Antisipasi asap karhutla, Dinkes Sumsel siagakan faskes hadapi lonjakan ISPA
Senin, 10 Agustus 2026 06:34 WIB
Kondisi udara di Jembatan Ampera, Kota Palembang, Sumatera Selatan. ANTARA/Ahmad Rafli Baiduri
Palembang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama potensi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ispa) saat puncak musim kemarau.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogahtriyah di Palembang, Minggu, mengatakan pihaknya telah meminta seluruh Dinkes kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi memburuk kualitas udara akibat karhutla.
"Kami sudah meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, memperkuat surveilans penyakit, hingga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan apabila terjadi peningkatan kasus," katanya.
Ia menjelaskan langkah tersebut dilakukan melalui surat edaran yang telah diterbitkan Dinkes Sumsel sejak 2 Juni 2026 sebagai tindak lanjut Surat Keputusan Gubernur Sumsel Nomor 235/KPTS/BPBD-SS/2026 tentang Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan.
Melalui surat edaran itu, kabupaten dan kota diminta memperkuat koordinasi lintas sektor, meningkatkan edukasi mengenai bahaya kabut asap, memantau kualitas udara, serta memastikan puskesmas, pustu, poskesdes, dan rumah sakit siap memberikan pelayanan jika terjadi peningkatan jumlah pasien.
Daerah yang terdampak karhutla juga diminta menyiapkan posko kesehatan, memastikan ketersediaan logistik, serta melaporkan perkembangan kasus ispa dan pneumonia setiap pekan sebagai bahan evaluasi.
Berdasarkan data Dinkes Sumsel menunjukkan kasus ispa sepanjang Januari hingga Juni 2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pada Januari 2026 tercatat 50.651 kasus ispa menurun menjadi 33.582 kasus pada Juni. Pada periode yang sama 2025, kasus ispa tercatat 45.131 pada Januari dan meningkat menjadi 40.067 kasus pada Juni.
Palembang tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus ispa tertinggi di Sumsel, yakni 85.032 kasus. Selanjutnya Muara Enim sebanyak 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, dan Lahat 13.523 kasus.
Meski menunjukkan tren penurunan, kondisi tersebut belum membuat Dinkes Sumsel mengurangi kewaspadaan karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.
Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat melakukan pencegahan dengan menjaga kualitas udara di dalam rumah, menghindari asap rokok dan pembakaran sampah, menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami batuk berkepanjangan, demam tinggi, atau sesak napas.
"Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat. Bila keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat ditangani lebih cepat," kata Ira.
Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026