● Riset terbaru menunjukkan Raja Ampat memiliki populasi hiu berjalan terpadat di dunia untuk seluruh genus hiu ini.
● Hiu berjalan hidup di perairan dangkal dan suka menetap, sehingga habitat dan populasinya rentan terganggu.
● Riset ini melibatkan ibu-ibu dan perempuan muda, menunjukkan peran penting masyarakat lokal dalam perlindungan hiu berjalan.
Hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) adalah salah satu spesies langka di dunia yang hanya bisa ditemukan di Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Mereka aktif beraktivitas di malam hari (nokturnal) dan bisa “berjalan” di dasar laut yang sangat dangkal dengan menggunakan dua pasang sirip dada dan sirip perutnya.
Riset kami yang baru terbit di jurnal Frontiers in Fish Science menemukan bahwa populasi mereka tersebar di paling tidak enam lokasi di sekitar gugus pulau di Selat Dampier, Raja Ampat, yakni: Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta.
Populasi terpadat kami temukan di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam, mencapai angka 2.462 individu per km². Ini adalah rekor kepadatan tertinggi yang pernah tercatat untuk seluruh genus hiu berjalan di dunia.

Sepanjang periode survei sekitar 14 bulan, tim riset berhasil mengidentifikasi 736 individu unik hiu berjalan dari 1.191 penampakan selama 64 malam.
Kaum ibu dan perempuan muda ikut terlibat melakukan survei pada malam hari. Mereka membantu kami menghasilkan data penting untuk perlindungan habitat, menunjukkan peran penting masyarakat lokal dalam menjaga hiu berjalan atau yang dikenal sebagai mandemor atau kalabia dalam bahasa daerah.
Terumbu karang sebagai tempat asuhan
Salah satu temuan paling krusial dalam riset ini adalah peran terumbu karang sebagai habitat penting untuk pertumbuhan hiu berjalan muda.
Kami menemukan sebanyak 69% individu muda menghuni ekosistem terumbu karang yang menyediakan makanan serta tempat mereka bersembunyi dari predator.
Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang menjadi penentu utama keberlanjutan generasi hiu berjalan di Raja Ampat.
Selain itu, riset kami juga menunjukkan bahwa hiu berjalan sangat setia menetap di tempat tinggalnya. Tidak ada satu pun individu yang tercatat berpindah antarpulau. Mereka hanya berpindah tidak lebih dari 500 meter dari lokasi di mana mereka pertama kali ditemukan.
Berbeda dengan hiu pada umumnya yang menjelajahi samudra luas, hiu berjalan tidak pernah ditemukan di laut dalam. Mereka sangat terikat dengan perairan pesisir dangkal yang tidak lebih dari 10 meter.
Karakter ini membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan lokal seperti pembangunan pesisir, polusi, dan degradasi habitat.
Read more: Peneliti Indonesia berhasil kembangkan metode eDNA untuk temukan keberadaan hiu berjalan endemik di Raja Ampat
Peran ibu-ibu dan kaum perempuan di balik riset
Di balik temuan penting dan keberhasilan dalam penelitian hiu berjalan ini, ada keterlibatan aktif masyarakat dari kampung yang kami survei, terutama kampung Arborek.
Para ibu dan perempuan muda langsung turun tangan malam-malam dan aktif sebagai tim survei lapangan.
Berbekal senter dan alat pencatat, mereka menyusuri perairan dangkal di sekitar kampung saat air surut di malam hari. Mereka dengan hati-hati mencari hiu berjalan dan mencatat informasi kemunculan si hiu berjalan yang ditemukan pada saat survei.

Masyarakat Arborek antusias ikut karena melihat survei ini sebagai kesempatan bagi mereka untuk belajar. Meskipun sudah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan hiu berjalan, masyarakat tidak banyak mengetahui tentang hiu ini.
Mereka hanya mengetahui hiu berjalan biasanya muncul dan mencari makan di dekat pantai ketika air laut mulai naik (air pasang). Tapi, masyarakat tidak mengetahui sebenarnya berapa banyak hiu berjalan yang tinggal di sekitar Pulau Arborek, dan di mana saja sebaran spesies langka tersebut di pulau mereka.
Masyarakat juga sebelumnya tidak menyadari bahwa hiu berjalan hanya ditemukan di perairan sekitar Raja Ampat. Karena hiu berjalan cenderung jinak dan tidak agresif, anak-anak sering memancing mereka keluar dari tempat persembunyiannya, menangkapnya, kemudian memutar-putar dan melemparkannya seperti mainan.
Namun setelah masyarakat terlibat dalam riset dan mengetahui sejumlah fakta tentang hiu berjalan, mereka mulai menyadari pentingnya menjaga ‘harta karun’ yang selama ini hidup berdampingan dengan mereka.
Lebih jauh, keterlibatan mereka dalam riset ilmiah mengubah kedekatan itu menjadi kontribusi nyata bagi upaya konservasi hiu endemik ini.

Ancaman dan peta jalan konservasi
Meskipun kepadatan populasinya tinggi, hiu berjalan di Raja Ampat menghadapi ancaman serius.
Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat, Papua Barat Daya, terus meningkat dalam lima tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah kunjungan wisatawan pada 2024 mencapai 33.277 orang.
Mayoritas wisatawan tersebut berasal dari luar negeri. Pada 2024, jumlah kunjungan turis asing ke Raja Ampat mencapai 24.934 orang. Sementara, wisatawan domestik sebanyak 8.343 orang.
Perkembangan pariwisata yang semakin masif ini mendorong maraknya pembangunan di pesisir, seperti homestay dan jembatan, berpotensi mengganggu ekosistem pesisir yang menjadi habitat penting bagi kehidupan hiu berjalan endemik Raja Ampat.
Meningkatnya jumlah wisatawan juga berdampak pada meningkatnya jumlah limbah cair dan padat. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari habitat hiu berjalan di kawasan pesisir.
Pada tahun 2023, Kementerian Kelautan dan Perikanan sebenarnya sudah mengeluarkan kebijakan perlindungan penuh terhadap spesies ini. Namun, perlindungan di atas kertas saja tentu tidak cukup untuk menjamin kelestarian hiu berjalan. Tanpa data ilmiah mengenai sebaran, populasi, dan ancaman, kebijakan konservasi akan sulit diterapkan secara tepat sasaran di lapangan.
Dengan menggunakan data dari riset kami, pengelola kawasan konservasi bisa menyusun peta jalan yang lebih jelas. Misalnya, setelah mengetahui lokasi berkembang biak dan sempitnya area jelajah spesies ini, pengelola bisa memprioritaskan perlindungan habitat pesisir serta mengatur aktivitas wisata dan pembangunan agar tidak merusak wilayah yang penting bagi kelangsungan hidup hiu berjalan.
Riset ini sekaligus menunjukkan bahwa konservasi tidak akan berhasil tanpa kolaborasi dengan masyarakat setempat.
Di tengah meningkatnya aktivitas manusia, harapan untuk kelestarian spesies unik ini terletak pada kerja sama antara ilmuwan, pengelola, dan masyarakat setempat, terutama para ibu dan perempuan Arborek yang rela turun ke laut pada malam hari, memastikan bahwa “tetangga” kecil mereka tetap berjalan dengan aman di dasar perairan dangkal untuk generasi mendatang.