Elephants

AS Akui Perang Iran Kuras Habis Pasokan Rudal Pencegat

September 16, 2026

Jakarta, CNN Indonesia --

Kantor Anggaran Kongres Amerika Serikat (Congressional Budget Office/CBO) melaporkan stok rudal pencegat Washington saat ini sudah sangat menipis buntut perang AS vs Iran.

CBO memperkirakan militer AS telah menggunakan setengah hingga dua pertiga persediaan rudal pencegat dalam operasi di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari Reuters, rudal-rudal pencegat dimaksud mencakup sistem pertahanan Patriot, THAAD, SM-3, dan SM-6.

Badan federal AS ini menyebut butuh waktu setidaknya lima tahun untuk mengisi kembali persediaan.

CBO menggarisbawahi bahwa produksi rudal pencegat akan menelan biaya sekitar $13,1 miliar (sekitar Rp231 triliun) dari total US$21,7 miliar (sekitar Rp384 triliun) untuk pengisian kembali amunisi. Biaya ini di luar US$7,3 miliar (sekitar Rp129 triliun) untuk mengganti rudal jelajah serangan darat.

CBO mewanti-wanti bahwa minimnya stok amunisi AS saat ini berisiko menghambat respons Pentagon jika terjadi konflik di masa depan.

Pada Senin (14/9), Pentagon alias Departemen Perang telah mengakui bahwa AS sudah kekurangan amunisi akibat perang di Timur Tengah.

Pilihan Redaksi

"Pengeluaran amunisi untuk Operasi Enduring Freedom (OEF) telah mengakibatkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pemasokan kembali amunisi," demikian laporan inspektur jenderal departemen kepada Kongres, seperti dikutip Middle East Eye (MEE).

Laporan tersebut juga mengungkap kerugian pada armada AS, termasuk pesawat tempur F-15 yang hancur, satu pesawat tempur F035 yang rusak, tujuh pesawat tanker KC-135 yang rusak, dan sekitar 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang hancur.

Lebih lanjut, "ratusan bangunan dan struktur" di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania juga disebut rusak maupun hancur akibat serangan Iran.

(blq/rds)