Jakarta -
Guru di pelosok ini rela bikin 'MBG mandiri' untuk muridnya. Meski sederhana, tetapi aksi ini jadi bentuk kepedulian di tengah keterbatasan akses.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum menjangkau semua sekolah di Indonesia. Salah satunya SD Kecil Ogolau, sekolah terpencil di Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Riska Andriani, guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, saat ini mengabdi di sekolah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan SD Kecil Ogolau menjadi satu-satunya sekolah di desanya yang belum terjangkau program MBG. Lokasi sekolah menjadi salah satu tantangan.
Terbatas akses karena kondisi geografis
Belum Dapat MBG, Guru SD di Pelosok Ini Bikin 'MBG Mandiri' buat Murid Foto: Instagram/@rskdrian
Untuk mencapainya, seseorang harus melewati medan berbukit dan jalan setapak yang sempit hingga menuju kawasan puncak gunung.
Kondisi itu membuat distribusi makanan menjadi tidak semudah sekolah-sekolah yang memiliki akses jalan lebih baik.
Melihat kondisi tersebut, Riska awalnya hanya berinisiatif membagikan susu dan camilan kepada murid menggunakan uang pribadinya.
Ia mengetahui beberapa muridnya memiliki kondisi ekonomi yang membuat kebutuhan makan sehari-hari pun tidak selalu mudah dipenuhi.
"Awalnya saya hanya berbagi susu dan snack menggunakan dana pribadi saya karena saat itu habis gajian. Saya tahu cerita mereka yang beberapa di antaranya secara ekonomi untuk makan pun kesulitan," ujar Riska kepada detikFood, Rabu (19/8).
Banyak dukungan dari donatur
Belum Dapat MBG, Guru SD di Pelosok Ini Bikin 'MBG Mandiri' buat Murid Foto: Instagram/@rskdrian
Kegiatan tersebut kemudian direkam dan dibagikan Riska melalui media sosial. Ia mengaku tidak memiliki ekspektasi apa pun karena unggahan itu awalnya hanya dibuat sebagai dokumentasi.
Namun, cerita tentang kondisi sekolah yang belum mendapatkan MBG ternyata membuat sejumlah temannya ikut tergerak.
"Program MBG mandiri bukan diinisiasi dari saya pribadi. Saya hanya meneruskan amanah teman-teman saya di sosial media yang menitipkan rezeki untuk anak-anak kami di pelosok," jelasnya.
Sejak saat itu, dukungan dari para donatur membuat kegiatan makan bersama bisa dilakukan lebih rutin.
Dalam seminggu, kegiatan tersebut maksimal pernah dilakukan 3 kali. Pada hari lainnya, Riska tetap menyiapkan susu dan camilan untuk dibawa atau dibagikan kepada murid.
Guru turut memasak sendiri
Jika dana dan kesempatan memasak tersedia, Riska bersama guru lainnya akan langsung menyiapkan makanan.
Para guru memasak secara bergantian. Ketika kesibukan tidak memungkinkan, mereka menitipkan proses memasak kepada wali murid.
Setiap pelaksanaan biasanya disiapkan sekitar 40 porsi makanan. Menunya sederhana, seperti nasi ayam, nasi telur, hingga nasi kuning.
Seluruh pembiayaan berasal dari donatur, tak hanya untuk bahan makanan, tetapi juga gas, perlengkapan memasak dan biaya mobilisasi menuju sekolah di kawasan pegunungan.
Harapan untuk MBG pemerintah
Meski disebut 'MBG mandiri', Riska menyadari makanan yang mereka siapkan belum tentu dapat memenuhi standar gizi seperti program MBG resmi pemerintah.
Namun, bagi mereka, kegiatan tersebut setidaknya menjadi cara agar anak-anak tetap bisa menikmati makan siang bersama di sekolah.
Riska berharap program MBG nantinya dapat menjangkau sekolah-sekolah yang berada jauh di pelosok, termasuk SD Kecil Ogolau.
Menurutnya, persoalan akses maupun ketiadaan dapur semestinya dapat dicarikan solusi jika program tersebut memang ditujukan untuk seluruh anak Indonesia.
"Harapannya, semoga bisa menjangkau pelosok. Dan masalah seperti akses, dapur tidak ada, dapat diatasi jika memang ini adalah program untuk seluruh anak Indonesia," pungkas Riska.
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video: Manfaat Susu Tak Bisa Diganti Daun Kelor di Program Makan Bergizi Gratis"
[Gambas:Video 20detik]
(raf/adr)