Sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas kami juga mencakup energi hijau, khususnya transformasi menuju industri berbasis tenaga surya, dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2-3 tahun
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia memprioritaskan transformasi industri yang lebih hijau dengan basis tenaga surya.
“Sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas kami juga mencakup energi hijau, khususnya transformasi menuju industri berbasis tenaga surya, dengan target kapasitas sekitar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2-3 tahun,” kata Menko Airlangga di Jakarta, Kamis.
Adapun Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit listrik energi surya hingga 100 GW sebagai langkah strategis pemerintah guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung target ambisius 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun ke depan.
Pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sendiri telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target 17,1 GW.
“Menurut saya, prioritas tahun ini adalah program dedieselisasi (penggantian pembangkit listrik tenaga diesel), yaitu mengubah sistem pembangkit listrik di pulau-pulau kecil dari tenaga diesel ke tenaga surya. Ini adalah kebutuhan nyata bagi Indonesia,” kata Airlangga.
Baca juga: Airlangga: Indikator kategori desil berbasis survei ekonomi dan DTSEN
Baca juga: Airlangga sebut lokasi PFII di Bali masih dalam tahap evaluasi
Untuk mewujudkan target tersebut, ia mengatakan Indonesia memerlukan kerja sama dari para pemangku kepentingan terkait, termasuk kemitraan strategis dengan negara-negara sahabat seperti Jerman.
“Hal ini berarti dibutuhkan banyak teknologi serta barang modal, dan peluang ini terbuka bagi partisipasi Jerman, mengingat transformasi ini baru saja diumumkan oleh Presiden beberapa waktu yang lalu,” ujarnya.
Selain itu, Airlangga mengatakan Jerman juga merupakan mitra strategis dari Just Energy Transition Partnership (JETP).
Indonesia, kata dia, mendapatkan komitmen pendanaan internasional JETP sebesar 21,4 miliar dolar AS (Rp356–359 triliun) untuk mendukung transisi energi bersih dan dekarbonisasi.
“Indonesia memiliki alokasi dana sekitar 21 miliar dolar AS lebih, namun perkembangannya agak lambat. Sejauh ini baru sekitar 4 miliar dolar AS yang telah dimanfaatkan. Jadi, kita perlu bergerak lebih cepat,” kata Airlangga.
Sementara itu, Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan mengatakan hal ini senada dengan komitmen kedua negara untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
“Salah satu bidang yang memungkinkan hal ini adalah energi terbarukan, di mana perusahaan-perusahaan Jerman membawa serta pengalaman dan teknologi yang luas,” kata Menteri Radovan.
“Kami juga memiliki berbagai proyek yang melibatkan kolaborasi antara kalangan akademisi, sektor publik, dan sektor swasta. Jadi, saya rasa ini adalah langkah yang tepat untuk bersama-sama mengembangkan solusi yang lebih berkelanjutan demi masa depan,” imbuhnya.
Baca juga: Indonesia-Jerman perkuat kerja sama pengembangan EBT dan vokasi
Baca juga: Pemerintah menerbitkan pedoman kredit perempuan bunga flat 8 persen
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.