Liputan6.com, Jakarta - Apple disebut tengah menguji coba penggunaan chip memori buatan produsen asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), untuk lini produk utamanya seperti iPhone dan MacBook.
Langkah raksasa teknologi asal Cupertino, Amerika Serikat (AS) ini terungkap melalui laporan The Wall Street Journal (WSJ), memperlihatkan upaya Apple memperluas rantai pasok chip memori di tengah lonjakan harga komponen global.
Langkah ini sebenarnya bukan hal baru di industri PC. Produsen laptop global seperti HP dan Acer telah lebih dulu menggunakan chip memori CXMT pada perangkat yang dipasarkan di luar AS.
Sementara itu, Apple baru melakukan pembicaraan tahap awal dengan CXMT untuk memasok komponen perangkat yang dijual khusus di pasar Tiongkok.
Kendati demikian, sebagaimana dikutip dari MacRumors, Selasa (11/8/2026), Apple dikabarkan masih menunggu "lampu hijau" dari Gedung Putih sebelum melangkah lebih jauh.
Sebelumnya, laporan Financial Times bulan lalu sempat mengungkapkan bahwa Apple mulai menguji kualifikasi Dynamic Random-Access Memory (DRAM) buatan CXMT.
Namun, laporan terbaru WSJ menjadi yang pertama mengonfirmasi bahwa pengujian tersebut sudah masuk ke lini produk spesifik seperti iPhone dan MacBook.
Terbentur Regulasi Ekspor AS
Rencana kerja sama ini dibayang-bayangi ganjalan serius dari regulasi ekspor AS. Aturan ketat pemerintah AS melarang perusahaan dalam negeri melakukan transfer teknologi ke CXMT, termasuk diskusi mendalam mengenai detail teknis dan spesifikasi produk.
Pakar hukum ekspor dari firma Akin Gump, Kevin Wolf, menjelaskan bahwa Apple secara hukum tetap diperbolehkan membeli komponen siap pakai dari CXMT dan bernegosiasi soal harga. Namun, Apple dilarang keras memesan chip yang dirancang khusus (custom) sesuai kriteria teknis mereka.
Pembatasan ini menjadi dilema tersendiri. Selama ini, Apple selalu menggunakan chip memori berkonfigurasi khusus agar mampu bekerja optimal dengan prosesor buatan sendiri (Apple Silicon).
Jika terpaksa memakai chip standar, Apple harus merombak arsitektur perangkat kerasnya atau bersiap menerima performa perangkat yang kurang optimal.
Tekanan Politik dan Masalah Pasokan
Tak hanya kendala regulasi, tekanan politik di dalam negeri turut memperumit posisi Apple. Kelompok senator bipartisan AS yang dipimpin Chuck Schumer secara terbuka mendesak Apple untuk membatalkan seluruh rencana penggunaan memori buatan China.
Di sisi lain, opsi beralih ke CXMT juga belum tentu menjadi solusi instan. Kapasitas produksi CXMT dilaporkan sudah mencapai batas maksimal untuk tahun ini. Perusahaan asal Tiongkok tersebut memprioritaskan pembeli domestik seperti ByteDance, Tencent, dan Xiaomi, sehingga hampir tidak memiliki ruang bagi pelanggan internasional baru.
Dari segi harga, komponen CXMT dilaporkan berada di level yang sama--bahkan terkadang lebih mahal--dibandingkan pemain utama dunia seperti Micron, SK Hynix, dan Samsung.
Kehadiran pemasok keempat idealnya memberi nilai tambah jika memiliki stok melimpah dan harga yang lebih kompetitif. Saat ini, CXMT belum mampu menawarkan keduanya.
Isu biaya memori ini menjadi perhatian serius bagi Apple, terlebih setelah mereka menaikkan harga sebagian besar lini produknya pada Juni lalu akibat lonjakan harga komponen DRAM yang dipicu tingginya permintaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).