Elephants

Ajaib, Ratusan Nelayan Hidup Damai Bersama Ribuan Kobra Paling Berbisa

August 28, 2026

Jakarta -

Di sebuah pulau mungil yang luasnya hanya sebesar tiga lapangan sepak bola, sebuah komunitas kecil nelayan hidup berdampingan dengan ratusan, mungkin ribuan ular paling agresif dan berbisa di Afrika. Inilah Pulau Musambwa, sekitar 10 km dari pesisir barat laut Danau Victoria di Uganda.

Di tempat ini, kobra hutan (Naja melanoleuca) bergerak bebas di dalam dan di sekitar pemukiman manusia, namun belum pernah ada satupun gigitan mematikan selama puluhan tahun mereka hidup berdampingan setiap harinya. Apa rahasia pulau ini?

Bagi sekitar 100 nelayan yang berasal dari etnis Baganda di tenggara Uganda, jawabannya adalah saling menghormati. Dikutip detikINET dari BBC, ular-ular tersebut dipuja sebagai makhluk suci. Karenanya, pulau ini sangat dilindungi dan melukai ular sangat dilarang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski nelayan mengaku pada umumnya takut ular, mereka sama sekali tak khawatir dengan kobra di Musambwa. Tampaknya populasi kobra itu memahami manusia bukan ancaman sehingga tak ada permusuhan antara keduanya. Menebang pohon atau makan telur dari ribuan burung yang berkembang biak di pulau ini juga dianggap tabu.

Kobra hutan adalah spesies 'kobra sejati' terbesar Afrika. Panjangnya bisa lebih dari 3 meter dengan rata-rata ukurannya 1,7 meter. Nama melanoleuca berarti 'hitam dan putih'.

Meski warnanya bisa bervariasi, biasanya terdapat corak belang putih pada tubuhnya, sementara sisik punggungnya yang berwarna hitam tampak halus dan mengilap. Seperti kebanyakan kobra, kepala kobra hutan berukuran besar, lebar, serta pipih.

Di daerah penyebarannya yang lain di Afrika, kobra hutan menyergap mamalia kecil, reptil, amfibi, dan ikan. Namun di Musambwa, mangsanya adalah telur burung air, anak burung, burung dewasa, dan kemungkinan juga ikan serta ular lainnya.

Pulau tersebut merupakan rumah koloni burung camar berkepala abu-abu (grey-headed gulls) terbesar dunia, yang bersarang di tiap bebatuan dan tebing yang mengelilingi pulau.

Beberapa spesies burung pecuk, bangau, kuntul, dan raja udang juga bersarang di sini, memanfaatkan melimpahnya stok ikan Danau Victoria. Semuanya merupakan mangsa bagi kobra. Melimpahnya makanan ini mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa mereka tidak agresif.

Satu-satunya kasus gigitan pada manusia yang pernah tercatat diyakini sebagai ketidaksengajaan dan hanya 'gigitan kering' (tanpa bisa). Kobra, seperti banyak ular berbisa lain, mempertahankan diri dengan serangan cepat tanpa melepas bisa karena memproduksi bisa butuh energi besar.

Nelayan juga meyakini Musambwa itu spesial dan suci karena mereka mematuhi aturan ketat berpantang seks di pulau tersebut. Banyak diberitakan bahwa wanita tidak diizinkan masuk ke pulau ini.

Meski hal ini tidak sepenuhnya benar karena beberapa pedagang wanita dan turis diperbolehkan berkunjung, aturan dilarang berhubungan seks benar-benar ditegakkan. Selain itu, wanita yang sedang menstruasi juga dilarang berkunjung karena dianggap bisa membawa nasib buruk.

Nelayan yang rata-rata berusia 20-an dan 30-an tahun ini memiliki keluarga di daratan utama yang jarak tempuhnya sekitar 1,5 jam dengan perahu. Mereka menjenguknya beberapa minggu sekali.

Selain satwa liar dan habitat aslinya dihargai serta dilindungi penduduk setempat, Pulau Musambwa juga bagian dari Lahan Basah Kepentingan Internasional sehingga berada di bawah perlindungan internasional yang ketat.

(fyk/afr)

TAGS

LIHAT LAINNYA