REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat terdapat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari total kasus itu, sekitar 63.700 kasus di antaranya dialami anak berusia di bawah lima tahun atau balita.
Anggota Komisi IX DPR, Vita Ervina, mendesak pemerintah memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kabut asap, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan. Menurut dia, angka tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat sudah membutuhkan penanganan segera, bukan sekadar imbauan dan koordinasi antarlembaga.
“Keberhasilan penanganan harus diukur dari kemampuan menekan angka kasus, melindungi kelompok rentan, dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, bukan dari banyaknya rapat koordinasi,” kata dia melalui keterangannya, Sabtu (17/10/2026).
Vita mengungkapkan, kondisi kualitas udara di wilayah terdampak karhutla juga terus memburuk. Ia mencontohkan, konsentrasi PM2.5 di Palangka Raya mencapai 844,6 mikrogram per meter kubik pada beberapa hari lalu. Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi juga dilaporkan berada pada kategori buruk hingga berbahaya.
Paparan PM2.5 itu dinilai menjadi perhatian karena partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, ia meminta kebijakan belajar dan bekerja dari rumah serta pembatasan aktivitas luar ruangan diterapkan berdasarkan kondisi kualitas udara dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Kita tidak bisa menggantungkan harapan pada hujan. Pemerintah harus menyiapkan perlindungan yang berkelanjutan, bukan sekadar menunggu perubahan cuaca,” kata dia.
Ia menambahkan, pemerintah pusat dan daerah perlu memastikan kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi peningkatan kasus ISPA. Ketersediaan obat-obatan, oksigen, nebulizer, tenaga kesehatan, dan ruang perawatan anak perlu disesuaikan dengan perkembangan kasus harian.
Vita juga meminta pemerintah menyediakan ruang dengan udara bersih di puskesmas, sekolah, dan fasilitas publik. Perlindungan bagi balita, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga dengan penyakit paru-paru dan jantung juga perlu diperkuat.
Ia mengapresiasi pengerahan 2.106 tenaga kesehatan dan distribusi 2,8 juta masker oleh pemerintah. Namun, langkah tersebut perlu disertai sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data titik panas, kualitas udara, arah angin, persebaran asap, dan kasus ISPA harian.