Dalam gugatan setebal 233 halaman yang diajukan pada 2023 memuat empat tuduhan utama terhadap Meta. Perusahaan dituding mengeksploitasi kerentanan psikologis anak dan remaja untuk meningkatkan penggunaan platform dan pendapatan iklan.
Meta membantah tuduhan tersebut. Pengacara utama Meta, Paul Schmidt, mengatakan perusahaan menyadari sebagian pengguna dapat mengalami masalah dalam menggunakan media sosial dan telah berupaya menyediakan fitur untuk membantu pengguna.
"Tidak dapat disangkal bahwa Meta telah mengakui adanya kesulitan yang mungkin dihadapi orang-orang terkait penggunaan media sosial mereka, sekaligus berupaya menghadirkan berbagai sarana untuk membantu mereka," katanya, dikutip dari The Conversation, Senin (24/8/2026).
Empat Tuduhan Utama terhadap Meta
Tuduhan pertama menyangkut desain Facebook dan Instagram yang dinilai dapat mendorong penggunaan berlebihan. Negara bagian menyoroti fitur seperti infinite scroll, autoplay, notifikasi, filter gambar, hingga jumlah likes.
Dokumen internal dalam gugatan disebut menunjukkan Meta mempelajari perkembangan otak remaja. Penelitian itu diduga digunakan untuk memahami kontrol impuls dan respons terhadap penghargaan guna meningkatkan durasi penggunaan platform.
Tuduhan kedua berkaitan dengan dampak Instagram terhadap kesejahteraan remaja. Meta dituding menyembunyikan penelitian internal yang mengaitkan Instagram dengan depresi, kecemasan, masalah citra tubuh, hingga tindakan menyakiti diri.
Tuduhan ketiga menyangkut privasi anak. Meta dinilai melanggar Children's Online Privacy Protection Act karena diduga mengumpulkan data pengguna di bawah 13 tahun tanpa persetujuan orang tua yang terverifikasi.
Sementara itu, tuduhan keempat berkaitan dengan aturan perlindungan konsumen di masing-masing negara bagian. Meta disebut menghadapi puluhan tuntutan berdasarkan aturan perdagangan dan pencegahan penipuan yang berlaku di berbagai wilayah AS.
Meta Bisa Hadapi Denda Rp3.540 Triliun
Jika Meta kalah, perusahaan berpotensi menghadapi sanksi finansial dalam jumlah sangat besar. Jaksa negara bagian memperkirakan angka yang lebih realistis berada di kisaran US$200 miliar atau sekitar Rp3.540 triliun.
Angka tersebut mendekati nilai penyelesaian perkara industri rokok di AS pada 1998 yang mencapai US$206 miliar atau sekitar Rp3.646 triliun. Namun, Meta sebelumnya juga memperingatkan potensi kerugian dalam kasus ini dapat mencapai US$1,4 triliun atau sekitar Rp24.780 triliun.
Facebook dan Instagram Bisa Dirombak
Dampak perkara ini tidak hanya berpotensi berupa denda. Negara bagian juga meminta pengadilan memerintahkan Meta melakukan perubahan terhadap desain produknya.
Salah satu tuntutan yang diajukan adalah menghilangkan fitur tertentu yang dianggap mendorong penggunaan berlebihan pada pengguna muda. Negara bagian juga ingin Meta menghentikan klaim mengenai keamanan platform yang dinilai menyesatkan.
Persoalannya, perubahan tersebut berpotensi tidak berhenti di AS. Jika Meta diwajibkan menerapkan desain yang lebih aman secara menyeluruh, Facebook dan Instagram di negara lain kemungkinan ikut terdampak.
Menerapkan sistem yang berbeda antara pengguna AS dan negara lain juga dinilai tidak sederhana secara teknis maupun ekonomi. Selain itu, mempertahankan desain lama di luar AS dapat membuka peluang munculnya gugatan serupa di negara lain.
Dunia Bisa Mengikuti Kasus Meta
Kasus ini menyoroti perdebatan soal tanggung jawab platform digital terhadap penggunanya. Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian adalah digital duty of care, yakni kewajiban merancang produk dengan mempertimbangkan keselamatan pengguna.
Berbeda dari aturan yang hanya muncul setelah masalah terjadi, konsep tersebut mendorong perusahaan memasukkan aspek keselamatan sejak tahap perancangan produk. Australia menjadi salah satu negara yang telah mengambil langkah menuju pendekatan tersebut.
Hasil persidangan Meta di Oakland tidak hanya penting bagi Facebook dan Instagram. Negara lain juga akan mengamati kasus ini untuk melihat sejauh mana perusahaan teknologi harus bertanggung jawab atas dampak produknya terhadap anak dan remaja.