Liputan6.com, Jakarta - Gempa susulan yang terus terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya mengancam keselamatan fisik warga, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat terdampak.
Gempa yang berulang membuat sebagian warga terus berada dalam kondisi waspada karena khawatir guncangan kembali terjadi. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, mudah terkejut, sulit tidur, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Psikolog klinis Diah Nurayu mengatakan seseorang yang pernah mengalami gempa besar cenderung lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya di lingkungan sekitarnya, terutama ketika belum merasa aman.
"Setelah mengalami gempa yang besar otak itu akan menjadi lebih sensitif terhadap tanda-tanda bahaya, karena memang lingkungannya dirasa belum aman. Maka dari itu, seseorang yang berada di lokasi bencana atau mungkin orang yang mengalami bencana biasanya lebih mudah merasa terkejut, cemas, sulit tidur, mungkin juga mengalami kesulitan fokus dan akhirnya terus-menerus memantau keadaan lingkungan sekitar," ucap Diah saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (19/8/2026).
Kondisi tersebut semakin berat ketika gempa susulan terus terjadi. Menurut Diah, frekuensi gempa dan ketidakpastian mengenai kapan guncangan berikutnya terjadi dapat membuat korban sulit mendapatkan kesempatan untuk benar-benar merasa aman.
“Jadi bukan hanya gempa, besarnya gempa yang berpengaruh, tapi juga kita bisa lihat dari frekuensi gempanya, ketidakpastian yang sedang dihadapi dan juga pengalaman sebelumnya saat gempa besar terjadi,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia (UI) itu.
3.002 Gempa Susulan
Berdasarkan hasil monitoring Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga 19 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 3.002 aktivitas gempa bumi susulan di NTT.
Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara 1,1 hingga 6,2. BMKG menyebut aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses pelepasan energi setelah gempa utama bermagnitudo 7,7.
BMKG juga memprediksi aktivitas gempa susulan masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
Situasi tersebut membuat masyarakat terdampak harus menghadapi ketidakpastian yang dapat memengaruhi kondisi psikologis mereka.