Elephants

Bakteri ‘H. pylori’ diam-diam hidup di lambung, sains ungkap risikonya memicu kanker usus

September 22, 2026

Ada bakteri yang dapat hidup diam-diam di dalam lambung selama puluhan tahun dan ternyata mungkin memiliki kaitan yang tak terduga dengan kanker usus besar.

Sebuah penelitian baru memperkirakan bahwa paparan Helicobacter pylori (H. pylori) mungkin berkaitan dengan lebih dari satu dari setiap lima kasus kanker usus besar di seluruh dunia.

Angka ini cukup mengejutkan, terutama karena H. pylori sangat umum ditemukan. Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi: studi tersebut tidak membuktikan bahwa H. pylori menyebabkan kanker. Studi ini hanya memperkirakan seberapa banyak kasus kanker usus besar yang mungkin berkaitan dengan paparan bakteri tersebut.

Kanker usus besar, yang juga dikenal sebagai kanker kolorektal, berkembang di usus besar atau rektum. Kanker ini termasuk salah satu jenis kanker yang paling banyak didiagnosis di dunia, dengan sekitar 1,9 juta kasus setiap tahunnya.

Kita sudah mengetahui beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar. Faktor-faktor tersebut antara lain usia lanjut, riwayat kanker dalam keluarga, merokok, obesitas, konsumsi alkohol, dan pola makan yang tinggi daging olahan. Namun, para peneliti kini semakin tertarik pada kemungkinan faktor lain: triliunan mikroorganisme yang hidup di sistem pencernaan kita, dan infeksi yang dapat mengubah lingkungan tersebut.


Read more: Sering konsumsi pangan ultraproses dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus


H. pylori menjadi kandidat yang menarik diteliti. Bakteri ini tidak hanya beradaptasi untuk bertahan hidup di lingkungan asam dalam lambung, tetapi juga diketahui dapat menyebabkan kanker lambung.

Diperkirakan sekitar setengah populasi dunia terinfeksi H. pylori, meski angkanya sangat bervariasi antarnegara. Infeksi sering terjadi sejak masa kanak-kanak.

Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak pernah mengalami gejala. Namun, pada sebagian orang, H. pylori menyebabkan peradangan jangka panjang pada lapisan lambung. Kondisi ini dapat menyebabkan tukak lambung dan, pada sebagian kecil kasus, kanker lambung. Bukti bahwa H. pylori dapat menyebabkan kanker sudah cukup kuat sehingga bakteri ini dikategorikan sebagai karsinogen.

Hubungan antara H. pylori dan kanker usus besar

Namun, hubungan antara bakteri tersebut dengan kanker usus besar masih belum jelas.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa orang yang terinfeksi H. pylori memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal.

Studi terbaru ini mencoba memberikan konteks pada temuan tersebut. Para peneliti mengumpulkan data dari 43 penelitian yang melibatkan hampir 49 juta orang, lalu menggabungkannya dengan informasi mengenai prevalensi H. pylori dan kanker usus besar di seluruh dunia.

Secara keseluruhan, orang yang pernah terpapar H. pylori memiliki risiko sekitar 1,6 kali lebih tinggi untuk didiagnosis kanker usus dibandingkan mereka yang tidak menunjukkan bukti infeksi. Berdasarkan angka tersebut, para peneliti memperkirakan sekitar 22% kasus kanker usus di seluruh dunia dapat dikaitkan dengan H. pylori.

Namun, angka tersebut tidak berarti H. pylori terbukti menyebabkan satu dari lima kasus kanker usus besar. Perhitungannya sangat bergantung pada penelitian yang digunakan dan, yang penting, mengasumsikan bahwa setidaknya sebagian dari hubungan yang ditemukan bersifat sebab-akibat.

Dokter menulis catatan saat pasien menunjukkan area panggul yang sakit, dengan model medis usus besar terpajang di meja.

Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering didiagnosis di seluruh dunia. Jo Panuwat D/ Shutterstock

Ketika peneliti membatasi analisis pada 14 penelitian berbasis populasi dan penelitian kohort–jenis penelitian yang umumnya lebih cocok untuk melihat bagaimana risiko berkembang dari waktu ke waktu–perkiraan kasus kanker usus yang berkaitan dengan H. pylori turun menjadi sekitar 12%.

Ada juga kemungkinan bahwa hubungan tersebut sebenarnya mencerminkan perbedaan lain antara orang yang terinfeksi H. pylori dan mereka yang tidak, seperti pola makan, kebiasaan merokok, tingkat aktivitas fisik, kondisi sosial ekonomi dan akses terhadap layanan kesehatan.

Bagaimana H. pylori memengaruhi risiko kanker usus besar?

Meski begitu, ada beberapa kemungkinan yang masuk akal mengenai bagaimana H. pylori dapat memengaruhi kanker usus besar.

Salah satunya melalui peradangan kronis. H. pylori dapat memicu respons kekebalan tubuh selama puluhan tahun. Peradangan yang berkepanjangan dapat memengaruhi sinyal kimia yang berperan dalam pertumbuhan dan perbaikan sel. Dalam kondisi tertentu, peradangan ini juga dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel rusak atau abnormal untuk bertahan hidup.

Peradangan kronis sudah diketahui berkontribusi dalam perkembangan sejumlah jenis kanker. Oleh karena itu, hal ini memberikan kemungkinan hubungan biologis antara H. pylori dan kanker.

Kemungkinan lainnya berkaitan dengan mikrobioma usus. Dengan mengubah peradangan dan produksi asam lambung, H. pylori mungkin bisa memengaruhi jenis mikroorganisme yang dapat bertahan hidup di sistem pencernaan. Perubahan ini dapat kemudian memengaruhi zat kimia yang dihasilkan usus dan cara respons lapisan usus terhadap kerusakan.

H. pylori juga mungkin bisa memengaruhi hormon dan molekul lain yang berperan dalam proses pencernaan dan pertumbuhan sel. Meski menarik, sejauh ini belum ada bukti rangkaian kejadian yang menghubungkan infeksi di lambung dengan kanker di usus besar (rektum).

Mungkin temuan yang paling menarik dari studi ini terkait dengan apa yang terjadi setelah infeksi H. pylori diobati.

H. pylori biasanya dapat dibasmi dengan kombinasi antibiotik dan obat yang menekan produksi asam lambung. Dari empat penelitian observasional yang termasuk dalam analisis, orang-orang yang menerima pengobatan untuk H. pylori tampaknya mempunyai risiko lebih rendah terkena kanker usus besar. Perbedaan ini mulai terlihat setelah sepuluh tahun.

Namun, karena penelitian-penelitian ini bersifat observasional, bukan uji klinis yang secara acak membagi orang untuk menerima pengobatan atau tidak, kita belum dapat menyimpulkan bahwa menghilangkan H. pylori dapat mencegah kanker usus.

Apakah sekarang kita harus tes H. pylori?

Jadi, apakah sekarang kita harus untuk menjalani tes H. pylori untuk mengurangi risiko kanker usus?

Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, tidak. Kita masih membutuhkan bukti yang lebih kuat untuk menunjukkan bahwa mendeteksi dan mengobati H. pylori benar-benar dapat mengurangi angka kanker kolorektal.

Untuk saat ini, cara paling efektif mengurangi risiko kanker usus tetap langkah-langkah yang sudah didukung bukti kuat.

Salah satu langkahnya adalah skrining kanker usus, yang dapat menemukan kanker pada tahap awal yang lebih mudah diobati skrining juga terkadang dapat mencegah kanker dengan menemukan dan mengangkat pertumbuhan prakanker yang disebut polip.


Read more: Mengapa deteksi dini kanker lebih baik daripada mengobati saat sudah parah?


Menjaga berat badan yang sehat, aktif secara fisik, tidak merokok, membatasi konsumsi alkohol, dan mengurangi konsumsi daging olahan juga dapat mengurangi risiko kanker usus.

Gejala seperti darah dalam tinja, perubahan pada kebiasaan buang air besar yang berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau rasa tidak nyaman di perut yang berkelanjutan sebaiknya tidak diabaikan. Meski demikian, gejala-gejala tersebut sering kali disebabkan oleh kondisi selain kanker.

Makna yang lebih luas dari penelitian ini mungkin terletak pada apa yang bisa kita pelajari tentang penyebab kanker. Kita cenderung memandang kanker usus besar dari aspek genetik, penuaan, dan gaya hidup. Namun, beberapa jenis kanker juga memiliki komponen infeksi.

Oleh karena itu, kemungkinan bahwa infeksi yang didapat pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi risiko kanker usus besar puluhan tahun kemudian patut diteliti secara mendalam.


Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris