Senin, 19 Oktober 2026 - 05:00 WIB
Jakarta, VIVA - Kepala Seksi Profesi dan Pengamanan (Kasipropam) Korpolairud Baharkam Polri berikan laporan terkait awal mula cerita dugaan polisi tewas ditembak polisi, yakni Bharada Laurentius Valdo Fernandez Lewai, dan Bharada Andika Rahmadani yang diduga sebagai pelaku.
Baca Juga
Berdasarkan laporan tersebut, insiden itu terjadi sekitar pukul 04.40 WIB di ruang pemadam kebakaran Ditpoludara, Pondok Cabe.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kemudian berdasarkan laporan awal tersebut, dugaan pembunuhan disebut dipicu persoalan pribadi. Andika mengaku kerap disalahkan dan merasa menjadi korban perundungan (bullying) oleh Valdo.
Baca Juga
Andika juga disebut mengaku telah menyiapkan senjata tajam jenis golok sejak 12 Oktober 2026 karena merasa ketakutan berlebihan.
Pada Jumat dini hari, Andika membawa senjata tajam itu dari rumah menuju markas. Setibanya di lokasi, ia menyimpan tas di loker staf Pamperslog, kemudian menuju pos penjagaan untuk mengambil senjata api.
Baca Juga
Setelah mengambil senjata api, Andika mendatangi ruang pemadam kebakaran tempat Valdo sedang beristirahat.
Menurut keterangan awal dalam laporan tersebut, Andika menembakkan senjata api empat kali ke arah tubuh korban. Setelah Valdo terjatuh, ia kembali menembak beberapa kali ke arah kepala korban.
Andika kemudian menggorok leher korban menggunakan pisau yang dibawanya.
Usai kejadian, Andika menyerahkan diri ke Unit Provos Ditpoludara. Petugas kemudian mengamankan dan meminta keterangan awal darinya.
Menyikapi kasus ini, Kuasa Hukum Bharada Laurentius Valdo Fernandez Lewai Petrus Bala Pattyona, menduga pembunuhan itu tidak hanya dilakukan oleh satu orang.
Petrus mendasarkan dugaan tersebut pada kondisi tubuh korban yang mengalami sejumlah luka tembak dan luka akibat senjata tajam.
Bahkan ia mendapat informasi bahwa polisi telah mengamankan senjata api dan senjata tajam dalam penanganan kasus tersebut.
“Kami berharap kasus ini dibuka seterang-terangnya, siapa pelakunya dan apa motivasinya. Ini kasus pembunuhan berencana, dan kemungkinan tidak dilakukan satu orang,” ujar Petrus kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Petrus menilai banyaknya luka pada tubuh korban menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan keterlibatan orang lain.
“Tidak mungkin satu orang bisa menggunakan tiga senjata pada saat yang bersamaan,” jelasnya.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, Petrus meminta penyidik mengungkap motif serta memastikan apakah ada pihak lain yang terlibat.