Liputan6.com, Washington, DC - Kapal induk USS George Washington yang berbasis di Asia kini beroperasi di Timur Tengah, kata militer Amerika Serikat (AS), Kamis (20/8/2026). Kapal tersebut menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah lama dikerahkan ke kawasan itu, di tengah laporan mengenai masalah kesehatan mental awak dan kekurangan pasokan selama mendukung perang Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang membawahi operasi militer AS di Timur Tengah, mengatakan melalui media sosial bahwa USS George Washington tiba di kawasan tersebut pada Rabu (19/8). Belum jelas kapan USS Abraham Lincoln akan tiba kembali di AS atau apakah kapal itu akan singgah di pelabuhan dalam perjalanan pulang. Perjalanan kembali ke AS memakan waktu sedikit lebih dari satu bulan.
Menurut laporan Associated Press, kedatangan USS George Washington berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai panjangnya masa penugasan USS Abraham Lincoln. Kapal induk itu telah berada di laut tanpa singgah selama lebih dari 250 hari, sebuah rekor, di tengah laporan mengenai tekanan yang dialami awak, buruknya kondisi kesehatan mental, serta kekurangan pasokan, termasuk makanan dan perlengkapan kebersihan.
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat telah mendesak Kementerian Pertahanan AS bertanggung jawab atas kondisi di USS Abraham Lincoln. Namun, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan laporan mengenai kondisi tersebut sepenuhnya tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya.
Hegseth berbicara dengan awak USS Abraham Lincoln pekan lalu. Laksamana Brad Cooper, kepala CENTCOM, juga mengunjungi kapal tersebut pada akhir pekan lalu. Dalam tulisan yang dimuat The Wall Street Journal pada Minggu (16/8), Cooper mengatakan para awak telah "menunjukkan kinerja yang akan dikenang sepanjang masa, dan sekarang kalian akan pulang".
Penugasan kapal induk dalam waktu lama membebani personel militer yang harus berbulan-bulan jauh dari rumah. Penugasan semacam itu juga menambah beban pada kapal beserta berbagai peralatannya. Meski pertempuran antara AS dan Iran yang kembali memanas telah mereda dalam beberapa pekan terakhir, Angkatan Laut AS masih menegakkan blokade yang kembali diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Pemerintahan Trump juga belum memberikan kejelasan mengenai bagaimana perang tersebut akan diakhiri.
Hegseth mengatakan AS dapat mempertahankan blokade itu "tanpa batas waktu".