Liputan6.com, New Delhi - Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengusulkan pembentukan mekanisme khusus antara Malaysia dan Rusia untuk mempercepat pelaksanaan seluruh kesepakatan yang telah dicapai kedua negara.
Usulan itu disampaikan Anwar dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Vladimir Putin. Berdasarkan catatan yang dibagikan kepada media Malaysia, seperti dilaporkan kantor berita Bernama, Putin menyetujui usulan tersebut.
Dalam pertemuan yang digelar di sela-sela KTT ke-18 BRICS pada Jumat (11/9/2026), kedua pemimpin turut membahas impor minyak sawit Malaysia oleh Rusia serta upaya mempercepat terwujudnya penerbangan langsung antara kedua negara.
Pertemuan berlangsung sekitar 20 menit. Anwar, yang juga menjabat menteri keuangan Malaysia, kembali menyampaikan apresiasinya atas dukungan Rusia terhadap kerja sama energi dengan Malaysia.
Melalui unggahan di media sosial pada Sabtu (10/9) pagi, Anwar mengatakan pertemuan yang dimulai sekitar pukul 23.00 itu berlangsung dalam suasana akrab. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi kedua pemimpin untuk meninjau perkembangan hubungan Malaysia-Rusia dan membahas sejumlah langkah konkret untuk memperkuat kerja sama bilateral.
"Saya menyampaikan perlunya mempercepat upaya untuk mewujudkan penerbangan langsung antara Malaysia dan Rusia, serta skema bebas visa yang sebelumnya telah disepakati, guna meningkatkan pariwisata, perdagangan, dan investasi antara kedua negara," tutur Anwar.
Terkait kerja sama energi, Anwar mengatakan Malaysia dan Rusia memiliki kekuatan dan keahlian yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama di sektor strategis tersebut demi kepentingan bersama.
Petronas telah menjalin komunikasi dengan perusahaan energi Rusia, Rosneft, serta sejumlah perusahaan lainnya untuk mendorong kerja sama di sektor tersebut.
Sementara itu, kantor berita Rusia TASS melaporkan bahwa Putin menilai pertumbuhan perdagangan Rusia-Malaysia sebesar 12,9 persen pada tahun lalu sebagai perkembangan yang positif.
Putin juga menegaskan bahwa Rusia menaruh perhatian besar pada hubungan dengan Kuala Lumpur di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pariwisata.
"Dalam pembicaraan hari ini, kami memiliki kesempatan untuk membahas berbagai isu prioritas terkait kerja sama di seluruh bidang tersebut," ujar Putin.
Malaysia mengikuti KTT Pemimpin BRICS sebagai negara mitra BRICS, status yang disandang sejak 1 Januari 2025.
Pertemuan dengan Putin menjadi pertemuan bilateral pertama Anwar dalam rangkaian agenda tersebut.
Pada 2024, total perdagangan ASEAN-Rusia mencapai US$ 18,1 miliar, sedangkan investasi langsung Rusia di ASEAN tercatat sekitar US$ 92,97 juta.
Bagi Malaysia, Rusia merupakan mitra dagang terbesar kesembilan di antara negara-negara Eropa pada 2025, dengan total perdagangan senilai US$ 2,04 miliar.
Ekspor utama Malaysia ke Rusia meliputi produk listrik dan elektronik, mesin, peralatan dan suku cadang, serta makanan olahan. Sementara itu, impor utama Malaysia dari Rusia mencakup produk minyak bumi, mineral, bahan kimia, dan produk berbasis kimia.