Jakarta -
Pulau Jeju di Korea Selatan menyimpan tradisi unik yang masih bertahan hingga kini. Di tengah laut biru yang mengelilingi pulau tersebut, para haenyeo atau penyelam perempuan setiap hari turun ke dasar laut untuk mencari hasil tangkapan tanpa bantuan tabung oksigen.
Kemampuan mereka telah diwariskan selama ratusan tahun dan menjadi salah satu ikon budaya Korea Selatan. Tak hanya dikenal karena ketangguhannya, haenyeo juga diakui dunia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut fakta-fakta menarik tentang haenyeo yang membuat banyak wisatawan penasaran:
Menyelam hingga 18 Meter Tanpa Tabung Oksigen
Kemampuan haenyeo menyelam benar-benar luar biasa. Mereka dapat menyelam hingga kedalaman sekitar 10-18 meter tanpa menggunakan tabung oksigen untuk mencari abalon, gurita, bulu babi, kerang, hingga rumput laut.
Dalam sekali menyelam, mereka biasanya berada di bawah air selama sekitar satu hingga dua menit sebelum kembali ke permukaan untuk mengambil napas.
Aktivitas tersebut dilakukan berulang kali selama beberapa jam. Keahlian itu diperoleh melalui latihan sejak usia muda dan pengalaman bertahun-tahun. Mereka juga dikenal tetap bekerja dalam berbagai kondisi cuaca, termasuk saat musim dingin. Sebelum wetsuit modern diperkenalkan pada 1970-an, para haenyeo bahkan hanya mengenakan pakaian katun sederhana saat menyelam di laut yang dingin.
Punya Suara Khas Saat Muncul ke Permukaan
Saat muncul ke permukaan, haenyeo mengeluarkan suara siulan yang khas. Teknik pernapasan ini dikenal dengan nama sumbisori. Suara tersebut dihasilkan ketika mereka mengembuskan karbon dioksida sekaligus menarik napas dengan cepat sebelum kembali menyelam.
Selain membantu mengatur ritme pernapasan, sumbisori juga menjadi cara para penyelam saling mengetahui posisi satu sama lain saat bekerja di laut.
Tradisi yang Diakui UNESCO
Ketangguhan haenyeo tidak hanya dikagumi masyarakat Korea Selatan. Pada 2016, UNESCO menetapkan budaya haenyeo sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
UNESCO menilai tradisi ini bukan sekadar keterampilan menyelam. Haenyeo juga mewariskan pengetahuan tentang laut, cara memanen hasil laut secara berkelanjutan, serta nilai gotong royong dan solidaritas dalam komunitas.
Pengakuan tersebut membuat haenyeo semakin dikenal wisatawan dunia dan menjadi salah satu daya tarik budaya utama Pulau Jeju.
Pernah Menjadi Tulang Punggung Perekonomian Jeju
Di balik tradisinya yang panjang, haenyeo memiliki sejarah yang menarik. Pada abad ke-17 hingga ke-18, pemerintah mengenakan pajak yang tinggi kepada nelayan laki-laki di Jeju.
Sementara itu, hasil tangkapan perempuan penyelam tidak dibebani pajak yang sama. Kondisi tersebut membuat semakin banyak perempuan mengambil alih pekerjaan mencari hasil laut.
Seiring waktu, para haenyeo justru menjadi pencari nafkah utama bagi keluarga mereka. Peran besar perempuan dalam ekonomi rumah tangga membuat masyarakat Jeju dikenal memiliki budaya yang lebih matrifokal dibandingkan wilayah Korea lainnya.
Terancam Punah karena Minim Regenerasi
Meski telah menjadi simbol Jeju, keberadaan haenyeo kini menghadapi tantangan besar. Sebagian besar penyelam aktif saat ini telah berusia di atas 70 tahun, bahkan ada yang masih menyelam hingga usia 80 dan 90 tahun.
Di sisi lain, semakin sedikit generasi muda yang tertarik meneruskan profesi tersebut. Pilihan pekerjaan yang lebih beragam membuat banyak anak muda meninggalkan tradisi menyelam.
Perubahan iklim juga memperburuk keadaan. Meningkatnya suhu laut memengaruhi ekosistem bawah laut dan mengurangi hasil tangkapan para haenyeo.
Jika regenerasi terus menurun, jumlah penyelam perempuan legendaris ini diperkirakan akan terus menyusut pada masa mendatang. Haenyeo bukan sekadar penyelam, tetapi simbol ketangguhan perempuan, warisan budaya, dan hubungan harmonis manusia dengan laut. Jika berkesempatan mengunjungi Pulau Jeju, saksikan langsung aksi para haenyeo yang telah bertahan ratusan tahun ini.