.

Lebih dari 50 negara di dunia kini telah melarang atau membatasi penggunaan satwa liar dalam pertunjukan sirkus. Kebijakan tersebut diterapkan karena kekhawatiran bahwa praktik semacam itu dapat menyebabkan penderitaan dan tekanan bagi hewan yang dilibatkan.

Wildlife Photographer of the Year dikembangkan dan diproduksi oleh Natural History Museum di London.