Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasa asisten suara di dalam mobil modern kini semakin "mengerti" kebutuhan pengemudi? Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang terpasang di dasbor kendaraan memang tidak lagi sekadar bertugas menyapa, menjawab pertanyaan, atau memutar lagu favorit.
Di balik kemampuan asisten AI yang semakin halus dan responsif, sejumlah raksasa otomotif global mulai melihat teknologi tersebut sebagai sumber pendapatan baru. Caranya, melalui penawaran perangkat lunak (software) dan layanan berlangganan kepada konsumen.
Mengutip Carscoops, Jumat (11/9/2026), kemampuan asisten AI di mobil kini berkembang jauh melampaui fitur perintah suara konvensional. Teknologi ini tidak hanya semakin pintar dan cepat, tetapi juga mampu memahami berbagai informasi mengenai kendaraan yang digunakan.
Analis industri dari AutoPacific, Paul Waatti, mengatakan keunggulan utama AI otomotif terletak pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai sistem kendaraan secara mendalam.
"Asisten otomotif yang terintegrasi dengan baik dapat mengetahui kondisi kendaraan, status pengisian daya, tekanan ban, rute, pengaturan HVAC, hingga status perawatan," ujar Paul Waatti.
Berbeda dengan sistem perintah suara generasi lama yang umumnya hanya menjalankan perintah sederhana, asisten AI terbaru dirancang untuk memahami konteks dan kondisi kendaraan.
Teknologi tersebut dapat terhubung dengan berbagai sistem di dalam mobil. Pengemudi, misalnya, bisa mendapatkan informasi mengenai status baterai atau pengisian daya, tekanan ban, sistem pendingin kabin, rute perjalanan, hingga jadwal perawatan kendaraan.
Integrasi tersebut membuat interaksi antara pengemudi dan kendaraan menjadi lebih alami. Pengemudi tidak harus menghafalkan perintah tertentu untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
Kemampuan inilah yang dinilai dapat menjadi pembeda penting bagi produsen mobil di tengah persaingan industri otomotif yang semakin mengarah ke kendaraan berbasis teknologi.
Salah satu produsen yang agresif memanfaatkan peluang tersebut adalah General Motors (GM).
Setelah menyematkan AI Google Gemini ke sejumlah lini produknya, GM juga mengembangkan model AI internal. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar bisnis berbasis perangkat lunak dan layanan berlangganan.
GM menargetkan pendapatan dari sektor software dan layanan berlangganan mencapai 10,5 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 166 triliun.
Potensi bisnis tersebut menunjukkan bahwa mobil modern tidak lagi hanya dipandang sebagai produk yang menghasilkan pendapatan ketika kendaraan terjual.
Perangkat lunak yang berada di balik kendaraan juga dapat menjadi sumber pemasukan berulang. Produsen berpeluang menawarkan berbagai fitur tambahan yang dapat diakses konsumen melalui sistem berlangganan.