Jakarta (ANTARA) - Staf Ahli Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI Fithra Faisal menilai sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan investasi.
Ia menilai kondisi fiskal dan moneter Indonesia saat ini masih memiliki ruang yang memadai untuk menghadapi tekanan eksternal.
“Secara makro, fondasi kita sangat siap menahan tekanan eksternal seperti fluktuasi US Treasury Yield dan dinamika suku bunga global. Tantangan kita ke depan adalah mempertahankan momentum transisi menuju supply-driven economy melalui penguatan investasi produktif dan pengembangan kualitas SDM,” kata Fithra dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Fithra dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 menyebut penerimaan negara tumbuh 25,4 persen per Agustrus 2026, ditopang oleh pajak pertambahan nilai (PPN) yang meningkat 38,9 persen.
Baca juga: Indef dorong peningkatan devisa dari sektor ekonomi kreatif
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Kamdani mengatakan stabilitas fiskal dan moneter perlu diteruskan ke sektor riil agar dapat mendorong ekspansi usaha dan investasi.
Menurut dia, peluang investasi masih terbuka melalui pemanfaatan 20 perjanjian perdagangan bebas (FTA/CEPA), relokasi industri global, hilirisasi, serta transisi energi.
“Kunci utamanya adalah mengonversi kepercayaan ini menjadi realisasi ekspansi bisnis dan produksi nyata, melalui percepatan deregulasi, efisiensi biaya logistik, dan penyederhanaan perizinan,” ujar Shinta.
Ia mengatakan APINDO juga membentuk Satuan Tugas (Satgas) Debottlenecking untuk membantu mengatasi hambatan investasi, termasuk terkait kepastian hukum dan efisiensi regulasi perizinan.
Baca juga: BP BUMN: Transformasi perum fokus pada perbaikan berkelanjutan
Sementara itu, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengatakan penguatan investasi perlu diikuti dengan peningkatan keterhubungan antara industri besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sebab, sektor swasta memiliki peran besar dalam perekonomian nasional, dengan kontribusi sekitar 80 persen per 2026 ini terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Untuk mencapai target pertumbuhan yang berkualitas, pemerintah dan pelaku usaha perlu berjalan seiring. Penyempurnaan ekosistem regulasi dan skema kemitraan industri skala besar dengan UMKM akan memicu efek pengganda yang luas bagi peningkatan pendapatan masyarakat,” kata Aviliani.
Adapun ANTARA Business Forum 2026 mengusung tema “The Synergy Horizon: Positioning Indonesia for the Next Decade” dan mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, ekonom, serta pemangku kepentingan untuk membahas arah perekonomian dan investasi Indonesia menuju 2027 dan satu dekade mendatang.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.