ILUSTRASI. Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo (KONTAN/Ferry Saputra)
Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis industri asuransi jiwa bisa mempertahankan tren pertumbuhan premi hingga akhir tahun ini.
Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan rasa optimisme itu muncul dari kondisi kinerja industri asuransi jiwa yang mampu tumbuh dan menunjukkan ketahanan di tengah tantangan geopolitik dan lainnya.
"Tentunya kami optimistis. Industri cukup resilien menghadapi berbagai tantangan yang ada. Dalam kondisi itu, kami bisa tumbuh. Jadi, kami makin confident ke depannya pertumbuhan bisa terus dijaga," ujarnya saat ditemui seusai konferensi pers AAJI di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (31/8/2026).
Baca Juga: Likuiditas Perbankan Tak Merata, Begini Penjelasan BI
Asal tahu saja, total pendapatan premi industri asuransi jiwa mencapai Rp 94,75 triliun pada semester I-2026. Nilainya tumbuh 8,2%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu.
Lebih lanjut, Albertus menerangkan saat ini fokus industri bukan hanya bertumbuh secara kuantitas saja, melainkan kualitasnya juga harus lebih baik. Dia tak memungkiri bahwa industri sejauh ini banyak masuk segmen menengah ke atas. Dengan demikian, segmen menengah ke bawah diharapkan juga bisa disasar perusahaan asuransi jiwa ke depannya.
"Kami mau encourage juga, supaya jangan melupakan segmen menengah ke bawah," tuturnya.
Untuk menyasar segmen menengah ke bawah, Albertus mendorong asuransi jiwa untuk mengoptimalkan melalui teknologi atau digitalisasi. Alhasil, penggunaan teknologi yang optimal diharapkan mampu untuk mendorong penetrasi segmen menengah ke bawah.
Baca Juga: DPLK Avrist Masih Kaji Investasi ETF Emas, NAV Jadi Salah Satu Pertimbangan
"Misalnya, ada salah satu perusahaan asuransi jiwa yang menjadi anggota kami itu memiliki teknologi dan ekosistem yang bagus. Mereka bisa menjual polis sampai jutaan per bulan. Upaya itu yang diharapkan kami agar bisa menjangkau segmen menengah ke bawah," katanya.
Albertus meyakini bahwa segmen menengah ke bawah juga membutuhkan perlindungan asuransi yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Dia mencontohkan apabila ada pengemudi ojek online yang sakit atau tidak bisa bekerja sehingga tak ada pemasukan, tentu diharapkan mereka bisa tetap menjalankan kehidupan dengan baik melalui asuransi.
"Contoh lainnya adalah UMKM yang usahanya kecil-kecilan, kalau sakit sehingga bisnis mereka terhenti, mereka tetap bisa membayar cicilan UMKM-nya. Itu yang sedang dipikirkan kami supaya pertumbuhan itu tidak hanya secara kuantitas, tetapi juga kualitas dan menjangkau masyarakat yang lebih luas," ucap Albertus.
Sebagai informasi, data AAJI mencatat, industri asuransi jiwa membayarkan klaim atau manfaat sebesar Rp 75,57 triliun pada semester I-2026. Nilainya meningkat 4,3%, jika dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya. Adapun total klaim tersebut diberikan kepada 5,01 juta orang penerima manfaat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag