Elephants

Beda Pola Asuh Anak? Ini Cara ‘Elegan’ Tegur Kakek-Nenek tanpa Bikin Tersinggung |Republika Online

October 14, 2026

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbedaan cara mengasuh anak antara orang tua dan kakek-nenek terkadang memicu persoalan dalam keluarga. Salah satunya ketika orang tua memiliki aturan tertentu mengenai makanan dan perawatan terhadap anak, tetapi kakek-nenek masih berpegang pada kebiasaan atau tradisi yang di anggap wajar untuk dilakukan oleh generasi terdahulu.

Di tengah perhatian terhadap kasus bayi meninggal dunia setelah diberi telur mentah, persoalan mengenai cara menyampaikan aturan pengasuhan kepada keluarga besar menjadi sangat penting. Orang tua perlu memastikan kebutuhan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas tanpa harus menimbulkan konflik dengan orang tua maupun mertua. Orang tua juga mungkin akan menghadapi tantangan untuk menyampaikan aturan pengasuhan kepada keluarga besar, terutama ketika terdapat perbedaan pandangan mengenai makanan dan perawatan pada anak.

Psikolog sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog yang akrab disapa Bunda Romy ini mengatakan perbedaan pola asuh antargenerasi sudah terjadi sejak dahulu. Namun, pengetahuan mengenai pengasuhan terus berkembang dan orang tua perlu mempertimbangkan perkembangan pengetahuan, hasil penelitian dan informasi dari tenaga ahli dalam menentukan cara merawat anak dengan baik.

“Zaman dulu misalnya pengetahuan belum sehebat atau seheboh di saat ini. Jadi, kita harusnya menggunakan cara yang terbaik untuk anak berdasarkan apa penelitian, fakta, dan sebagainya.Jangan yang dibawa turun-temurun, karena untuk cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk anak yang lain dan itu yang harus dipikirkan,” kata Bunda Romy saat diwawancara Republika pada Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, kebiasaan yang dahulu dianggap wajar tidak serta-merta sesuai untuk setiap anak. Karena itu, orang tua perlu mencari informasi berdasarkan penelitian dan berkonsultasi dengan tenaga ahli, terutama ketika keputusan pengasuhan berkaitan dengan kesehatan anak.

Meski demikian, menyampaikan aturan kepada orang tua atau mertua membutuhkan cara komunikasi yang tepat. Bunda Romy mengingatkan agar orang tua tidak menyampaikan larangan dengan nada yang terkesan menyalahkan atau merendahkan pengalaman generasi sebelumnya.

“Kalau kitanya mengatakan saya nggak mau pakai itu, nah mungkin akan menyinggung. Dan cara mengomunikasikannya juga harusnya lebih alus, lebih baik, tidak seperti kaya menyalahkan,” ujarnya.

Karena itu, orang tua sebaiknya menjelaskan alasan di balik itu. Ketika tidak mengizinkan anak mereka diberikan makanan tertentu, misalnya, orang tua perlu menerangkan pertimbangannya berdasarkan kebutuhan anak dan informasi dari tenaga kesehatan. Dengan begitu, pembicaraan tidak berpusat pada siapa yang paling berpengalaman mengasuh anak, melainkan pada apa yang dibutuhkan anak.

Jika perbedaan pendapat masih berlanjut, Bunda Romy menyarankan orang tua menggunakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kakek-nenek juga dapat diajak berkonsultasi bersama dokter anak agar mendapatkan penjelasan langsung dari tenaga ahli.

“Jadi kalau memang belum waktunya untuk menggunakan makanan padat, ya jangan dipaksa,” ujarnya.

Selain menjelaskan alasan, orang tua perlu menetapkan aturan yang jelas mengenai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan kepada anak. Aturan tersebut harus diketahui semua orang yang terlibat dalam pengasuhan, termasuk kakek-nenek, pengasuh, maupun asisten rumah tangga yang turut menjaga anak.