Sistem misil S-400 milik Rusia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kremlin mengonfirmasi bahwa Rusia sedang berkomunikasi dengan Turki terkait masa depan sistem pertahanan udara S-400 buatan Moskow di tengah laporan bahwa Ankara mempertimbangkan memindahkan sistem tersebut ke negara Teluk. Langkah itu disebut-sebut sebagai upaya Turki untuk membuka jalan kembali ke program jet tempur siluman F-35 Amerika Serikat.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada beberapa waktu lalu tidak membenarkan maupun membantah laporan mengenai kemungkinan transfer sistem S-400 milik Turki. Namun, ia mengakui pembahasan mengenai isu tersebut memang sedang berlangsung antara Moskow dan Ankara.
"Saya dapat mengatakan satu hal di sini: ini adalah isu yang sangat sensitif. Namun, kami telah menjalin kontak dengan pihak Turki mengenai masalah ini, dan kami akan terus menjalin kontak dengan mereka mengenai masalah ini," kata Peskov, sebagaimana diberitakan sejumlah media pertahanan.
Pernyataan itu muncul setelah media Turki melaporkan bahwa Ankara sedang mempertimbangkan memindahkan sistem pertahanan udara S-400 ke sebuah negara di kawasan Teluk yang identitasnya belum diumumkan.
Jurnalis senior Turki Abdulkadir Selvi melalui harian Hürriyet menulis bahwa sistem S-400 telah dijual kepada negara ketiga.
"Menurut informasi yang saya kumpulkan, sistem S-400 telah dijual ke negara ketiga. Penjualan akan diumumkan hari ini. Sistem S-400 akan dikirim ke sebuah negara di Teluk," tulis Selvi.
Laporan tersebut belum dikonfirmasi pemerintah Turki. Sejumlah media menyebut Uni Emirat Arab dan Qatar sebagai kandidat penerima sistem pertahanan udara buatan Rusia itu.
Jalan Menuju F-35
Isu S-400 kembali mencuat setelah muncul sinyal dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada sela-sela KTT NATO di Ankara awal pekan ini mengenai kemungkinan membaiknya hubungan pertahanan Washington dengan Ankara.
Ketika ditanya apakah Turki dapat kembali bergabung dalam program pesawat tempur F-35, Trump memberikan jawaban yang dinilai lebih terbuka dibandingkan sikap pemerintah AS sebelumnya.
"Mengapa kita tidak melakukannya? Turki, dalam banyak hal, jauh lebih loyal daripada negara-negara lain yang kita kira akan loyal," kata Trump.
Meski demikian, kepemilikan sistem S-400 masih menjadi hambatan utama.
Amerika Serikat mengeluarkan Turki dari program Joint Strike Fighter pada 2019 setelah Ankara tetap melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia. Saat itu Turki merupakan salah satu mitra industri utama program F-35 dan berencana membeli sekitar 100 unit pesawat tempur siluman tersebut.