Liputan6.com, Gaza - Setelah hampir tiga tahun lebih banyak menjalani hari-harinya di tenda, Osama Abu Al-Subh (12) akhirnya kembali masuk sekolah di bagian barat Kota Gaza pada Sabtu (19/9/2026). Itu menjadi kali pertama ia menginjakkan kaki di sekolah sejak 7 Oktober 2023.
Bagi Osama, yang paling penting adalah bisa kembali berkumpul dengan teman-teman sekelasnya.
Sementara bagi Gaza, pembelajaran tatap muka—salah satu bagian penting dari kehidupan normal—mulai kembali berjalan di tengah kehancuran yang melanda wilayah tersebut.
Tiga sekolah kembali dibuka pada Sabtu, yakni sebuah fasilitas pendidikan yang dikelola Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di kamp Al-Nuseirat, Gaza tengah, serta dua sekolah pemerintah di bagian barat dan timur Kota Gaza. Siswa lainnya juga mulai kembali belajar di tempat-tempat belajar sementara yang tersebar di berbagai wilayah Gaza.
Menurut Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina, sekitar 541.000 siswa di Gaza kini mengikuti program pendidikan, termasuk sekitar 100.000 siswa yang terdaftar di sekolah-sekolah UNRWA.
Kementerian menyediakan dua pilihan pembelajaran. Siswa yang dapat menjangkau sekolah atau tempat belajar yang telah ditentukan bisa mengikuti kelas tatap muka, sedangkan mereka yang belum dapat datang langsung mengikuti pembelajaran daring.
Pemerintah berencana memperluas pembelajaran tatap muka secara bertahap melalui sekitar 700 lokasi pendidikan di seluruh Gaza. Selain itu, 25 sekolah sementara diperkirakan segera tersedia.
Suad Al-Kafarna (13) berasal dari Beit Hanoun di Gaza utara. Saat ini, ia tinggal bersama keluarganya di sebuah kamp pengungsian di Al-Nuseirat.
"Saya berharap tahun ajaran baru ini menjadi awal baru bagi pendidikan dan para siswa bisa belajar di sekolah yang lebih tetap, bukan terus berpindah-pindah dari satu tempat pengungsian ke tempat belajar sementara lainnya," kata Suad seperti dilaporkan kantor berita Xinhua.
Berbeda dengan Suad, Fuad al-Jarousha mengaku sedikit kecewa karena belum bisa belajar di gedung sekolah seperti sebagian teman sebayanya.
Karena lokasi tempat tinggal dan kondisi keluarganya, Fuad hanya dapat mengikuti pelajaran di tempat belajar sementara yang berada di dekat kamp pengungsiannya.
Ayah Fuad tewas dalam serangan udara sebelumnya. Sebagai anak tertua, ia pun harus memikul tanggung jawab lebih besar di tengah keluarganya meski masih berusia 11 tahun.
"Kami harus duduk di lantai di dalam tenda karena kekurangan kursi dan perlengkapan dasar lainnya," tutur Fuad.
Menurut Fuad, suhu yang tinggi juga membuat mereka sulit berkonsentrasi saat belajar.
Meski demikian, ia tetap mengikuti pelajaran dengan harapan bisa menyelesaikan pendidikannya di tengah kondisi sulit yang dihadapi keluarganya.