Badung, Bali (ANTARA) - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali belum mencatat pembatalan kunjungan wisatawan akibat kemacetan lalu lintas buntut antrean panjang di sejumlah SPBU.
“Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya,” kata Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra saat ditemui di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat.
Meski demikian, kondisi kemacetan mulai mempengaruhi pengaturan perjalanan wisata, sehingga sejumlah jadwal tur dialihkan ke destinasi yang lebih dekat dan tidak terlalu padat.
Winastra mengatakan kemacetan menjadi kendala bagi biro perjalanan wisata, terutama dalam mengatur jadwal kunjungan wisatawan yang menggunakan kendaraan berukuran kecil, seperti mobil van.
Bahkan, kondisi lalu lintas di sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sempat menghambat mobilitas anggota ASITA menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Menurutnya, perubahan rencana perjalanan dilakukan untuk menyesuaikan kondisi lalu lintas di lapangan.
Sejumlah kunjungan yang semula dijadwalkan menuju destinasi tertentu, seperti Tanah Lot, dialihkan ke lokasi yang lebih dekat agar wisatawan tetap dapat menjalankan kegiatan wisatanya.
Winastra menjelaskan, pihak biro perjalanan juga telah menyampaikan kondisi lalu lintas secara objektif kepada wisatawan.
Sejauh ini, wisatawan dinilai memahami situasi yang terjadi sehingga penyesuaian perjalanan dapat dilakukan tanpa harus membatalkan seluruh agenda wisata.
“Kegiatan sudah terjadwal karena ini kan tidak berpengaruh kepada pesawat ya, cuma ada di Bali saja. Perubahan tur ada yang tadinya ke Tanah Lot karena macet, dia berubah ke tempat yang lebih dekat dan sebagainya. Kita sudah sampaikan secara objektif situasi di lapangan kepada wisatawan dan wisatawan sangat memahaminya,” ujarnya.
Meski belum ada pembatalan, Winastra berharap persoalan kemacetan tidak berlangsung terlalu lama.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kenyamanan wisatawan dan menyulitkan biro perjalanan dalam memenuhi jadwal perjalanan yang telah disusun.
Baca juga: Wayan Koster sebut pariwisata Bali masih aman di tengah antrean BBM
Baca juga: Menko Bahlil perintahkan Pertamina tambah kapal BBM ke Jatim-Bali
Ia mengungkapkan, pernah terjadi anggota ASITA yang terkendala kemacetan di sekitar SPBU sehingga kesulitan mencapai bandara.
Kondisi ini menjadi perhatian karena keterlambatan perjalanan darat dapat mengganggu agenda wisatawan, termasuk ketika mereka harus mengejar jadwal penerbangan.
“Harapan kami adalah ruas jalan yang memang dipakai untuk berjalan ke tempat-tempat yang misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang,” katanya.
Winastra juga menilai, apabila situasi tersebut terus berlanjut, dampaknya terhadap kunjungan wisatawan akan sulit dipastikan.
Karena itu, ia berharap penanganan kemacetan dapat segera dilakukan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi industri pariwisata Bali.
Ia menyebut, biro perjalanan akan menjelaskan situasi tersebut kepada mitra di luar negeri sebagai kondisi di luar kendali atau force majeure, apabila keadaan memang memenuhi kriteria tersebut.
“Harapannya, hal ini jangan sampai terlalu lama agar kita juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini adalah force majeure,” katanya.
Menurut Winastra, keberlanjutan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi, tetapi juga oleh kelancaran akses dan kenyamanan wisatawan selama berada di Bali.
Karena itu, ia berharap penanganan kemacetan menjadi perhatian bersama agar aktivitas wisata tetap berjalan dan kepercayaan wisatawan terhadap Bali tetap terjaga.
Baca juga: Pertamina optimalkan layanan deliveri urai antrean BBM di Bali
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Pasokan dan Distribusi BBM, Kondisi Layanan di Bali Berangsur Kondusif
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.