Elephants

Arup: PLTS bisa dibangun 1-3 tahun untuk dukung target 100 GW

September 25, 2026
PLTS merupakan salah satu teknologi yang mudah diterapkan dan dapat memberikan dampak besar dalam waktu relatif cepat. Proyek dapat diselesaikan dalam satu, dua, hingga tiga tahun

Jakarta (ANTARA) - Konsultan global di bidang pembangunan infrastruktur, Arup menilai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu teknologi yang relatif cepat diterapkan karena proyeknya dapat dibangun dalam waktu sekitar satu hingga tiga tahun, sehingga mendukung rencana pengembangan PLTS 100 gigawatt (GW) di Indonesia.

“PLTS merupakan salah satu teknologi yang mudah diterapkan dan dapat memberikan dampak besar dalam waktu relatif cepat. Proyek dapat diselesaikan dalam satu, dua, hingga tiga tahun,” kata Global Energy Leader Arup, John Ammentorp, dalam temu media di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, target pengembangan PLTS 100 GW merupakan ambisi besar karena memberikan gambaran kepada industri mengenai arah pengembangan energi di Indonesia.

Namun, realisasi target tersebut disebutnya membutuhkan kepastian untuk menarik investasi, termasuk kepastian ketersediaan lahan, tahapan pengembangan proyek, rantai pasok, dan kontrak.

Selain itu, Ammentorp menyebut kesiapan jaringan listrik menjadi faktor penting untuk menampung tambahan pembangkit. Penguatan jaringan juga harus mencakup interkoneksi antarpulau.

Baca juga: Peneliti: Krisis Hormuz picu percepatan kebijakan energi terbarukan

Baca juga: Pemanfaatan AI dinilai krusial perkuat jaringan listrik nasional

Dia menambahkan perencanaan jaringan perlu didukung data mengenai aliran energi sehingga pemerintah dan pelaku industri dapat mengetahui dampak penambahan pembangkit maupun permintaan listrik di setiap wilayah.

Menurut dia, data tersebut dapat digunakan untuk menentukan lokasi pembangkit surya, sekaligus mengidentifikasi wilayah yang paling memungkinkan untuk menempatkan beban listrik baru tanpa membebani jaringan yang ada.

Ammentorp mengatakan pemetaan aliran energi juga diperlukan untuk mengidentifikasi potensi hambatan atau bottleneck pada jaringan dan menentukan lokasi yang paling tepat untuk pengembangan jaringan maupun permintaan listrik baru.

Dengan pendekatan tersebut, kata dia, penambahan energi terbarukan dapat dilakukan secara lebih seimbang sekaligus menjaga keandalan dan keterjangkauan sistem kelistrikan.

Indonesia, kata dia, memiliki sumber daya energi surya yang kuat, selain panas bumi dan tenaga air. Kombinasi berbagai sumber energi tersebut diperlukan untuk membangun sistem kelistrikan yang stabil.

Pemerintah Indonesia menargetkan pengembangan PLTS 100 GW dalam tiga tahun ke depan sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi bersih. Program tersebut diawali dengan peluncuran 14 PLTS di enam provinsi dengan kapasitas total 5,3 GWp pada 25 Agustus 2026.

Baca juga: Proyek Vanda Solar & Battery berpotensi ciptakan 60.000 lapangan kerja

Baca juga: Pemerintah masih lakukan revisi RUPTL PLN untuk PLTS 100 GWp

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.