Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai melanda kawasan kunci biodiversitas -- area habitat spesies penting sekaligus penyangga ekosistem.
Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sekitar 60 hektare kawasan dilaporkan hangus dilalap api. Namun, insiden di kawasan hulu Jawa Timur ini baru satu potret dari ancaman karhutla yang juga mengintai kawasan-kawasan bernilai biodiversitas tinggi di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut analisis spasial yang dilakukan Madani Berkelanjutan, sepanjang Januari-Juli 2026, luas area terindikasi kuat terbakar (AIT) pada kawasan kunci biodiversitas mencapai sekitar 22,2 ribu hektare. Ini sekitar 10 persen dari total area terindikasi kuat terbakar nasional yang mencapai 200 ribu hektare.
“Secara angka, ini kecil dibandingkan 200 hektare tadi ya. Tapi masalahnya, kawasan kunci keanekaragaman hayati ini bukan kawasan hutan biasa,” kata Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem Madani Berkelanjutan, saat Dialog Media di Jakarta, pada Kamis (6/8).
“Nilai konservasinya tinggi, ada spesies endemik, sebagai penyangga ekosistem, penyangga hidrologi, bahkan melindungi hutan alam secara keseluruhan,” ujar dia melanjutkan.
Di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru misalnya, terdapat kurang lebih 1.025 jenis flora dan 158 jenis fauna. Informasi ini merujuk pada artikel ilmiah bertajuk Keanekaragaman Flora pada Berbagai Tingkat Kepadatan Tanah di Hutan Pegunungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (2017).
Beberapa flora endemik di kawasan itu antara lain tumbuhan jamuju, cemara gunung, eidelweis, serta beragam jenis anggrek dan rumput langka. Kawasan ini juga rumah bagi aneka satwa termasuk elang jawa, macan tutul jawa, lutung jawa, dan berbagai jenis ular.
Karena tanahnya yang sangat subur, kawasan ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kawasan konservasi, kawasan lindung, atau bentuk-bentuk perlindungan itu tidak seutuhnya juga bisa melindungi dari kejadian karhutla,” ucap Yosi.
Api Hanguskan Puluhan Hektare Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Hingga Kamis (6/8), upaya pemadaman karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru masih dilakukan oleh tim gabungan yang antara lain terdiri dari petugas taman nasional, Manggala Agni, Korps Marinir, serta masyarakat sekitar dan organisasi sipil.
Sejak terbakar pada awal pekan ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan, luas area terbakar mencapai 60 hektare atau sekitar 84 kali luas lapangan sepak bola. Area tersebut mencakup wilayah Kabupaten Lumajang, Probolinggo, juga Malang.
Melansir akun Instagram resmi taman nasional ini, pemadaman terkendala medan yang curam dengan kemiringan 80-90 derajat. Vegetasi seperti cemara gunung, mentigen, akasia, serta semak belukar yang mudah terbakar ditambah angin kencang, juga membuat api kian sulit dikendalikan.
Kawasan wisata itu pun ditutup sejak Senin (3/8) hingga waktu yang belum ditentukan. Meski begitu, Kepala Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Rudijanta Tjahja Nugraha mengimbau masyarakat setempat, pengunjung, dan pelaku jasa wisata agar ikut menjaga kawasan dari kebakaran.
“Dengan memperhatikan penggunaan api demi keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bersama,” ujar dia.