Jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat, dampak tersebut bisa memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak dalam jangka panjang.
Berikut 9 dampak psikologis anak dari orang tua yang bercerai yang penting diketahui.
Baca Juga: Bikin Bangga, Sekolah Rakyat Lahirkan Ratusan Prestasi Tingkat Internasional dan Nasional dalam Setahun
Dampak Psikologis Anak dari Orang Tua yang Bercerai
1. Rasa Cemas dan Sedih yang Berkepanjangan
Anak yang orang tuanya bercerai lebih rentan mengalami kecemasan dan kesedihan mendalam. Ini wajar, karena tiba-tiba dunia yang mereka kenal berubah drastis dan mereka nggak selalu paham kenapa.
2. Merasa Bersalah, Seolah Dirinya Penyebabnya
Ini salah satu dampak yang paling sering terjadi, terutama pada anak usia dini. Mereka kadang diam-diam berpikir, "Apa ini gara-gara aku nakal?" padahal tentu saja bukan. Perasaan bersalah ini bisa mengendap lama kalau tidak diluruskan orang tua.
3. Kehilangan Rasa Percaya Diri
Karena perceraian nggak dialami semua teman sebayanya, anak bisa merasa berbeda dari teman-temannya. Ada semacam perasaan jadi kaum minoritas di lingkungan sosialnya, yang bikin dia insecure atau merasa nggak dimengerti orang lain.
Baca Juga: Jangan Hanya Andalkan Jakarta, Pemprov Banten Harus Sediakan Transportasi ke Bandara
4. Perubahan Perilaku yang Ekstrem
Setiap anak bereaksi beda-beda. Ada yang jadi pendiam dan suka melamun, ada juga yang justru jadi lebih agresif, gampang marah, ingin memukul, atau melempar barang.
Perilaku ini sebenarnya adalah cara mereka minta perhatian karena belum bisa mengungkapkan perasaannya lewat kata-kata.
5. Sulit Percaya pada Orang Lain
Ini dampak jangka panjang yang cukup serius adalah anak jadi susah dekat dan percaya sama orang lain. Logikanya sederhana, kalau orang paling dekat dengannya saja bisa pergi, kenapa dia harus percaya orang baru.
6. Prestasi Sekolah Menurun
Pikiran anak yang penuh dengan pertanyaan dan kebingungan bikin dia susah fokus belajar. Nggak jarang nilai sekolah ikut turun karena energinya lebih banyak terserap untuk memproses emosi ketimbang pelajaran.
7. Risiko Lebih Tinggi untuk Masalah Kesehatan Mental
Ini yang paling perlu diwaspadai orang tua yaitu anak dari keluarga bercerai punya risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi dan perilaku, bahkan dalam kasus yang lebih berat bisa sampai ke pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
8. Lebih Berat Dirasakan Anak Usia Remaja
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr. Nurul Hartini, menjelaskan bahwa remaja yang orang tuanya bercerai kehilangan sosok orang tua sebagai "manajer keluarga" dan teman diskusi dalam mengambil keputusan penting, padahal masa remaja itu justru masa krusial pembentukan jati diri.
Karena itu, remaja lebih rentan mengalami gangguan psikologis dan penyimpangan perilaku dibanding anak usia lebih muda.
9. Kehilangan Rasa Aman Secara Emosional
Perceraian menghancurkan struktur emosional dan rasa aman yang selama ini dikenal anak sejak kecil. Ini bukan cuma soal orang tua nggak tinggal serumah lagi, tapi soal fondasi kepercayaan anak terhadap dunia di sekitarnya yang ikut goyah.
FAQ
1. Apakah perceraian orang tua selalu berdampak buruk bagi anak?
Tidak selalu. Dampaknya berbeda pada setiap anak dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, kondisi keluarga, cara orang tua berkomunikasi, serta dukungan emosional yang diterima setelah perceraian.
2. Mengapa anak sering merasa bersalah saat orang tuanya bercerai?
Anak, terutama yang masih kecil, belum memahami penyebab perceraian secara utuh. Akibatnya, mereka bisa mengira bahwa perceraian terjadi karena kesalahan atau perilaku mereka, padahal anggapan tersebut tidak benar.
3. Apa tanda anak mengalami tekanan psikologis setelah perceraian orang tua?
Beberapa tandanya antara lain sering terlihat sedih, mudah marah, menarik diri dari lingkungan, sulit berkonsentrasi, prestasi sekolah menurun, hingga perubahan perilaku yang tidak biasa.
4. Bagaimana cara membantu anak menghadapi perceraian orang tua?
Orang tua perlu memberikan penjelasan yang jujur sesuai usia anak, memastikan anak tetap merasa dicintai oleh kedua orang tuanya, menjaga komunikasi yang baik, dan mencari bantuan profesional jika diperlukan.
5. Mengapa remaja lebih rentan terdampak perceraian orang tua?
Masa remaja merupakan periode pembentukan jati diri. Kehilangan figur orang tua sebagai tempat berdiskusi dan mendapatkan dukungan dapat membuat remaja lebih rentan mengalami stres, gangguan emosi, maupun masalah perilaku.
Kesimpulan
Perceraian orang tua dapat memberikan dampak psikologis yang beragam pada anak, mulai dari rasa cemas, sedih, kehilangan kepercayaan diri, hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental. Namun, dampak tersebut bukan berarti tidak bisa diminimalkan.
Dukungan emosional, komunikasi yang terbuka, serta hubungan yang tetap hangat dengan kedua orang tua dapat membantu anak melewati masa sulit dan beradaptasi dengan kondisi keluarga yang baru.
Jika perubahan perilaku anak berlangsung lama atau semakin berat, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan pendampingan yang sesuai.