Elephants

AS Tak Bergegas Tekan Negara Ini Meski Rezim Ingin Akhiri Pemilu

July 25, 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan meningkatkan tekanan besar terhadap Nikaragua, meski Presiden Daniel Ortega baru-baru ini menyatakan akan mengakhiri penyelenggaraan pemilu. Sikap Washington itu berbeda dengan pendekatannya terhadap Kuba dan Venezuela, yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi sasaran tekanan politik dan ekonomi lebih agresif.

Profesor Departemen Studi Global Universitas California, Santa Barbara, Kai Thaler, menilai perhatian Washington terhadap Nikaragua masih kalah dibanding Kuba maupun Venezuela.

"Bagi Marco Rubio, Kuba jauh lebih penting daripada Nikaragua. Selain itu, Nikaragua tidak memiliki sumber daya alam seperti Venezuela," ujar Thaler, seperti dikutip CNN International, Jumat (24/7/2026).

Beberapa hari setelah operasi AS terhadap Venezuela pada awal tahun ini, Nikaragua justru mengambil sejumlah langkah yang dianggap sebagai sinyal positif kepada Washington. Pemerintah Managua membebaskan puluhan tahanan yang sebelumnya diminta AS untuk dilepas, serta kembali memberlakukan persyaratan visa bagi warga Kuba guna membatasi arus migrasi menuju Amerika Utara. Di sisi lain, AS tetap menjatuhkan sanksi baru pada April lalu terhadap dua putra Ortega dan Wakil Presiden Rosario Murillo.

Menurut analis politik sekaligus Direktur Program Migrasi, Pengiriman Uang, dan Pembangunan di Inter-American Dialogue, Manuel Orozco, Washington sengaja menghindari intervensi langsung karena khawatir memicu gelombang migrasi maupun represi politik.

"Salah satu interpretasinya adalah bahwa stagnasi politik dalam kediktatoran Ortega-Murillo pada akhirnya akan memicu konflik internal, perlambatan ekonomi, dan kemungkinan protes sosial yang bisa dimanfaatkan AS. Namun jika campur tangan dilakukan sekarang, dampaknya terhadap transisi politik tidak dapat diprediksi," katanya.

Orozco menambahkan rezim Sandinista yang berkuasa sejak 2007 saat ini belum menghadapi tekanan ekonomi maupun gejolak sosial yang signifikan. Karena itu, intervensi langsung AS justru berpotensi memaksa proses transisi yang belum tentu berjalan sesuai harapan Washington.

Sementara itu, Ortega tetap melontarkan kritik keras terhadap AS. Pada April lalu ia menyebut sanksi terhadap anak-anaknya sebagai tindakan "gila secara mental", kemudian mengecam penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro sebagai sebuah "monstrositas". Namun, Thaler menilai sikap tersebut menunjukkan pemerintah Nikaragua merasa cukup aman karena yakin Washington belum menjadikan negaranya sebagai prioritas utama.

Orozco menilai retorika anti-AS Ortega lebih ditujukan untuk konsumsi politik domestik. "Ini simbolis bagi basis internal untuk menunjukkan bahwa mereka tetap anti-imperialis. Kenyataannya berbeda karena hampir tidak ada ekspresi solidaritas nyata terhadap Venezuela maupun Kuba dalam kebijakan luar negeri Nikaragua," ujarnya.

Kedua analis memperkirakan AS akan lebih fokus pada strategi tekanan jangka panjang menjelang pemilu yang secara teori dijadwalkan berlangsung pada November 2027, apabila Ortega tidak benar-benar membatalkan pemilu tersebut. Menurut Orozco, sanksi yang dijatuhkan Washington bertujuan mempersempit ruang gerak rezim sambil mendorong reformasi politik secara bertahap.

Di sisi lain, peluang perubahan kekuasaan dari dalam rezim juga dinilai masih kecil. Thaler mengatakan Rosario Murillo kini memegang peran politik yang semakin dominan seiring menurunnya aktivitas publik Ortega yang kini berusia 80 tahun.

Meski terdapat spekulasi mengenai kemungkinan suksesi keluarga, termasuk kepada putra mereka Laureano Ortega, para analis menilai skenario paling realistis dalam waktu dekat tetap berupa keberlanjutan pemerintahan Ortega-Murillo dengan kontrol kuat atas aparat keamanan dan institusi negara.

(fsd/fsd)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]