Elephants

Bantuan pangan menyalakan harapan dapur beralas tanah

September 5, 2026

Manado (ANTARA) - Di sebuah rumah yang jauh dari kata mewah di Lingkungan V, Kelurahan Bailang, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), tinggal seorang ibu bernama Hayati Sahempa (45).

Di balik kesederhanaan hidupnya, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu yang setiap hari berusaha memastikan keluarganya tetap bisa makan dan bertahan.

Hayati merupakan warga yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tercatat berada pada kelompok desil 1 dan 2, bersama suaminya yang bekerja sebagai buruh harian lepas, ia harus menghidupi empat anak.

Pekerjaan sang suami tidak selalu tersedia setiap hari. Ketika ada pekerjaan, penghasilannya paling besar sekitar Rp60 ribu dalam sehari, namun ketika tidak ada panggilan kerja, tidak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang.

Kondisi tempat tinggal keluarga itu pun jauh dari kata layak. Rumah mereka berdinding tripleks, berdiri sederhana dengan segala keterbatasannya. Di bagian belakang terdapat dapur kecil yang menjadi tempat Hayati menyiapkan makanan untuk keluarganya. Dinding dapur hanya terbuat dari bambu dan seng, sementara lantainya masih berupa tanah, itupun tidak rata.

Bagi Hayati, dapur kecil itu bukan sekadar tempat memasak. Di tempat itulah ia berjuang menghadirkan makanan untuk keempat anaknya. Dengan peralatan seadanya, ia tetap menanak nasi dan memasak apa yang tersedia. Tidak ada kemewahan, hanya ada tekad seorang ibu untuk membuat keluarganya tetap bertahan dari hari ke hari.

Setiap kepulan asap dari dapur sederhana itu seolah menjadi saksi perjuangan Hayati. Di tengah penghasilan keluarga yang tidak menentu, beras dan bahan makanan bukanlah sesuatu yang selalu mudah didapatkan. Ada hari-hari ketika kebutuhan rumah tangga harus disesuaikan dengan uang yang ada di tangan.

Di dapur itu, Hayati menunjukkan bahwa keterbatasan tidak serta-merta memadamkan harapan.

Ia mungkin tidak memiliki rumah yang kokoh, penghasilan tetap, ataupun kehidupan yang berkecukupan. Tetapi ia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar, yakni keteguhan untuk terus berjuang demi empat anak yang menjadi tanggung jawabnya.

Di tengah kehidupan keluarga yang serba pas-pasan, Hayati sangat bersyukur, karena salah satu anaknya juga menerima bantuan dari pemerintah, yakni mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 21 Manado.

"Terima Kasih pak Presiden, terima kasih pemerintah Sulut, yang selalu membantu kami," kata Hayati dengan suara yang pelan.

Bagi keluarga yang setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup, kesempatan itu bukan sekadar kabar tentang sekolah. Bagi Hayati dan suaminya, diterimanya sang anak di Sekolah Rakyat adalah sebuah harapan baru. Harapan agar anak mereka tetap bisa mendapatkan pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik, meskipun kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.

Karena itu, ketika anaknya dinyatakan diterima di Sekolah Rakyat, Hayati merasa sangat bersyukur. Beban keluarga sedikit demi sedikit terasa lebih ringan, sementara yang paling penting, anaknya tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan mengejar cita-cita.

Bantuan pangan

Di tengah kesibukan Hayati menjalani hari-hari sederhana bersama keluarganya, sebuah pesan masuk dari kepala lingkungan. Pesan itu mungkin terlihat singkat, tetapi bagi Hayati, isinya membawa kabar yang begitu berarti.

Kepala Lingkungan V Bailang, Ibrahim menyampaikan pesan bahwa nama Hayati tercatat sebagai penerima bantuan pangan beras dari pemerintah untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Beras tersebut disalurkan melalui Perum Bulog hingga ke kantor kelurahan untuk kemudian diteruskan kepada warga penerima manfaat.

Membaca pesan tersebut, hati Hayati terasa lega, apalagi penghasilan suaminya sebagai buruh harian lepas yang tidak menentu, bantuan beras itu menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi keluarganya.

Bagi sebagian orang, beberapa kilogram beras mungkin terlihat sederhana, namun bagi keluarga Hayati yang harus menghidupi empat orang anak dengan penghasilan yang tidak selalu ada setiap hari, beras adalah kebutuhan utama yang sangat menentukan apa yang tersaji di meja makan.

Kabar tersebut segera menjadi cerita bahagia di dalam rumah sederhana mereka. Ada rasa syukur karena untuk beberapa waktu ke depan, kebutuhan beras keluarga sedikit lebih ringan. Hayati tidak lagi sepenuhnya cemas memikirkan bagaimana mendapatkan beras ketika uang belanja sedang tidak mencukupi.

Bantuan itu kemudian menjadi harapan yang nyata. Beras yang disalurkan pemerintah melalui Bulog Divre Sulutgo hingga ke kantor kelurahan bukan hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di tangan keluarga seperti Hayati, bantuan tersebut berubah menjadi nasi yang tersaji di piring anak-anaknya.

Di dapur kecil itu, Hayati kembali memiliki alasan untuk menyalakan tungku dan menanak nasi.

Kepulan asap dari dapur sederhana itu seakan menjadi gambaran kecil tentang bagaimana sebuah bantuan dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan keluarga yang membutuhkan.

Bagi Hayati, bantuan pangan itu bukan sekadar beras. Ini adalah bentuk perhatian yang membuatnya merasa tidak sendirian menghadapi kesulitan.

Menurut Hayati, hal ini memberi sedikit ruang untuk bernapas, sedikit beban yang terangkat, dan sebuah kesempatan untuk terus berjuang memenuhi kebutuhan kelima anaknya.

Harapannya semoga bantuan seperti ini dapat terus menjadi penguat bagi keluarga-keluarga yang berada dalam kondisi sulit, agar mereka tetap mampu bertahan, memenuhi kebutuhan pangan, dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Perjalanan tak terlihat

Di balik setiap karung beras yang sampai ke tangan masyarakat, ada perjalanan panjang yang tidak selalu terlihat. Ada proses pengadaan, penyimpanan, pengangkutan, hingga penyaluran yang harus dilakukan dengan tepat agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Di Sulawesi Utara, menurut Kepala Perum Bulog Divre Sulutgo Ermin Tora, upaya tersebut dilakukan oleh Bulog Sulutgo melalui penyaluran bantuan pangan beras kepada 281.794 penerima bantuan pangan di 15 kabupaten dan kota se-Sulut, dengan target penyaluran mencapai sekitar 8,45 juta kg beras.

Angka tersebut bukan sekadar jumlah di atas kertas. Di balik ratusan ribu penerima dan jutaan kilogram beras yang disalurkan, ada keluarga-keluarga yang setiap harinya berjuang memenuhi kebutuhan pangan.

Ada orang tua yang harus membagi penghasilan terbatas untuk kebutuhan rumah tangga, ada anak-anak yang tetap membutuhkan makanan bergizi, dan ada dapur-dapur sederhana yang menunggu beras untuk kembali mengepulkan asap.

Karena itu, bagi Bulog Sulutgo, penyaluran bantuan pangan bukan hanya persoalan memindahkan beras dari gudang ke titik distribusi. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan bantuan bergerak dari satu rantai ke rantai berikutnya, hingga akhirnya diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran.

Dari gudang, beras disiapkan untuk didistribusikan ke berbagai wilayah. Perjalanan kemudian berlanjut menuju titik-titik penyaluran, termasuk kantor kelurahan, tempat masyarakat penerima manfaat dapat menerima bantuan pangan tersebut.

Ketika beras bantuan itu akhirnya sampai, perjalanan jutaan kilogram beras yang dimulai dari gudang Bulog menemukan maknanya di dapur-dapur warga.

Melalui penyaluran yang melibatkan berbagai pihak, Bulog Sulutgo berupaya memastikan bantuan pangan pemerintah dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Sebab pada akhirnya, keberhasilan satu bantuan bukan hanya diukur dari berapa ton beras yang berhasil disalurkan, tetapi juga dari berapa banyak keluarga yang dapat merasakan manfaatnya.

Daya beli

Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Prof Dr Joy Tulung mengatakan bahwa dukungan pemerintah terhadap kebutuhan beras memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar memastikan masyarakat tetap memiliki bahan pangan untuk dikonsumsi.

Bayangkan, satu keluarga yang biasanya harus menyisihkan sebagian besar penghasilannya untuk membeli beras. Ketika sebagian kebutuhan beras tersebut ditanggung pemerintah, ada ruang baru dalam anggaran keluarga. Uang yang sebelumnya habis untuk membeli beras, kini bisa digunakan untuk membeli ikan, telur dan sayur, sebagian lainnya mungkin dipakai untuk membayar ongkos sekolah anak, transportasi, atau memenuhi kebutuhan kesehatan. Di situlah efek bantuan mulai terasa lebih jauh.

Uang yang tersisa di kantong keluarga tidak berhenti di rumah, ketika digunakan untuk membeli ikan, pedagang ikan mendapatkan penghasilan. Saat membeli sayuran, uang kembali berputar ke pedagang dan petani, saat membayar transportasi, pengemudi ikut merasakan manfaatnya, begitu pula ketika keluarga membeli kebutuhan lainnya di warung atau pasar.

Mekanisme sederhana tersebut menunjukkan bahwa bantuan terhadap kebutuhan pokok dapat sekaligus menjadi cara untuk menjaga daya beli masyarakat.

Dengan kata lain, ketika pemerintah membantu menyediakan beras, yang dijaga bukan hanya isi dapur masyarakat, tetapi juga kemampuan keluarga untuk tetap memenuhi kebutuhan lainnya.

Dari satu karung beras, manfaatnya bisa mengalir ke banyak arah, ke meja makan keluarga, ke pasar tradisional, ke pedagang kecil, hingga ke roda perekonomian lokal.

Inilah mengapa menjaga daya beli masyarakat bukan semata-mata soal berapa banyak uang yang diberikan kepada keluarga, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kebijakan mampu memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap berbelanja dan membuat uang terus berputar di tingkat lokal.

Bantuan gratis

Gubernur Sulut Yulius Selvanus menyampaikan kabar baik kepada masyarakat Sulut terkait program Bantuan Pangan Cadangan Beras Pemerintah untuk alokasi Juli sampai September 2026.

Diharapkan, bantuan pangan ini dapat mengalir lancar dan langsung membantu meringankan isi dapur keluarga sehari-hari demi menjaga ketahanan pangan di Bumi Nyiur Melambai itu.

Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sulut Reza Dotulung mengatakan perlu ditegaskan dan ingatkan kembali bahwa bantuan beras pemerintah ini bersifat 100 persen gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Jika di lapangan, warga menemukan adanya oknum petugas yang meminta uang administrasi, uang transportasi, atau pungutan dalam bentuk apa pun, jangan ragu untuk segera melaporkannya kepada aparat pemerintah desa atau kelurahan setempat agar bisa langsung ditindaklanjuti.

Bantuan pangan bukan hanya tentang apa yang tersimpan di dapur. Lebih dari itu, bantuan tersebut menghadirkan rasa bahwa di tengah kesulitan, masih ada kepedulian dan harapan, untuk terus bertahan dan melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.