Elephants

Abu vulkanik, Kemenkes: 3,3 juta lansia berisiko terdampak

September 7, 2026

Abu vulkanik, Kemenkes: 3,3 juta lansia berisiko terdampak

Senin, 7 September 2026 09:36 WIB

Image Print

Warga mengenakan masker di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Pembagian masker secara swadaya tersebut bertujuan untuk melindungi pernapasan warga dan nelayan setempat dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan total populasi lansia yang berisiko mengalami ancaman kesehatan dari erupsi Gunung Anak Krakatau mencapai sekitar 3,3 juta jiwa, yang menunjukkan besarnya beban kesehatan yang harus diantisipasi.

"Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Kandungan silika tajam membuatnya berbahaya bagi paru-paru, mata, dan kulit. Bila bercampur dengan air, abu dapat mengeras seperti semen sehingga salah cara membersihkan justru menambah risiko," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin.

Bagi lansia, lanjutnya, paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Gangguan pernapasan seperti ISPA, sesak napas, dan eksaserbasi asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) sering terjadi. Risiko kardiovaskular meningkat dengan tekanan darah yang naik dan potensi serangan jantung atau stroke.

Partikel halusnya mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan, memicu peradangan, dan memperburuk penyakit kronis. Hal ini berbeda dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih banyak mengandung karbon, gas beracun, dan partikel organik.

Abu vulkanik menimbulkan iritasi fisik yang cepat, sementara asap karhutla berdampak lebih lama dan kronis terhadap kesehatan pernapasan dan kardiovaskular.

"Mata menjadi perih, berair, dan mudah teriritasi, sementara kulit mengalami gatal dan peradangan. Tidak jarang lansia juga mengalami kebingungan atau penurunan konsentrasi akibat paparan berkepanjangan. Trauma evakuasi mendadak dan isolasi sosial menambah beban psikologis berupa stres dan depresi," katanya.

Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau selalu menjadi ancaman kesehatan yang nyata, terutama bagi kelompok lansia.

Sejarah mencatat bahwa gunung ini beberapa kali meletus dalam dua dekade terakhir, dengan peristiwa besar pada tahun 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, serta letusan pada September 2026 yang menyebarkan abu hingga Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Barat.

Setiap kali terjadi erupsi, dampak kesehatan masyarakat tidak bisa dihindari, dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan.

Imran menyebut mitigasi harus dilakukan secara menyeluruh. Masyarakat perlu menggunakan masker N95 atau KN95 serta kacamata pelindung, menutup celah rumah agar abu tidak masuk, dan membersihkan abu dengan cara membasahinya terlebih dahulu.

Keluarga dan caregiver harus memastikan obat rutin lansia tersedia, memantau tanda bahaya, dan memberikan dukungan psikososial. Fasilitas kesehatan di daerah terdampak wajib menyiapkan oksigen konsentrator, obat ISPA, salep kulit, dan obat tetes mata, serta menyiagakan tenaga kesehatan untuk evakuasi darurat.

Kemudian, katanya, membersihkan abu vulkanik di rumah harus dilakukan dengan cara yang penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Sementara itu, Jajaran Kepolisian Resor Kota Tangerang, Banten, membagikan masker kepada para pengendara yang melintas di sejumlah titik ruas di Jalan Baru Pemda, Lampu Merah Cikupa, untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat mengantisipasi paparan abu vulkanik, khususnya warga yang beraktivitas di luar ruangan," kata Kepala Polresta Tangerang Komisaris Besar Polisi Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah di Tangerang, Senin.

Ia mengatakan pembagian masker ini juga merupakan bentuk kepedulian kepolisian terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat.

"Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Ini merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik," ujarnya.

Indra menambahkan jajaran Polresta Tangerang akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait. Hal tersebut guna memastikan langkah antisipasi dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

"Kami juga mengajak masyarakat untuk mengakses informasi resmi dari pemerintah dan instansi berwenang," katanya.

Sebelumnya, Kepala Pos Pemantau Gunung Api Anak Krakatau Deni Mardiono mengatakan hujan abu vulkanik dengan intensitas tipis imbas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai melanda daratan pesisir Banten.

Sebaran material vulkanik tersebut terbawa oleh embusan angin yang bergerak mengarah ke wilayah timur atau pesisir Banten.

"Gunung Anak Krakatau hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat atau wisatawan tidak boleh mendekat dalam radius bahaya tiga kilometer dari kawah," katanya.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenkes: 3,3 juta lansia berisiko terdampak abu erupsi Anak Krakatau

Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.