Bagikan:
JAKARTA - Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, tak hanya berperan menjaga ketersediaan air untuk sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan layanan air minum bagi masyarakat.
Infrastruktur air yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tersebut mampu memasok air baku sebesar 150 liter per detik, sehingga cakupan layanan air minum di tiga kecamatan meningkat menjadi 100 persen.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, bendungan merupakan infrastruktur strategis yang tidak hanya berfungsi mengendalikan air, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi.
"Swasembada pangan, swasembada energi dan swasembada air memerlukan tata kelola air tertib, berkelanjutan dan benar-benar sampai kepada rakyat. Bendungan adalah hulu dari pelayanan itu," ucap Dody dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 21 Juli.
Dengan pasokan air baku sebesar 150 liter per detik, Bendungan Jlantah dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan air minum di tiga kecamatan di Kabupaten Karanganyar.
Sebelum bendungan beroperasi, cakupan layanan air minum di wilayah tersebut baru mencapai sekitar 20 persen.
Kini, seluruh kebutuhan layanan air minum telah dapat dipenuhi atau mencapai 100 persen.
Tak hanya itu, bendungan juga mendukung pemenuhan kebutuhan air domestik masyarakat. Pemerintah memproyeksikan tingkat swasembada air di kawasan tersebut dapat mencapai 71,41 persen pada 2040.
Adapun Bendungan Jlantah diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat, 10 Juli 2026.
Bendungan yang dibangun Kementerian PU melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) itu memiliki kapasitas tampung sebesar 11,82 juta meter kubik dengan luas genangan mencapai 54,77 hektare.
Selain memasok air minum, Bendungan Jlantah juga berfungsi mengurangi risiko banjir di area persawahan seluas 87 hektare serta mendukung jaringan irigasi untuk 1.494 hektare lahan pertanian.
Melalui layanan irigasi tersebut, sebanyak 806 hektare sawah yang tersebar di 15 daerah irigasi memperoleh pasokan air secara berkelanjutan.
Adanya layanan irigasi tersebut mendorong peningkatan indeks pertanaman dari 172 persen menjadi 272 persen, sehingga petani dapat meningkatkan frekuensi tanam dalam setahun.
Pemerintah juga masih memiliki potensi pengembangan layanan irigasi seluas 688 hektare di 20 daerah irigasi serta mendukung program cetak sawah baru seluas 229,90 hektare.
BACA JUGA:
Di sektor energi, Bendungan Jlantah turut mendukung target swasembada energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 0,625 megawatt (MW) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 10 MW, sehingga total potensi pembangkitan listrik mencapai 10,625 MW.
Pembangunan Bendungan Jlantah dilaksanakan pada 2019 hingga 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp1,02 triliun.
Kehadirannya diharapkan menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi ancaman kekeringan, terutama saat fenomena El Nino sekaligus memperkuat ketahanan air, pangan dan energi di Kabupaten Karanganyar.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+