Padang (ANTARA) - Akademisi Universitas Andalas (Unand) menemukan perbedaan kondisi muara Batang Kuranji di Kota Padang dan Batang Anai di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) setelah kedua sungai tersebut dilanda banjir besar pada November 2025
"Pascabencana saya melihat perkembangan yang berbeda pada kedua muara. Material yang terbawa banjir mengalami proses dan membentuk pola yang tidak sama antara kedua sungai tersebut," kata Guru Besar sekaligus Kepala Laboratorium Mekanika Fluida dan Hidrolika Teknik Sipil Unand Prof Mas Mera di Padang, Kamis.
Perbedaan tersebut terlihat dari perubahan morfologi kedua muara yang berbeda terhadap pasokan sedimen banjir dan energi gelombang laut.
Ia mengatakan berdasarkan pengamatan udara menggunakan drone pada 8 dan 25 Agustus 2026 daratan masif tersebut telah terurai dan terpecah- pecah (terfragmentasi) oleh gelombang laut menjadi gugusan pulau pasir atau timbunan dan gundukan panjang berupa pasir atau lumpur yang terbentuk di tepi laut dan muara sungai (beting pasir).
"Endapan yang sebelumnya menyatu mulai terpecah akibat aktivitas gelombang laut. Sekarang terlihat beberapa bagian pasir yang terpisah-pisah di kawasan muara," ujarnya.
Aliran Batang Kuranji terbukti masih memiliki kapasitas pembilasan alami (self-flushing) yang efektif, terutama ketika debit puncak banjir bertepatan dengan fase pasang surut air laut (ebb tide).
Kondisi tersebut membuat sedimen dasar terdorong menuju laut lepas. Karena itu, penanganan di kawasan tersebut dinilai perlu diarahkan pada pembersihan muara dan pembangunan jetty pelindung dibandingkan pengerukan mekanis di badan sungai utama bagian hilir.
Sementara itu kondisi berbeda terlihat di Muara Batang Anai yang berada di dekat Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Rekaman drone pada 28 Juli dan 26 Agustus 2026 menunjukkan sisa sedimen banjir tidak terurai menjadi pulau-pulau pasir melainkan bertahan dan membentuk tanjung atau sand spit (tanjung pasir) di sisi kanan atau utara muara yang melengkung ke arah kiri.
"Berbeda dengan kondisi di Batang Kuranji, endapan di Muara Batang Anai masih bertahan dan membentuk daratan pasir yang memanjang. Dari pengamatan yang kami lakukan, timbunan tersebut membentuk semacam tanjung pasir yang melengkung ke arah selatan muara," kata dia.
Berdasarkan histori citra satelit Google Earth pada Juli 2025, pola alami transpor sedimen pantai di kawasan tersebut bergerak dari selatan ke utara. Hal itu ditandai dengan terbentuknya beting pasir (sandbars) sepanjang 300 meter yang tumbuh dari sisi selatan muara menuju utara hingga menutupi sebagian mulut muara.
Namun setelah banjir 2025 hingga Agustus 2026, arah aliran air keruh dan sedimen Batang Anai berubah menuju selatan.
Perubahan lokal tersebut dipengaruhi interaksi antara debit banjir sungai yang besar dan geometri sand spit baru yang mengubah pembelokan arah datang gelombang (refraksi) di depan muara.
Perbedaan karakter hidro-sedimentologi kedua muara tersebut perlu menjadi pertimbangan penting dalam penyusunan kebijakan penataan ruang dan rekayasa pantai di Sumbar.
Penanganan sedimentasi tidak dapat dilakukan dengan menerapkan satu pendekatan yang sama untuk seluruh sungai di wilayah pesisir Sumbar karena karakter gelombang, arah arus pantai dengan geometri muara berbeda di setiap lokasi dan mempengaruhi pola sedimentasi yang terjadi.
Untuk muara Batang Kuranji, penanganan dapat difokuskan pada kelancaran pembilasan menuju laut lepas melalui pembukaan ambang karang muara dan pembangunan jetty pelindung.
Sementara di Muara Batang Anai pembentukan sand spit dan perubahan arah arus pantai ke selatan perlu dipantau secara berkala agar tidak memicu erosi pantai (abrasion) karena lokasinya berdekatan dengan infrastruktur vital yakni BIM.
Ia menambahkan kajian terhadap kedua muara tersebut menunjukkan pentingnya mengintegrasikan ilmu hidrolika sungai (river hydraulics) dan rekayasa proses litoral pantai (coastal engineering) dalam perencanaan mitigasi bencana banjir serta penataan ruang pesisir di Sumbar.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Akademisi Unand temukan perbedaan muara dua sungai usai dilanda banjir