Jakarta (ANTARA) — Meningkatnya minat wisata keluarga ke Jepang mendorong kebutuhan akan perencanaan perjalanan yang lebih matang, terutama bagi rombongan yang membawa anak-anak dan lansia. Salah satu aspek yang kerap menjadi tantangan adalah penggunaan Shinkansen, mulai dari pemesanan kursi, pengaturan bagasi, hingga menentukan apakah JR Pass masih menjadi pilihan yang ekonomis.
CEO Avenir, Tiara Hanita, mengatakan kenyamanan perjalanan keluarga tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang dikunjungi, tetapi juga oleh pengelolaan perpindahan antarkota agar seluruh anggota rombongan dapat menikmati perjalanan tanpa kelelahan.
"Keluarga tiga generasi punya kebutuhan yang berbeda, sehingga perpindahan antarlokasi harus dirancang dengan cermat agar anak-anak maupun orang tua tetap nyaman sepanjang perjalanan," ujar Tiara.
Ia menjelaskan, bagi keluarga yang bepergian menggunakan Shinkansen, pemesanan kursi reservasi menjadi langkah penting agar seluruh anggota rombongan dapat duduk bersama. Selain itu, wisatawan yang membawa koper berukuran besar juga disarankan melakukan reservasi ruang bagasi sejak awal karena sejumlah layanan Shinkansen menerapkan aturan khusus untuk bagasi oversized.
Selain urusan di dalam kereta, waktu transit juga perlu diperhitungkan secara realistis. Menurutnya, perpindahan peron di stasiun besar seperti Tokyo, Kyoto, maupun Shin-Osaka idealnya diberi waktu sekitar 15 hingga 20 menit, terutama jika rombongan membawa stroller atau lansia yang membutuhkan akses lift.
Tiara juga mengingatkan wisatawan agar tidak langsung membeli JR Pass tanpa menghitung total biaya perjalanan. Dengan harga JR Pass 7 hari yang kini berada di kisaran ¥50.000, tiket satuan justru lebih ekonomis apabila wisatawan hanya melakukan perjalanan pulang-pergi Tokyo–Osaka. JR Pass dinilai lebih menguntungkan bagi wisatawan yang mengunjungi beberapa kota sekaligus, seperti Kyoto, Hiroshima, atau Kanazawa dalam satu periode perjalanan.
Untuk mobilitas di dalam kota, wisatawan disarankan menggunakan kartu IC seperti Suica, PASMO, atau ICOCA yang dapat digunakan di berbagai jaringan kereta, subway, dan bus. Namun, kartu tersebut tidak dapat digunakan sebagai pengganti tiket dasar Shinkansen sehingga tiket kereta cepat tetap harus dibeli secara terpisah.
Sebagai langkah mengurangi kerepotan saat berpindah kota, keluarga juga dapat memanfaatkan layanan pengiriman koper antarkota (takkyubin), sehingga hanya perlu membawa barang bawaan ringan selama perjalanan menggunakan Shinkansen.
Menurut Tiara, tren perjalanan wisata keluarga ke Jepang dalam beberapa tahun terakhir juga mulai bergeser ke konsep slow travel, yakni mengurangi jumlah kota yang dikunjungi dan memperbanyak waktu eksplorasi di setiap destinasi.
Melalui pendekatan tersebut, operator tour Jepang seperti Avenir menyusun perjalanan dengan mempertimbangkan ritme keluarga, termasuk waktu transfer, kebutuhan anak dan lansia, hingga pengaturan transportasi agar perjalanan lebih efisien dan nyaman.
Ia menambahkan, wisatawan juga perlu menyiapkan dokumen perjalanan sejak jauh hari, termasuk persyaratan bagi anak-anak serta memastikan ketentuan visa Jepang yang berlaku melalui sumber resmi sebelum keberangkatan.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.