AS: Kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu terwujud
Senin, 7 September 2026 09:35 WIB
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan (kanan) dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) menggelar konferensi pers bersama di Istanbul, Turkiye, pada 30 Januari 2026. ANTARA/Arif Hüdaverdi Yaman - Anadolu Agency /pri. (ANTARA/Arif Hüdaverdi Yaman - Anadolu Agency /pri.)
Istanbul (ANTARA) - Menteri Energi AS Chris Wright pada Minggu mengatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu terwujud dan Amerika Serikat mungkin harus mengandalkan penghancuran kemampuan nuklir Teheran.
"Mungkin tidak ada kesepakatan nuklir," kata Wright kepada ABC News. "Mungkin caranya hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya. Kesepakatan itu mungkin menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu."
Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeklaim bahwa kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar sejak serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari, meskipun sistem pemerintahan Iran tetap bertahan di bawah pemimpin tertinggi yang baru.
Ketika ditanya apakah pemboman berkelanjutan akan menjadi strategi untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, Wright menjawab bahwa hal itu sepertinya memang diperlukan.
"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka untuk melakukannya," katanya. "Mereka membangun infrastruktur rudal besar untuk memproduksi rudal, yang sekarang Anda lihat mereka tembakkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak rudal."
Wright juga membahas arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik penting bagi pengiriman energi global. Ia mengatakan pengiriman rata-rata tujuh hari arus minyak melalui selat itu kini mencapai lebih dari 9 juta barel per hari.
Menurut Wright, angka tersebut merupakan rata-rata tujuh hari tertinggi yang pernah tercatat. Ia sebelumnya menyampaikan keterangan serupa pada awal Agustus.
Dengan memperhitungkan aliran minyak melalui jaringan pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, total arus minyak yang keluar dari kawasan tersebut mencapai sekitar 13 juta hingga 14 juta barel per hari, kata Wright.
Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Nota tersebut memuat langkah menuju penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyelesaian pembatasan ekonomi.
Sejak itu, kedua pihak saling menuduh gagal menjalankan komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman tersebut.
Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan karena AS dan Iran menyampaikan klaim yang bertolak belakang mengenai keterbukaan jalur tersebut, pihak yang mengendalikannya, serta tingkat keamanannya bagi pelayaran komersial.
Pejabat AS mengatakan jalur pelayaran internasional di selat itu telah dibersihkan dari ranjau Iran dan puluhan kapal melintas setiap hari. Teheran bersikeras selat tersebut masih berada di bawah kendali Iran dan belum terbuka atau aman dari ancaman ranjau.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026