Banda Aceh (ANTARA) - Praktisi Minyak dan Gas (Migas) Indonesia, Rudianto Rimbono menyatakan jarak hingga kedalaman menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan lapangan gas.
"Pengembangan migas harus memperhatikan berbagai aspek agar seluruh proses eksplorasi, eksploitasi, hingga distribusi berjalan dengan baik," kata Rudianto Rimbono dalam keterangannya, di Banda Aceh, Jumat.
Mantan Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis dan Kepala Humas SKK Migas itu menjelaskan, terdapat sejumlah hal yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan lapangan gas, baik di laut (offshore) maupun di darat (onshore). Untuk lapangan gas di laut memperhatikan kondisi laut, kedalaman laut, reservoir, dan jarak dari pantai juga dapat mempengaruhi keputusan pengembangan.
“Jarak antara sumber gas offshore dengan daratan menjadi pertimbangan awal dalam menentukan apakah gas diproses di offshore atau dialirkan ke darat,” ujarnya.
Menurutnya, jika jarak lapangan gas dekat dengan daratan, maka secara default pemrosesan di darat dianggap lebih murah. Tetapi, asumsi tersebut tidak selalu benar karena juga harus memperhatikan kondisi teknis di darat.
“Kondisi lahan, seperti rawa dan kawasan yang dilindungi, dapat menjadi kendala pembangunan fasilitas,” kata Komisaris Utama PT Energi Mega Persada Tbk itu.
Rudianto menuturkan, secara umum fasilitas pemrosesan diupayakan sedekat mungkin dengan reservoir, karena jarak yang semakin jauh dapat menyebabkan penurunan tekanan yang bisa mengurangi jumlah cadangan bila diangkat secara natural.
Untuk menambah tekanan, biasanya bakal dibuat kompresor untuk mendorong supaya tekanan yang makin rendah ini masih bisa terjaga. "Namun, kompresor tentunya membutuhkan fasilitas pendukung agar dapat bekerja dengan baik," katanya.
Kemudian, lanjut dia, kedalaman laut sangat mempengaruhi biaya dan pilihan jenis fasilitas offshore. Pada laut dangkal, platform dapat dibangun langsung di atas lokasi sumur. Tetapi kalau laut dalam, pembangunan anjungan dan fondasinya menjadi lebih mahal.
“Kalau lautnya sudah terlalu dalam, pilihan-pilihan anjungan lepas pantai, ada tension leg, ada tool platform, dia akan diadu dengan subsea well,” ujar Rudianto.
Ia menambahkan, setiap alternatif teknis harus dianalisis bersama biaya modal (Capex) dan biaya operasional (Opex). Aspek lain yang perlu dipertimbangkan adalah kondisi darat, masyarakat dan faktor sosial, serta lalu lintas kapal laut.
Menurutnya, terdapat beberapa opsi pengolahan gas sebelum dikirim. Pertama melakukan pemrosesan gas sehingga kotoran dibuang, lalu mengeringkan gas tanpa membuang seluruh kotoran.
“Kalau gas belum diproses, maka gas tersebut masih mengandung banyak impurities, sehingga material yang digunakan untuk menyalurkannya harus yang khusus.
"Salah satu solusinya adalah melakukan processing terlebih dahulu di offshore. Setelah gas diproses, baru kemudian gas tersebut dikirim melalui pipa,” demikian Rudianto Rimbono.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.